Headlines News :
Tampilkan postingan dengan label Wong Sragen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wong Sragen. Tampilkan semua postingan

HARINI : Menapaki Sukses dari Terjalnya Panjat Tebing

Bagi anda penyuka olahraga panjat tebing atau pemerhati olahraga di Sragen, tentu sudah tidak asing lagi dengan Harini, atlit panjang tebing nasional asli wong Sragen. Tidak heran, segudang prestasi telah ia torehkan untuk mengharumkan nama Sragen. Diantaranya secara fenomenal meraih 2 medali emas yang merupakan pertama kali bagi cabang Panjat Tebing Jateng di PON.XVII/2008 serta meraih  medali emas dan perak yang mengharumkan nama Sragen pada PORPROV Jawa Tengah XIII. Ingin tahu lebih jauh sosok atlet perempuan berprestasi di dinding terjal panjat tebing ini? simak kisahnya DIBAWAH INI

Jatuh Cinta Pertama pada Panjat Tebing
Bertemu Harini pertama kali, pasti tidak menyangka gadis manis semampai inilah yang kerapkali berhasil menaklukan rintangan di cabang olahraga panjat tebing. Perawakannya langsing, namun terlihat kokoh dan kuat. Terbukti, berbagai kejuaran panjat tebing mampu dimenangkannya. Dengan pembawaannya yang santai dan ramah, ia menceritakan dari awal ketertarikannya pada olahraga ekstrem yang lebih banyak di minati oleh kaum pria ini.

Rini, demikian ia biasa dipanggil, menuturkan awal mula ia berkenalan dengan Panjat Tebing, saat masih duduk di kelas 2 SMA. “Saat itu saya bergabung dengan WAKPAS (Wahana Kreatifitas Pencinta Alam Sragen), disanalah saya mulai tertarik dengan panjat tebing” tuturnya. Ia mengaku bergabung dengan panjat tebing murni karena minatnya sendiri, sebab ia bukan berasal dari keluarga yang yang bergelut pada bidang panjat tebing atau keluarga atlet.  

Sewaktu bergabung dengan wakpas, Rini kerap mengikuti berbagai kegiatan panjat tebing di sekitar Sragen. Ternyata bakatnya menaklukan dinding terjal mendapat perhatian dari salah satu pengurus olahraga panjat tebing. Ia pun mulai ditawari untuk mengikuti berbagai kejuaraan baik yang bersifat lokal maupun regional. Gadis kelahiran 26 tahun lalu ini pun mulai memantapkan karirnya pada panjat tebing, saat melanjutkan pendidikannya di AKAKOM Yogyakarta. Melalui kegiatan  olahraga ini di kampus serta  bergabung dengan FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia),  ia rutin mengikuti berbagai kejuaraan yang digelar baik skala lokal, regional dan nasional. Tidak terhitung lagi berapa jumlah kompetisi tingkat regional maupun nasional yang telah ia ikuti. Bahkan, Harini  telah mewakili Indonesia pada lima kali kejuaraan Internasional diantaranya yang digelar di Xining China yang bertajuk “World Climbing Championship” dan  yang baru saja dihelat adalah kejuaraan yang digelar di Makassar pada 16 – 17 Oktober 2009, yakni  event “Indonesian Open Extreme Competition”. “Peserta event tersebut  tidak hanya dari Indonesia, namun juga Korea, Malaysia, Singapura, Thailand dan banyak lagi”jelasnya. Di kejuaraan itu, ia mampu pulang sebagai juara IV.

Prestasi yang Berkesan
Lebih dari 30 Event berskala lokal, nasional hingga Internasional telah diikutinya dan membuahkan seabreg prestasi. Harini yang menguasai semua nomor di olahraga Panjat Tebing baik kategori Lead, Speed maupun Boulder tidak akan melupakan PON XVII/2008. Event ini sangat berkesan karena ia mampu menyumbangkan emas yang merupakan pertama kalinya diraih oleh cabang olahraga Panjat Tebing dari Jawa Tengah. Itupun tidak hanya satu, melainkan 2 medali emas. Ia merasa terharu karena prestasinya ini mampu membahagiakan berbagai pihak serta membawa harum nama Propinsi Jawa Tengah khususnya kabuapten Sragen di tingkat  nasional.

Menurut Harini , Panjat Tebing telah mampu merubah hidupnya. Dari berbagai prestasi yang berhasil  diraih, telah banyak membawa manfaat. Selain teman dan relasi yang bertambah, reward yang diberikan juga cukup menguntungkan baginya. Bahkan melalui olahraga inilah ia bertemu dengan orang yang kini menjadi teman hidupnya yaitu Jimmy Imran.  yang juga merupakan atlet panjat tebing dan telah melangsungkan pernikahan pada bulan April 2009 lalu.

Telah banyak kesuksesan yang diraih melalui Olahraga Panjat Tebing ini. “Menekuni olahraga panjat tebing ini mampu menambah sisi religius saya” tambahnya. Rasa syukurnya pada Tuhan semakin bertambah seiring berbagai prestasi yang telah berhasil direngkuhnya.

Harapan  Harini
Saat ini aktifitas Harini semakin bertambah. Selain aktif menggeluti olahraga panjat tebing baik sebagai Atlet Nasional maupun pelatih bagi remaja, ia juga bekerja sebagai salah satu staff di Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sragen. Prestasinya sebagai atlet nasional yang mengharumkan Sragen, mampu mengantarkannya diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemkab.  Sragen.

Ia pun dituntut untuk cerdas membagi waktu antara pekerjaan sebagai abdi negara dan latihan dalam mempersiapkan kejuaraan. “Pagi hari sebelum ke kantor dan sepulang dari kantor, saya sempatkan untuk latihan, disamping tetap melatih para remaja di GOR Diponegoro Sragen seminggu dua kali pada sore hari” tuturnya.

Harini menjelaskan masih sedikit minat yang ditunjukan para remaja di kabupaten  Sragen terhadap olahraga panjat tebing ini. ”Kebanyakan hanya bersifat hobby sementara, sedikit yang serius berlatih” jelasnya. Ia pun mengajak siapapun yang berminat pada panjat tebing untuk serius berlatih. Panjat tebing terbukti telah melahirkan kesuksesan dalam hidup Harini. (Ryan-Humas).

Mau Irit, Gunakan Saja Motor Tenaga Surya


Mungkin sebagian besar dari kita sering mengeluhkan panasnya terik matahari yang kian menyengat akhir-akhir ini.  Namun tidak demikian halnya dengan Gino Gunawan (55), seorang pegawai di lingkungan Kantor Perindustrian Koperasi (Inkop) dan UKM Pemkab Sragen. Berkat tangan terampil dan ide cemerlang yang ia miliki, Gino yang juga petani ini berhasil merancang dan sekaligus merakit sebuah kendaraan bermotor tenaga surya.

Keberadaan panas matahari kian dilirik sebagai solusi energy alternative. Sinar matahari yang diserap solar cell, melalui piranti elektrik diubah menjadi arus DC yang selanjutnya disimpan dalam aki yang kemudian berfungsi sebagai setrum pencatu daya. Energi inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti trafic light, pemanas air, pembangkit listrik dan sebagainya.

Gino. Ayah dua orang anak ini mengaku memperoleh ide merakit motor listrik tenaga Surya saat melihat motor listrik Treko yang berseliweran di bumi Sukowati beberapa waktu lalu. Ide dasarnya adalah bagaimana mengoptimalkan motor tenaga listrik tersebut tanpa harus mengecharge battery setiap saat.  Ide tersebut lantas ia realisasikan dengan membeli dynamo penggerak motor listrik. “Cukup lama mas indentnya, untuk memesan dynamo ini saja harus menunggu waktu 6 bulan” terang Gino. Memang, Gino banyak menemui kendala masalah ketersediaan barang dikarenakan barang-barang tersebut haris dia pesan dari Jakarta dan seringkali harus indent terlebih dahulu. Untuk panel surya, Gino mempergunakan 5 lembar panel surya Altari yang masing-masing mampu menghasilkan arus listrik 5 Ampere. “waktu itu satu lembar panel surya harganya sekitar Rp. 2,5 juta, itupun saya beli di Jakarta melalui internet, sekarang harganya sudah mencapai Rp 7 juta/ lembar. Bahkan lebih” terang Gino.

Kesulita yang ia alami adalah dalam membentuk konstruksi frame yang ringan namun kokoh untuk motor listrik tenaga suryanya. Karena masih dilakukan secara manual (bahkan tradisional) bobot bersih motor tenaga surya yang ia rakit membengkak hingga hampir 160Kg. Padahal, idealnya motor listrik tersebut akan bekerja optimal jika bobot kosong kendaraan dibawah 100Kg. Belum lagi system aerodinamika yang cukup memusingkan. Gino menuturkan bahwa ia masih “puyeng” memikirkan cara mendesain bodi kendaraannya. Sebab, jika tidak ditutup, pengendara akan merasakan pantulan panas aspal jalan raya yang menyengat, akan tetapi jika ditutup body, aerodinamika motor akan sangat mengganggu laju motor tersebut. Belum lagi bobot kendaraan yang kian membengkak.

Untuk frame, Gino masih menggunakan pipa turbular yang terkenal kokoh namun memiliki bobot yang sangat berat. Saat ini ia masih berupaya mencari frame yang ringan, kokoh namun murah untuk diaplikasikan pada motor listrik tenaga surya rakitannya. “Sebenarnya ada frame yang sangat ringan namun kuat, akan tetapi harganya sangat mahal mas. Teknologi tersebut banyak diaplikasikan pada sepeda balap professional maupun body pesawat terbang. “ Dengan menggunakan baja karbon maupun titanium alloy atau alluminium alloy, memang akan didapatkan frame yang sangat ringan namun teruji kekuatannya. Akan tetapi bahan semacam ini tentu saja tidak mudah didapat. Belum lagi pengerjaanya mustahil dilakukan dengan alat las tradisional. Mesti mengenakan mesin pabrik.

Total Gino menghabiskan biaya sekitar 30 juta rupiah lebih untuk sebuah prototype motor tenaga surya tersebut. Biaya tersebut terhitiung cukup besar, sebab anggaran Gino membengkak dikarenakan trial error yang sering terjadi selama proses perakitan. Jika diproduksi dalam skala missal, biaya yang dikeluarakan tisp unitnya pasti akan jauh lebih murah. Bahkan mungkin hingga 50% terang Gino.

Gino mengakui bahwa masih banyak terdapat kelemahan disana-sini pada motor tenaga surya buatannya. Maklum, motor tersebut ia rakit seorang diri dengan teknologi sederhana dan bahkan dengan pembiayaan sendiri. Memang, prototype kendaraan tenaga surya sudah cukup banyak diberitakan. Akan tetapi kendaraan tersebut dirakit oleh institusi-institusi baik pendidikan maupun institusi lainnya baik skala nasional, bahkan kelas dunia. Akan tetapi, menilik status Gino yang hanya PNS kabupaten dan juga seorang petani, hal ini tentu saja sangat luar biasa. Hal ini membuktikan bahwa kualitas SDM di Bumi Sukowati tidaklah kalah dari daerah-daerah lain, bahkan mungkin jauh lebih unggul.

Kedepan, Gino sangat berharap ada pihak-pihak terkait yang bersedia membantunya dalam mengembangkan prototype motor tenaga surya buatannya. Bantuan yang ia harapkan tidak hanya berupa bantuan financial, akan tetapi juga teknologi atau bahkan hanya sekedar informasi mengenai peralatan yang ia butuhkan untuk meningkatkan arus listrik dan juga enyimpannya ke dalam baterai yang tahan lama. “ Saya kesulitan mencarinya mas, kalau ada siapapun yang bisa membantu, walau Cuma informasi dimana saya harus mencari saya akan sangat berterimakasih sekali” demikian Gino menutup wawancara tersebut. (Zi Bang)

Mengenal Suryanti, Pencipta Lagu - Lagu Mars

SRAGEN - Menciptakan sebuah lagu  tidaklah mudah. Apalagi menciptakan sebuah lagu  yang enak didengar. Perlu ada keserasian antara lagu dan syairnya. Terciptanya sebuah nyanyian, biasanya timbul dari hasil sebuah inspirasi yang diterima oleh sang penciptanya. Namun untuk mencipta sebuah lagu tentu tidak harus  menunggu munculnya sebuah inspirasi, tentu  saja hal ini merupakan kesulitan tersendiri.

Bagi seseorang yang bernama Sri Suryanti, menciptakan sebuah lagu tanpa menunggu munculnya inspirasi  merupakan hal yang biasa. Wanita setengah baya ini telah biasa menciptakan sebuah lagu dalam waktu yang sangat singkat yakni hanya beberapa hari saja. Pasalnya lagu-lagu yang diciptakannya biasanya merupakan pesanan dari sebuah organisasi atau instansi yang akan segera menggelar sebuah hajad, event ataupun sebuah lomba. Namun tak sedikit pula lagu-lagu yang diciptakannya karena timbul hasil dari sebuah inspirasi.

BANYAK MENCIPTAKAN LAGU-LAGU MARS
Sri Suryani, sehari-harinya berkecimpung di dunia pendidikan. Pada tahun  1972 sampai 2003, ia bertugas sebagai  guru kesenian  di SMP Negeri Purwosuman. Selepas dari SMPN Purwosuman, wanita kelahiran tahun 1955, ini ditugaskan sebagai penilik pendidikan  luar sekolah UPTD Dinas P dan K kecamatan Karangmalang sampai sekarang. Di kalangan Pemerintah Kabupaten Sragen  khususnya dilingkungan Dinas Pendikan & Kebudayaan Kab. Sragen sosok ini sudah tidak asing lagi. Ia dikenal sebagai seorang guru seni yang banyak terlibat dalam pagelaran kesenian.

Karena kepiawaiannya dalam menciptakan lagu, ia banyak mendapat pesanan menciptakan  lagu mars yang berkaitan dengan kegiatan Pemerintahan. Diantaranya adalah Mars UPPKS, Mars P2MBG, BBGRM, PTK – PNF dan Hemat air. Lagu Mars PTK – PNF ( Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Non Formal ) merupakan Mars lagu terkini yang diciptakannya. Lagu Mars ini dapat menggondol trophy Juara II Tingkat Jawa Tengah pada Jambore PTK – PNF pada Mei  2008 lalu.
KEBIASAAN SEJAK REMAJA
Saat ditemui dirumahnya, perempuan murah senyum ini terlihat sedang sibuk menuliskan not-not lagu dalam selembar kertas. Sore itu Suryanti sedang menulis sebuah lagu yang menggambarkan salah satu obyek wisata di Kabupaten Sragen. Menciptakan sebuah lagu bagi Suryani seakan menjadi bagian dari hidupnya. Setiap timbul inspirasi ia langsung menorehkan inspirasinya dalam bentuk lagu. Kebiasaan ini telah dimulainya sejak ia masih remaja sekitar empat puluhan tahun yang lalu.

Pada masa remaja dulu lagu-lagu yang diciptakannya  banyak yang bertema cinta. Namun sayang, lagu-lagu cinta yang diciptakannya dulu hanyalah menjadi koleksi pribadinya, tidak dipublikasikan dalam sebuah kaset. Kebiasaan mencipta lagu ini terus berlanjut hingga menjadi ia diangkat menjadi  PNS di lingkungan Dinas P & K bahkan sampai sekarang.

Menciptakan sebuah nyanyian merupakan bagian kecil dari keahliannya. Darah seni yang mengalir di tubuhnya membuat pengagum Ki Dalang Narto Sabdo (Alm) ini  banyak berkecimpung dibidang seni. Pada  tahun tujuh puluhan  sampai delapan puluhan ia banyak melakonkan peran utama dalam pertunjukan kethoprak maupun pagelaran wayang orang yangwaktu itu diselenggarakan oleh Departemen Penerangan. Waktu itu, ia sangat dikenal  sebagai pemeran Janoko dalam setiap pagelaran wayang orang.

Selain tampil pada pentas-pentas kesenian yang diselenggarakan oleh pemerintah, hampir tiap hari ia tak pernah lowong  mendapat undangan untuk mengisi kegiatan-kegiatan kesenian seperti  kethoprak, wayang orang maupun menyanyi pada acara hajatan yang diselenggarakan oleh masyarakat.

Menapaki usia lima puluhan, ibu empat orang anak, ini mulai mengurangi aktivitas di pentas-pentas kesenian.  Sepulang kerja, ia lebih banyak tinggal di rumah sambil menciptakan  lagu. Saat ini, Suryani  tengah menggarap sebuah lagu yang  bertemakan tentang Putri Sukowati dan nDayu Alam Asri.
PROSES MENCIPTA SEBUAH NYANYIAN
Dalam proses  menciptakan  sebuah lagu, tahap  awal yang dilakukan adalah mencipta notnya dulu. Baru kemudian syairnya. Yang paling penting diperhatikan, menurutnya adalah dinamic atau keras lembutnya sebuah lagu, karena hal ini dapat mempengaruhi emosi jiwa yang menyanyikan maupun  yang mendengarnya.

Setelah lagu dan syairnya terbentuk dengan baik dan serasi baru kemudian ia melakukan rekaman. Bila nyanyian tersebut merupakan sebuah pesanan dari seseorang atau organisasi, usai rekaman,  kaset tersebut dapat diberikan pada pemesannya.
SETIAP LOMBA PASTI MENANG
Sejak remaja hingga kini, tidak ada satupun lomba cipta lagu maupun menyanyi yang diikutinya yang tidak ia menangkan. Kalau tidak mendapat juara satu pastilah juara dua. Namun yang paling penting bagi Suryani adalah menyalurkan hobinya dibidang seni. Bagi dirinya, kakak laki-lakinya yang bernama Teguh Widodo (Alm) adalah orang yang paling berjasa dalam membentuk dirinya hingga mahir diberbagai bidang kesenian. Dari kecil hingga remaja, sang kakaklah yang melatih dan menggembleng dirinya dibidang kesenian,  sehingga menjadi serorang maestro didunia seni. 

H.M.Muslich dan Kerajinan Cangkang Telur : “MENGUBAH LIMBAH MENJADI BERKAH”

Pernahkah terbayang limbah cangkang telur yang keras dapat menjelma menjadi barang indah bernilai seni? Ditangan seorang pensiunan PNS Pemkab Sragen H.M Muslich cangkang telur ini dapat berdaya guna menjadi souvenir beraneka rupa yang indah sebagai pajangan.

Ide awal menekuni usaha souvenir ini dimulai sejak tahun 2002 lalu. Menjalani rutinitas sebagai pensiunan yang tidak banyak aktifitas membuatnya merasa bosan. Pada suatu hari terinspirasi dari acara di TV yang menayangkan kerajinan telur, ia berinisiatif untuk mencoba memulai berkreasi dengan cangkang telur. Material yang digunakan berupa segala macam kulit telur. Dari kulit telur ayam, telur bebek, telur burung puyuh hingga telur ayam kampong. Masing masing telur memiliki keistimewaan sendiri sendiri.

Tidak mudah memulai usaha ini. Namun bapak tiga anak ini berprinsip jika ada kemauan pasti ada kemampuan. “Sekitar dua bulan saya mencoba trial and error, hingga pada akhirnya saya menemukan teknik yang tepat untuk mengolah limbah telur ini” ujarnya. 

Cangkang telur yang beraneka ragam dapat dibuat kerajinan berupa lukisan, tulisan kaligrafi, prasasti pernikahan serta sebagai mosaik pada guci atau keramik. Serpihan cangkang telur dirangkai sedemikan rupa dan direkatkan pada media yang ada. Serpihan cangkang telur dengan orisinalitas warnanya menjadikan souvenir dengan material ini tampil indah dan menarik. Walaupun seorang diri, pria yang telah berusia 62 tahun ini mampu menjadikan setiap pesanan yang ada mulai satu hari hingga lima hari. Jangan khawatir souvenir ini akan lapuk atau rusak, karena di atas permukaan kaligrafi maupun prasasti yang ada telah disemprot dengan zat pengawet sebagai pelindung.

 “Cangkang telur berupa kaligrafi yang berisi kalimat tarbiyah saya  tawarkan kepada teman teman di IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji  Indonesia) Sragen” jelasnya menjawab pemasaran souvenir ini. Selain itu, souvenir ini telah ia kirim ke berbagai daerah di luar kota, diantaranya Jakarta, Bogor, Klaten dan Semarang. Selain itu, ia juga menawarkan souvenir ini ke berbagai hotel serta rumah makan sebagai hiasan atau kenang kenangan kepada para tamu.

Saat ini hasil karya nya telah dipampang di Tecnopark Sasana Ganesha Sukowati Sragen, bersama dengan kreasi souvenir yang lain. Selain itu terdapat showroom  yang terletak di rumahnya Kampung Baru bendungan Kedawung Jl. Sragen-Kedawung Km 7 Sragen. Untuk anda yang berniat memesan hasil kreasi kerajinan telur ini bisa menghubungi H. M Muslich Sanggar Seni Handicraft AMP (AL MUSLICH PRODUCTION) No Telp (0271) 8825569. (Ryan – Humas)

Biar Loper Koran yang Penting Jadi Doktor


Siapa bilang loper koran tidak bisa meraih gelar doktor? Dr Basuki Agus Suparno(39) telah membuktikan itu. Menempuh pendidikan tinggi tidak melulu bergantung pada faktor finansial. Seseorang dengan kehidupan ekonomi serba kekurangan pun nyatanya mampu menjalani studi hingga jenjang S-3, asalkan mau berjuang untuk mengatasi kondisi serba kekurangan tersebut Hal itu dibuktikan oleh Basuki Agus Suparno, dosen Universitas Pembangunan Nasional (UPN), Yogyakarta.
Beberapa waktu lalu, Basuki telah diwisuda sebagai doktor bidang komunikasi lulusan Universitas Indonesia. Gelar itu sekaligus mengokohkan dirinya sebagai doktor ke-42 bidang komunikasi di Indonesia. Semangat dan keinginan untuk majulah yang mengantarkannya sukses secara akademis.

Apa yang sudah diraih ayah dua anak ini tidak semudah seperti orang lain yang berkecukupan. Dari sekolah tingkat sekolah dasar (SD) sampai berhasil meraih gelar strata satu (S1) di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Solo, kehidupan Basuki selalu penuh dengan perjuangan. Banyak pekerjaan sampingan yang ditekuni mulai dari loper koran, jual kantong plastik, semir sepatu hingga berjualan gula pasir dari rumah ke rumah. Semuanya ini telah membawanya dapat menyelesaikan bangku kuliah di UNS.

Semua pergulatan melawan nasib tersebut, kata Basuki, tidak lain untuk membantu perekonomian keluarga serta membiayai sekolahnya selepas ayahandanya meninggal dunia. Selepas SMA, pada tahun 1991 anak ke-8 dari 9 bersaudara itu berhasil diterima di jurusan komunikasi fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Solo.

Meski telah berstatus mahasiswa Basuki tidak malu nyambi sebagai loper koran. Keuntungan dari berjualan koran bisa mencapai 300 sampai 6.000 ribu rupiah per hari. Keuntungan itulah yang dipakai sebagai modal untuk membiayai kuliahnya. Hingga akhirnya setelah lulus kuliah Basuki berhasil menjadi dosen di UPN. Semangat Basuki untuk terus meraih pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tidak pernah pudar. Melalui beasiswa yang diberikan kampusnya, dia berhasil menempuh jenjang S2 dan S3. Setelah berhasil merampungkan pendidikan S3-nya. Basuki mengaku begitu lega. Terlebih jika dia mengenang kembali perjalanan hidupnya pada masa lalu yang serba kekurangan.

Awal Kisah Perjuangan
Kisah pria kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 6 Mei 1971 itu bermula saat sang ayah almarhum Suwoyo Wiro Sumitro tidak lagi menjadi pegawai di Pabrik Gula Mojo. Pada tahun 1977, bersama ibunya Sugianti, keluarga ini pindah ke Jakarta pada 1978 dan mengontrak rumah di kawasan Kampung Makasar, Jakarta Timur. Sang ayah bekerja sebagai buruh bangunan dan ibu berjualan opak (keripik singkong).

Menurutnya, hasil yang diperoleh kedua orang tuanya sebagai buruh bangunan dan berjualan keripik singkong, ternyata tidak mampu mencukupi biaya kehidupan mereka serta biaya pendidikan anak-anaknya. Sambil sekolah, Basuki kecil terpaksa jual koran dan kantong plastik di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur. Pekerjaan ditekuninya sampai kelas satu SMP Negeri 50, Jakarta Timur.

Saat itulah semua aktivitas Basuki terhenti. Pasalnya, sang ayah meninggal dunia. Keluarga Basuki pun akhirnya kembali ke Sragen. Kepergian ayahnya untuk selamanya, tidak membuat Basuki patah semangat apalagi frustrasi. Justru sebaliknya, pendidikan SMP diselesaikan dengan baik dan dia pun diterima di SMA Negeri 1 Sragen. Sebagai SMA favorit, pria yang suka baca buku-buku politik ini mampu bersaing dengan teman-temannya, meski terbatas buku-buku yang dia miliki.

Gagal Masuk UGM
Seiring semakin banyaknya pelanggan koran dari Basuki, statusnya pun meningkat dari penjualan eceran menjadi loper yang mampu mendapat pelanggan tetap mencapai ratusan orang. Seusai lulus SMA, Basuki mengikuti tes ujian masuk perguruan tinggi (UMPTN) di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Namun, dia gagal diterima.
 
Kemudian, tahun berikutnya pemuda yang pantang menyerah ini akhirnya bisa masuk ke UNS Surakarta. Dia memilih dua fakultas yakni Kedokteran dan Fakultas ISIP jurusan Komunikasi. Pada 1991 ia memulai  kuliah di jurusan  Komunikasi FISIP UNSd engan biaya dari hasil jualan koran. Cukup banyak koran harian yang dijualnya baik terbitan dari Yogyakarta, Bandung dan Jakarta. “Selain koran terbitan pagi yang saya edarkan,juga ada terbitan sore ya seperti Sinar Harapan dan Wawasan,” ujarnya.

Setelah meraih gelar sarjana dari UNS, menurut Basuki tidak ada niatnya untuk melamar jadi pegawai negeri sipil (PNS). Ia pun terus menggeluti usaha dagang. Sambil tetap menjadi loper koran, Basuki memulai usaha baru menjadi penyuplai gula pasir dari rumah ke rumah di Kota Sragen. Awalnya bermodalkan 100 kilogram, akhirnya bisa memiliki omzet sampai tiga ton per bulan. Profesi ini dijalaninya sampai akhir 1987.

Pada saat itu, lanjutnya, seorang teman kuliahnya mengajaknya mendaftar sebagai dosen di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran, Yogyakarta. Setelah melalui tahap tes, pria beristrikan Erni Indriastati ini, awalnya diangkat sebagai asisten dosen dengan gaji sebesar Rp 300.000 per bulan. Tidak lama kemudian, begitu surat keputusan (SK) pengangkatannya turun, Basuki menjadi dosen tetap pada mata kuliah Statistik Sosial dan Pengantar Ilmu Komunikasi. Berkat perjuangan kerasnya, UPN Veteran menyekolahkannya ke jenjang strata dua (S2) di UNS Surakarta dan pada 2008 dia mendapat beasiswa untuk meraih gelar S3 di UI Depok. “Saya tidak menyangka begitu baiknya pemimpin UPN memberikan beasiswa sehingga saya bisa menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar doktor,” tambahnya.

MORISTA, Si Anggun Yang Lagi Naik Daun


Di kalangan warga Kabupaten Sragen dan sekitarnya, siapa yang tak kenal dengan penyanyi yang satu ini. Morista, begitu orang mengenalnya. Seorang penyanyi asli Sragen serba bisa, yang mahir menyanyikan berbagai jenis lagu. Morista sering tampil diberbagai acara seperti hajatan/orang punya kerja, panggung hiburan terbuka,  peringatan hari-hari besar, serta acara-acara lain baik yang diselenggarakan pemerintah maupun swasta.

Ditemui dirumahnya  di Dedegan, Kelurahan Pelemgadung Kecamatan Karangmalang Sragen, ibu satu anak ini menceritakan bahwa bakatnya  dibidang seni suara memang sudah dimilikinya sejak  masih kecil. Sewaktu masih duduk di bangku SD, wanita bertubuh langsing ini sangat menyenangi lagu-lagu dangdut. Menginjak dewasa sewaktu duduk dibangku SMP, kesenangannya dalam mengolah suara disalurkan dengan mengikuti berbagai lomba menyanyi.

Lepas dari bangku SMP, suara emasnya mulai dilirik oleh  group campur sari Barokah asal Banaran, Sambungmacan. Nah sejak itulah karirnya mulai melejit bak roket yang sedang membelah angkasa. Lagu pertama yang ia nyanyikan sewaktu resmi menjadi penyanyi campur sari  adalah lagu yang berjudul “Kangen” karya  Manthos. 

Belajar Secara Otodidak
Dalam olah seni suara penyanyi asli Sragen kelahiran  28 tahun silam ini mengaku belajar secara otodidak. Dia tidak pernah belajar secara khusus kepada seorang guru. Bakat yang dimilikinya  sejak lahir telah menghantarkannya menjadi seorang penyanyi yang terkenal seperti saat ini.  

Meski demikian ia mempunyai tokoh idola seorang penyanyi yang mengispirasikan dan memotivasinya hingga menjadi seorang penyanyi. Tokoh idolanya tersebut tidak lain adalah Waljinah dan Hetty Koes Endang. “Dari kedua penyanyi inilah saya belajar menyanyi meski tidak secara langsung,” katanya. 

Berbagai Jenis Lagu
Meski sewaktu kecil dulu hanya lagu dangdut yang ia sukai, namun ketika terjun di dunia olah suara dirinya dihadapkan pada kenyataan bahwa pengemarnya tidak hanya dari kalangan penyuka lagu dangdut saja.
Alhasil ia pun harus belajar berbagai jenis lagu. Dari situlah terbukti bahwa bakatnya menyanyi tidak hanya terbatas pada lagu dangdut. Bahkan untuk mempelajari berbagai jenis lagu dirinya tidak menemui kesulitan. Menurut Morista, berbagai jenis lagu yang ia bawakan cengkoknya tak terlalu jauh dari lagu-lagu dangdut, misalnya lagu pop yang didangdutkan, lagu campursari, keroncong dan langgam jawa. “Cengkoknya tak terlalu jauh dari lagu dangdut, hampir mirip-mirip, yang paling penting saya tetap menggunakan suara tenggorokan” jelasnya.

Menurut Moris, sewaktu manggung dirinya harus dapat memenuhi permintaan berbagai lagu dari para penontonnya. Yang paling banyak adalah penonton kawula muda. “Biasanya para kawula muda lebih banyak meminta untuk dinyanyikan lagu-lagu pop yang didangdutkan” ceritanya. 

Harus Hafal Banyak Lagu
Morista mengakui selama ini, ia  merasa tidak kesulitan dalam memenuhi permintaan lagu dari para penontonya. Modalnya adalah  memang harus hafal berbagai jenis lagu. “Bila diminta menyanyikan sebuah lagu dan saya tidak hafal kan malu, jadi saya harus menghafalkan banyak lagu, terutama lagu-lagu yang lagi in ” jelasnya. Untuk itu, ia tidak pernah ketinggalan  membeli CD lagu-lagu terbaru, untuk menghafalkan lagu-lagu terbaru yang banyak digemari masyarakat.

Popularitas Morista sebagai penyanyi serba bisa  ternyata  tidak hanya dikenal  di wilayah Sragen dan sekitarnya saja. Undangan untuk menyanyi banyak juga datang  dari luar pulau Jawa. Yang paling sering adalah undangan dari masyarakat yang tinggal di Balikpapan dan Samarinda. Orang di luar Pulau Jawa yang mengundang Morista biasanya  adalah orang-orang yang berasal dari Jawa yang sudah lama menetap disana.
Bagi Morista job manggung  tidak saja datang dari masyarakt umum yang punya hajad. Namun sering kali I diundang untuk menyanyi di acara-acara resmi yang digelar oleh pemerintah Kabupaten Sragen. Bahkan sering pula diundang dalam acara resmi yang dihadiri oleh Pejabat tinggi Negara, seperti Menteri atau bahkan Presiden. 

Banjir Order
Pada bulan-bulan tertentu seringkali ia kebanjiran order yang menyebabkan banyak undangan menyanyi yang bersamaan. Biasanya pada bulan-bulan yang dipercaya masyarakat sebagai bulan baik, ia sering kebanjiran order. Dalam satu hari seringkali penyanyi bertubuh mungil ini  harus manggung sebanyak empat kali di tempat yang berbeda Dengan padatnya jadual menyanyi tersebut, apakah tidak merepotkan ?  “Tidak, habis sudah terbiasa, bahkan  kami tidak mempunyai asisten khusus, semuanya kami bawa sendiri, seperti pakaian alat-alat kosmetik dan lain sebagianya, puji syukur selama ini berjalan lancar” katanya.

Pengalaman mengesankan bagi Moris adalah  sewaktu mendapat undangan di sebuah desa di  pelosok wilayah Kabupaten Boyolali. Waktu itu perjalanannya sangat jauh, hujan dan gelap. Di tengah jalan yang sepi kedua ban mobilnya gembos, Padahal acara segera dimulai. Untuk menepati waktu, terpaksa  ia harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kali ditengah hujan dan jalanan yang sangat becek, jauh pula. “ Kejadian itu  tak pernah  saya  lupakan “ kenangnya. “ Sedang yang paling memuaskan ketika manggung adalah ketika  dapat memenuhi semua permintaan lagu dari penonton” tambahnya. 

Minum Air Putih
Ada satu tips sehingga Morista memiliki  banyak penggemar. “ Resepnya adalah , jangan kecewakan mereka, tepati  jadwal menyanyi sesuai undangan, jangan sampai terlambat” akunya. Menurut Moris ia selalu menepati setiap undangan menyanyi serta berusaha datang lebih awal dari waktu yang telah disepakati, sehingga selama ini belum pernah mendapat complain dari masyarakat atau penggemarnya yang kecewa, karena terlambat atau tidak tepat waktu.

Terkait kiat agar selalu tampil prima, Moris mengaku tidak punya resep khusus.  “ Saya tak menggantungkan pada suatu ramuan khusus untuk menjaga kualitas suara dan penampilan, hanya banyak minum air putih, itu resep saya” jelasnya. Bila  kondisi badan kurang fit, ia hanya mengkonsumsi kencur dicampur garam dan jeruk nispis saja.

Lantas bagaimana bila pas kondisinya tidak sehat atau sakit flu namun ada jadwal  menyanyi yang harus ditepati.  “Pernah juga, sewaktu saya sakit flu dan harus manggung, ketika itu  saya tawarkan kembali kepada pengundangnya bahwa saat itu  saya terserang  flu apakah mau bila suaranya tidak seperti biasanya, ternyata mereka juga tidak mempersoalkan dan saya tetap menyanyi,” jelasnya. 

Telorkan 12 Album
Meskipun jadwal manggungnya sangat padat, Moris masih menyempatkan diri untuk membuat album. Selama berkarir sebagai penyanyi, ia  telah menghasilkan 12 album lagu-lagu, baik lagu-lagu  Campursari maupun lagu-lagu jenis lainnya. Album yang paling laris menurutnya adalah sebuah album lagu yang direkam di Studio Musik “Guna Nada Suara Semarang.

Terkait dengan upaya pelestarian lagu-lagu jawa, Moris menyampaikan pesan kepada para generasi muda agar selalu  ikut nguri-uri budaya jawa. “ Seni budaya adalah peninggalan leluhur kita yang adi luhung, karena itu merupakan kewajiban bagi kita semua, khusunya kalangan generasi muda, untuk melestarikannya, jangan sampai tergeser oleh  budaya asing “  pesannya. (N. Hart)

Bagong Sang Penabuh Kendang, Pernah Memecahkan Rekor Muri

Ki Lurah Bagong Sugiyanto demikian gelar yang diberikan keraton Surakarta kepada Bagong sang penabuh kendang asal Sragen. Lahir dengan nama Sugiyanto, ayahnya seniman senior Sastro Suparto promotor grup karawitan Mardi Laras, adalah yang memperkenalkan dunia seni dan yang pertama kali menjulukinya Bagong. 

Kepiawaian Bagong menabuh kendang selama 49 tahun juga telah diakui bukan hanya di level lokal saja.  Ia berhasil memecahkan rekor dari Musium Rekor Indonesia (Muri). Yakni sebagai penabuh kendang terlama nonstop tanpa henti 17 jam 17 menit 17 detik pada hari jadi Kota Solo ke 259. Kendang dimainkan dengan kolaborasi musik modern diiringi tari.

Prestasi Bagong, bukan berhenti sampai itu saja. Nama Bagong di dunia seni mancanegara cukup diperhitungkan. Setelah beberapa kali didaulat  mengikuti pentas bersama Duta kesenian Indonesia di berbagai belahan dunia, diantaranya negara London, Perancis dan Yunani. Tiket untuk menonton kepiawaiannya menabuh selalu ludes terjual dibeli oleh para penikmat seni di negara –negara tersebut.

Terjun di Dunia Seni
 “Awal ketertarikan menjadi penabuh kendang karena sejak kecil saya selalu ikut Bapak saat pentas. Saya selalu dipangku pak Darmo Mendol penabuh kendang hingga ketiduran. Witing Tresno Jalaran Seko Kulino, karena tiap hari bergelut dengan kendang, timbul rasa cinta,” kenang Bagong.

Ilmu yang didapat secara otodidak telah mengantarkan Bagong menjuarai setiap perlombaan porseni saat duduk di bangku sekolah, baik tingkat kabupaten dan provinsi. Merasa memiliki kemampuan di berbagai bidang seni diantaranya karawitan, tari dan mendalang. Maka Bagong memutuskan melanjutkan studi Akademi Seni Karawitan Indonesia yang kini berubah menjadi Institut Seni Indonesia Surakarta.

Selepas lulus sarjana muda, Pria kelahiran 23 Oktober 1960 ini dilirik kampus tempatnya mengenyam pendidikan yang melihat potensi di dirinya, langsung menariknya menjadi tenaga pengajar di ISI Surakarta. Di ISI Bagong memiliki banyak mahasiswa, bukan hanya mahasiswa lokal tapi banyak juga mahasiswa asing.

 “Murid saya meskipun orang asing tapi lebih serius untuk mempelajari budaya Jawa. Ada yang dari Jepang Perancis, London dan Belanda karena rata-rata ditugaskan oleh negaranya agar sekembalinya bis a mengajar di Negara asalnya. Kalau orang Indonesia asal bisa saja sudah puas, tidak mau meningkatkan kemampuan,” katanya.

Untuk mengapresiasikan karyanya ia memilih untuk tergabung dalam grup karawitan Gandang Sukowati. Namanya mencuat ketika menjuarai lomba seni tingkat nasional yang diselenggarakan  Departemen Penerangan pada tahun 1987.

Pucuk dicinta ulam tiba,  setelah itu tawaran bergabung dengan Duta Kesenian Indonesia untuk menghibur warga negara Indonesia di berbagai belahan dunia pun datang.

“Pengalaman paling mengesankan ketika pentas di Perancis, kendang saya tak boleh dibawa pulang oleh penggemar dari sana. Saya berikan karena dia berminat tinggi mempelajari menabuh kendang,” ungkapnya.

Aktivitas rutin Bagong saat ini adalah  mengiringi Bupati Sragen Untung Wiyono mendalang di berbagai tempat yang membuat namanya terus berkibar di jagat seni. Ia juga terus aktif di Dewan kesenian Daerah Sragen (DKDS).

Darah Seni Mengalir ke Anak-anak
Seniman serba bisa ini bertekad untuk terus melestarikan budaya Jawa,  terbukti dua dari empat anaknya mengalir kuat darah seni. Yakni Pandu Gandang Sasongko dalang cilik yang menyabet juara satu dalang bocah tingkat karesidenan Surakarta, dan juara 2 tingkat Provinsi. Sementara Dwi Endarti putri pertamanya yang masih berkuliah di ISI Surakarta memilih menjadi penari profesional.

Ia berpesan kepada generasi muda jangan sampai budaya asli Jawa tergerus jaman, jangan sampai terkalahkan dengan budaya asing. Ia juga menghimbau kepada seniman lain untuk menjaga keaslian gending Jawa dengan tidak melanggar pakem yang ada, seperti dengan seenaknya menggabungkan gending Jawa dengan musik dangdut. (Rin – Humas)
 

Pengunjung Online

Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Berita Pulau Seribu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah