Headlines News :
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Warga berebut THR dari Bupati Sragen

Acara bagi-bagi tunjangan hari raya (THR) dari Bupati Sragen, Untung Wiyono, di perempatan Gemolong, nyaris kisruh.

Ratusan orang, penarik becak, pengamen, dan masyarakat sekitar berebut ingin mendapatkan amplop berisi uang THR senilai Rp 20.000. Guna menghindari keributan, akhirnya setelah 100-an amplop disebarkan, petugas mengalihkan pembagian THR di pendapa kantor Kecamatan Gemolong.

Bupati Untung yang menyaksikan kejadian tersebut sempat marah dan mengancam akan menarik kembali THR. “Orang Sragen tidak seperti ini, ayo tertib,” tegas Bupati, di hadapan massa, di lokasi setempat, Rabu (8/9).

Bagi-bagi THR dari pejabat memang rutin dilaksanakan menjelang Hari Raya Idul Fitri di wilayah Kecamatan Gemolong. Dua tahun terakhir, acara bag-bagi THR semacam itu juga selalu semrawut.

Untuk tahun ini, bagi-bagi THR dari Bupati dilaksanakan setelah peninjauan di Pos Pengamanan (Pos Pam) Lebaran di perempatan Gemolong. Bupati Untung memberikan 200 amplop yang ditujukan untuk masyarakat kalangan ekonomi menengah ke bawah, seperti penarik becak, pengamen, asongan, pedagang kecil dan masyarakat sekitar.

Solopos

Jalur alternatif mudik Lebaran rusak parah

Jalur alternatif sepanjangan puluhan kilometer dari Grompol-Sragen rusak parah. Jalur arus mudik yang menghubungkan Solo-Ngawi, Jatim itu dalam kondisi bergelombang dan rusak parah. Jalur tersebut terletak di wilayah perbatasan Kabupaten Sragen-Karanganyar.
Arus lalu lintas pada jalur alternatif itu lengang hingga H-1 menjelang Lebaran, Kamis (9/9). Sebagian besar arus mudik yang menggunakan mobil pribadi dan motor pribadi dari Solo-Jatim lebih memilih jalur utama jalan nasional.
Akibatnya arus lalu lintas di sepanjang jalan Solo-Sragen cukup padat. Kepadatan lalu lintas itu cukup terasa di sekitar Pasar Sragen kota yang terletak di Jl Raya Sukowati, lantaran jalan menjadi sempit dengan banyaknya parkir mobil pribadi di kanan-kiri jalan.
Kendati Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) mengalihkan arus lalu lintas ke jalan ringroad mulai dari pertigaan Pungkruk, Sidoharjo dan pertigaan Beloran, Sragen, namun tak berpengaruh pada arus lalu lintas jalan protokol Sragen yang masih padat hingga H-1. Kasi Sarana dan Prasarana Lalu Lintas Dishubkominfo Sragen, Pursis Yuliono mengungkapkan, pengalihan arus lalu lintas sudah dilakukan sejak H-7, baik arus dari Solo maupun arus dari Jawa Timur.

“Pengalihan arus lalu lintas dilakukan untuk mengurangi kepadatan lalu lintas jalan dalam kota agar tidak terjadi kemacetan di sejumlah titik rawan kemacetan, terutama di sejumlah pusat perbelanjaan,” tambahnya.
Sementara Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Sragen, Marija kepada Espos, Kamis (9/9), mengungkapkan, pembangunan dan pemeliharaan jalan alternatif terus dilakukan. Dia menerangkan, hingga H-1 sejumlah pekerja pembangunan jalan masih bekerja. Menurut dia, pekerjaan perbaikan jalan sudah selesai sekitar 95% per Rabu (8/9).

“Kami mengebut pekerjaan perbaikan jalan itu. Diharapkan pada H-1 pekerjaan jalan sudah selesai, sehingga para pekerja juga bisa Lebaran di rumah mereka masing-masing. Terkait kerusakan jalan di perbatasan Sragen-Karanganyar perlu ada koordinasi antara kedua pemerintah daerah,” tandasnya.

Solopos

Mobil Ketua DPRD Sragen dirusak

SRAGEN - Dua mobil masing-masing milik Sugiyamto SH, Ketua DPRD Sragen dan milik Drs H Muh Fadlan MAg, Ketua Pimpinan Cabang (PC) NU Maarif Sragen, dirusak orang tak dikenal Jumat (3/9) dinihari. Aksi perusakan kedua mobil itu terjadi, ketika kedua tokoh itu tengah menghadiri undangan pengajian Nuzulul Quran di Masjid Al Islam, Desa Jeruk, Kecamatan Miri, Sragen. Mobil Ketua DPRD yang dirusak adalah mobil dinas Toyota Camry AD 2 E.
Sedangkan mobil Muh Fadlan, yang menjadi sasaran perusakan adalah, Honda Jazz Nopol AD 8969 UE. Kedua mobil mulus warna hitam tersebut, samasama dirusak dengan menggunakan paku pada sejumlah bagian bodi, saat tengah diparkir di jalan dekat lokasi pengajian.
Mobil Camry milik Sugiyamto dirusak pada bagian samping, dan kedua sisi pintu depan kira-kira sepajang 20 cm. Kerusakan lebih parah dialami mobil milik Muh Fadlan, yang digores hampir setengah meter pada bagian belakang.
Sugiyamto menuturkan, malam itu ia hadir sebagai tamu undangan. Sedang Muh Fadlan hadir sebagai pembicara atau mubaligh. Keduanya datang sekitar pukul 22.00 WIB dan langsung memarkir mobilnya.
Mobil plat merah itu ditempatkan di belakang mobil milik Ketua DPC PDIP Bambang Samekto dan mobil milik Muh Fadlan, yang memang datang lebih awal. Sekitar pukul 24.00 WIB seusai acara, ketiga tokoh ini pun segera menghampiri mobil dan bergegas pulang.
Awalnya, mereka tidak curiga dengan kondisi mobil mereka masing-masing. Kerusakan baru diketahui, saat mereka mengecek kendaraan ketika hendak makan sahur, di sebuah rumah makan sekitar pukul 01.00 WIB.
“Waktu di lokasi kejadian, tak sempat ngecek, karena gelap. Begitu saya tahu mobil saya dirusak, saya langsung kontak Pak Fadlan. Ternyata sama, mobil beliau juga dirusak. Kalau mobil Mas Bambang Samekto tidak kena, karena sopirnya tidur di dalam mobil,” ujar Sugiyamto kepada wartawan, Jumat (3/9) kemarin.
Menyesalkan
Suyatno, sopirnya Sugiyamto bersama sopir pribadi Muh Fadlan, Suyanto (30) dan salah seorang santri Sugimanto (25) langsung melaporkan kejadian tersebut ke Polres Sragen. Baik Sugiyamto maupun Muh Fadlan, mereka samasama menyesalkan aksi perusakan yang menimpa mobil mereka. Sugiyamto menilai kemungkinan pelakunya lebih dari satu orang dan diduga bermuatan politis. Bukan soal coretannya, tapi indikasi kejahatan ini sudah sangat keterlaluan. Karena dilakukan di forum pengajian.
Atas insiden ini, pihaknya mendesak Polres Sragen, segera mengusut tuntas kasus ini. Pihaknya khawatir, apabila tak segera ditindaklanjuti akan memicu reaksi yang lebih frontal dari para santri dan para pendukungnya. K.25-bg

sumber : wawasandigital

Pasar Kota Sragen Terbakar

Sragen: Sedikitnya enam kios di Pasar Kota Sragen, Jawa Tengah, habis terbakar. Tak ada korban jiwa dalam musibah ini. Namun, kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Kerugian diperkirakan akan terus bertambah, mengingat kemungkinan pasar akan berhenti beroperasi sepekan menjelang Lebaran.

http://media.vivanews.com/thumbs/63990_kebakaran_thumb_300_225.jpgApi bermula dari kios elektronik. Api dengan cepat membesar dan merambat ke lainnya, termasuk kios kain. Banyaknya bahan yang mudah terbakar membuat api semakin sulit dikendalikan. Api baru bisa dikendalikan setelah lima mobil pemadam kebakaran yang lama ditunggu-tunggu akhirnya datang.

Hingga kini belum diketahui penyebab pasti kebakaran. Diduga akibat hubungan arus pendek listrik di kios elektronik. Yang pasti justru kebakaran mengakibatkan kemacetan karena banyak warga yang datang menonton. Jalur Solo-Surabaya terputus. Petugas lalu lintas terpaksa mengalihkan lalu lintas ke jalur luar kota.

Pemerintah Kabupaten Sragen berjanji segera memperbaiki kerusakan akibat kebakaran. Perbaikan dirasa penting, mengingat tingginya transaksi jual-beli menjelang Lebaran. (metronews)

Ribuan botol miras dimusnahkan

SRAGEN - Sebanyak 6.242 botol minuman keras (miras) dari berbagi merk dan 1.868 liter ciu dimusnahkan Polres Sragen, Kamis (2/9). Pemusnahan miras itu, merupakan hasil operasi selama bulan puasa, dari berbagai bentuk penyakit masyarakat (pekat). Kapolres Sragen, AKBP IB Putra Narendra, melalui Kabag Ops Kompol Imam Santoso, menjelaskan, langkah operasi penyakit masyarakat itu dilakukan, untuk memberikan rasa aman kepada masyakarat, khususnya umat muslim, dalam menjalankan ibadah puasa maupun persiapan Lebaran.
‘’Untuk menjaga keamanaan, Polres Sragen bekerjasama dengan seluruh komponen masyarakat, akan terus melakukan operasi tersebut,’’ ujar Kompol Imam Santoso kepada wartawan, Kamis (2/8) kemarin.
Menurutnya, rangkaian razia pekat, juga merupakan bentuk Operasi Cipta Kondisi di wilayah Sragen, untuk menciptakan keamanan dan ketertiban dalam segala hal, dari bentuk penyakit masyarakat. Apalagi, miras akan sangat merusak terhadap masa depan remaja dengan membentuj perilaku buruk.
Kabag Ops Polres Sragen itu mengatakan, jenis miras yang dimusnahkan, di antaranya Topi Miring 655 botol, Double Kiwi 2.674 botol, Vodka 390 botol, Asoka 1.540 botol, Newport 24 botol dan Anggur Kolesom 843 botol.
Pemusnahan miras dilakukan dengan cara digilas stoom walls, disaksikan oleh segenap anggota Muspida. Tampak hadir Sekda, Ir Darmawan Minto Basuki mewakili bupati; Ketua PN, Poltak Sitorus; Kajari, Sri Sektiyanti SH; Dandim 0725, Letkol Inf Sugiyo.
Tak pelak lagi, dengan adanya pemunashan miras itu, membuat aroma alhokol di lingkungan Polres Sragen begitu menyengat. Bahkan ribuan botol yang pecah digilas stoom walls itu, seketika membanjiri lapangan Mapolres. K.25-die (wawasan)

Handball Kalahkan PSISra atas Persipur

image
PSISra Sragen kembali menelan kekalahan atas Persipur Purwodadi dalam pertandingan uji coba. Pada laga latih tanding di Stadion Taruna Sragen, pekan lalu, PSISra kalah 0-1. Kini, tim racikan pelatih Lilik Listyono tersebut kalah lagi dengan skor yang sama pada balasan lawatan di Stadion Krida Bhakti Purwodadi, Selasa (31/8).

Handball pemain belakang Sutarno di kotak penalti membuat PSISra kalah 0-1 sekitar menit 80. Penalti pun menjadikan Persipur memenangi partai tersebut. Kejadian itu berawal dari keputusan kapten tim Bowo Margianto hendak membuang bola yang menusuk jantung pertahanan PSISra.

"Tapi karena kemrungsung (terburu-buru-red), bola justru mengenai tangan Sutarno. Memang para pemain bertahan sering tidak tenang saat menerima tekanan. Hal itu segera kami benahi," kata Lilik Listyono, Rabu (1/9).

Sektor pertahanan PSISra dihuni Bowo Margianto, Sutarno, Rejo Riyanto dan Arif Apriyanto, dalam skema 4-4-2. Menurut Lilik, lini tengah skuadnya relatif sudah bekerja sama dengan baik dan sering menguasai bola di sektor gelandang.

"Tapi lini belakang dan depan memang masih labil. Duet penyerang Bayu Ristanto dan Puji Widodo juga sering tergesa-gesa dalam finishing touch," tutur Lilik. (suaramerdeka)

Katana tabrak lampu hias depan Pemda

Sebuah mobil Suzuki Katana warna hitam AD 7185 NE menabrak tiang lampu hias di depan Kantor Dinas Bupati Sragen, Kamis (2/9) sekitar pukul 04.15 WIB.

Tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan lalu lintas tunggal itu, hanya pengemudi mobil luka lecet dan tiang lampu hias ambruk.

Peristiwa kecelakaan itu disebabkan kelalaian pengemudi mobil Mardjianto, 55, warga Sidomulyo RT 47/RW XIV, Sragen Wetan, Sragen.

Dia bermaksud pulang ke Sidomulyo setelah berkunjung ke tempat saudaranya di Yogyakarta. Dalam perjalanan dia dan temannya sempat transit di Solo sebentar dan melanjutkan perjalanan ke Sragen.

Sesampainya di depan utara alun-alun Sasana Langen Putra atau di depan Kantor Dinas Bupati Sragen, mobil yang dikemudikannya menabrak kanstin jalan dan menubruk tiang lampu hias. (solopos)

Polres Sragen siapkan 600 personel

Untuk mengawal arus mudik dan arus balik, jajaran Polres Sragen menyiapkan sekitar 600 personil yang diterjunkan ke lapangan.

Kapolres Sragen, AKBP Ida Bagus Putra Narendar mengatakan ke-600 personel itu akan melaksanakan pengaturan lalu lintas, siaga di titik-titik yang menjadi perhatian seperti titik rawan kejahatan dan kemacetan, serta mengamankan lokasi keramaian, seperti terminal dan stasiun.

“Daerah perbatasan juga menjadi perhatian kami. Karena itu ada satu pos pengamanan yang ditempatkan di Banaran, Sambungmacan. Disamping di tiga lokasi lain, yaitu di Gemolong, Grompol, dan Pilangsari,” tandas dia  saat ditemui wartawan, seusai memimpin Upacara Gelar Pasukan dalam rangka Operasi Ketupat Candi 2010, Polres Sragen, di markas setempat, Kamis (2/9).

Jajaran Polres Sragen yang mengawal arus mudik dan arus balik 2010 akan mewaspadai empat titik di Bumi Sukowati yang rawan kejahatan.

Empat titik tersebut yaitu sepanjang ring road, jalan perbatasan provinsi di Sambungmacan, Jl Solo-Sragen dan Jl Sragen-Ngawi.

Kapolres mengatakan empat titik itu menjadi perhatian jajarannya lantaran di lokasi tersebut kerap terjadi aksi kejahatan.

“Macam-macam. Pernah terjadi penipuan, sengaja menumpang truk tapi akhirnya menodong sopir dan menjarah barang berharga. Ini menjadi kewaspadaan kami, terutama selama arus mudik dan arus balik ini,” kata Kapolres.
 
Disamping titik rawan kejahatan, Polres juga mencatat tiga lokasi rawan kemacetan. Tiga lokasi dimaksud adalah perempatan Gemolong, dan dua titik penyempitan jalan di wilayah Sidoharjo dan kawasan kota menuju Terminal Pilangsari. (solopos)

Daging Gelonggongan Dijual di Sragen

Ayam bangkai dan daging gelonggongan kembali ditemukan. Kali ini dalam razia di sebuah pasar tradisional di Sragen, Jawa Tengah, Rabu (1/9). Semula pedagang mencoba mengelak. Tapi mereka mengakui setelah petugas menunjukkan hasil tes yang menunjukkan daging tak layak konsumsi.

Petugas menyita daging yang tidak layak makan. Mereka juga memberi peringatan kepada para pedagang. Warga diminta untuk waspada dan diimbau meneliti daging yang akan dibeli.

Daging gelonggongan juga dijual di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Daging ditemukan Petugas gabungan Pemerintah Kabupaten Ponorogo di Pasar Songgolangit (lip6)

HARINI : Menapaki Sukses dari Terjalnya Panjat Tebing

Bagi anda penyuka olahraga panjat tebing atau pemerhati olahraga di Sragen, tentu sudah tidak asing lagi dengan Harini, atlit panjang tebing nasional asli wong Sragen. Tidak heran, segudang prestasi telah ia torehkan untuk mengharumkan nama Sragen. Diantaranya secara fenomenal meraih 2 medali emas yang merupakan pertama kali bagi cabang Panjat Tebing Jateng di PON.XVII/2008 serta meraih  medali emas dan perak yang mengharumkan nama Sragen pada PORPROV Jawa Tengah XIII. Ingin tahu lebih jauh sosok atlet perempuan berprestasi di dinding terjal panjat tebing ini? simak kisahnya DIBAWAH INI

Jatuh Cinta Pertama pada Panjat Tebing
Bertemu Harini pertama kali, pasti tidak menyangka gadis manis semampai inilah yang kerapkali berhasil menaklukan rintangan di cabang olahraga panjat tebing. Perawakannya langsing, namun terlihat kokoh dan kuat. Terbukti, berbagai kejuaran panjat tebing mampu dimenangkannya. Dengan pembawaannya yang santai dan ramah, ia menceritakan dari awal ketertarikannya pada olahraga ekstrem yang lebih banyak di minati oleh kaum pria ini.

Rini, demikian ia biasa dipanggil, menuturkan awal mula ia berkenalan dengan Panjat Tebing, saat masih duduk di kelas 2 SMA. “Saat itu saya bergabung dengan WAKPAS (Wahana Kreatifitas Pencinta Alam Sragen), disanalah saya mulai tertarik dengan panjat tebing” tuturnya. Ia mengaku bergabung dengan panjat tebing murni karena minatnya sendiri, sebab ia bukan berasal dari keluarga yang yang bergelut pada bidang panjat tebing atau keluarga atlet.  

Sewaktu bergabung dengan wakpas, Rini kerap mengikuti berbagai kegiatan panjat tebing di sekitar Sragen. Ternyata bakatnya menaklukan dinding terjal mendapat perhatian dari salah satu pengurus olahraga panjat tebing. Ia pun mulai ditawari untuk mengikuti berbagai kejuaraan baik yang bersifat lokal maupun regional. Gadis kelahiran 26 tahun lalu ini pun mulai memantapkan karirnya pada panjat tebing, saat melanjutkan pendidikannya di AKAKOM Yogyakarta. Melalui kegiatan  olahraga ini di kampus serta  bergabung dengan FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia),  ia rutin mengikuti berbagai kejuaraan yang digelar baik skala lokal, regional dan nasional. Tidak terhitung lagi berapa jumlah kompetisi tingkat regional maupun nasional yang telah ia ikuti. Bahkan, Harini  telah mewakili Indonesia pada lima kali kejuaraan Internasional diantaranya yang digelar di Xining China yang bertajuk “World Climbing Championship” dan  yang baru saja dihelat adalah kejuaraan yang digelar di Makassar pada 16 – 17 Oktober 2009, yakni  event “Indonesian Open Extreme Competition”. “Peserta event tersebut  tidak hanya dari Indonesia, namun juga Korea, Malaysia, Singapura, Thailand dan banyak lagi”jelasnya. Di kejuaraan itu, ia mampu pulang sebagai juara IV.

Prestasi yang Berkesan
Lebih dari 30 Event berskala lokal, nasional hingga Internasional telah diikutinya dan membuahkan seabreg prestasi. Harini yang menguasai semua nomor di olahraga Panjat Tebing baik kategori Lead, Speed maupun Boulder tidak akan melupakan PON XVII/2008. Event ini sangat berkesan karena ia mampu menyumbangkan emas yang merupakan pertama kalinya diraih oleh cabang olahraga Panjat Tebing dari Jawa Tengah. Itupun tidak hanya satu, melainkan 2 medali emas. Ia merasa terharu karena prestasinya ini mampu membahagiakan berbagai pihak serta membawa harum nama Propinsi Jawa Tengah khususnya kabuapten Sragen di tingkat  nasional.

Menurut Harini , Panjat Tebing telah mampu merubah hidupnya. Dari berbagai prestasi yang berhasil  diraih, telah banyak membawa manfaat. Selain teman dan relasi yang bertambah, reward yang diberikan juga cukup menguntungkan baginya. Bahkan melalui olahraga inilah ia bertemu dengan orang yang kini menjadi teman hidupnya yaitu Jimmy Imran.  yang juga merupakan atlet panjat tebing dan telah melangsungkan pernikahan pada bulan April 2009 lalu.

Telah banyak kesuksesan yang diraih melalui Olahraga Panjat Tebing ini. “Menekuni olahraga panjat tebing ini mampu menambah sisi religius saya” tambahnya. Rasa syukurnya pada Tuhan semakin bertambah seiring berbagai prestasi yang telah berhasil direngkuhnya.

Harapan  Harini
Saat ini aktifitas Harini semakin bertambah. Selain aktif menggeluti olahraga panjat tebing baik sebagai Atlet Nasional maupun pelatih bagi remaja, ia juga bekerja sebagai salah satu staff di Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sragen. Prestasinya sebagai atlet nasional yang mengharumkan Sragen, mampu mengantarkannya diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemkab.  Sragen.

Ia pun dituntut untuk cerdas membagi waktu antara pekerjaan sebagai abdi negara dan latihan dalam mempersiapkan kejuaraan. “Pagi hari sebelum ke kantor dan sepulang dari kantor, saya sempatkan untuk latihan, disamping tetap melatih para remaja di GOR Diponegoro Sragen seminggu dua kali pada sore hari” tuturnya.

Harini menjelaskan masih sedikit minat yang ditunjukan para remaja di kabupaten  Sragen terhadap olahraga panjat tebing ini. ”Kebanyakan hanya bersifat hobby sementara, sedikit yang serius berlatih” jelasnya. Ia pun mengajak siapapun yang berminat pada panjat tebing untuk serius berlatih. Panjat tebing terbukti telah melahirkan kesuksesan dalam hidup Harini. (Ryan-Humas).

Direktur BPR Djoko Tingkir bantah soal rekening

Sragen (Espos)--Direktur BPR Djoko Tingkir, Surono membantah pernyataan Tim Pengelola program sewu mikir sukowati (Wukirwati), Soegiyanto soal jumlah rekening Wukirwati.

Satu rekening program sewu mikir sukowati (Wukirwati) di BPR Djoko Tingkir dipertanyakan, lantaran Surono menyatakan hanya ada satu rekening Wukirwati di BPR Djoko Tingkir.

Padahal pengelola Wukirwati Sragen menyatakan ada dua rekening di BPR tersebut.

Sebelumnya Soegiyoto mengungkapkan, dua rekening di BPR Djoko Tingkir itu terdiri atas rekening penerimaan dan rekening pendapatan.

Dia juga menyebut, dari sekian karyawan perbankan pemerintah, hanya karyawan BPR Djoko Tingkir yang mengikuti program Wukirwati.

Surono saat ditemui wartawan di kantornya, Rabu (1/9), menyatakan ada satu rekening atas nama Wukirwati yang ada di BPR yang dia pimpin.

Namun dia enggan menyebut besaran saldo akhir dalam rekening itu, karena sebagai upaya perlindungan konsumen.

trh

Antisipasi kecelakaan, personel Linmas ditempatkan di perlintasan KA

Sragen (Espos)--Untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan lalu lintas saat arus mudik, sebanyak 40 personel perlindungan masyarakat (Linmas) akan dilibatkan.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen akan menempatkan 40 personel Linmas di 20 titik perlintasan kereta api (KA) yang tidak dijaga mulai H-7 sebelum Lebaran.

Penegasan itu disampaikan Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpol dan Linmas) Sragen, Wangsit Sungkono saat ditemui wartawan, Rabu (1/9), di kompleks Sekretariat Daerah (Setda) Sragen.

Menurut dia, sebanyak 40 personel Linmas itu ditempatkan di sepanjang jalur KA dari Kalijambe-Purwodadi dan jalur KA Solo-Surabaya.

“Setidaknya ada tujuh titik di jalur perlintasan KA mulai Kalijambe-Gemolong-Sumberlawang. Sementara titik perlintasan tanpa penjagaan di jalur Solo-Surabaya ada sebanyak 13 titik, yakni di Masarean tiga titik, di Sidoharjo lima titik dan sisanya di Sragen dan Gondang. Kegiatan seperti ini sudah kegiatan rutin setiap tahun,” ujarnya.

trh

MIN Ngijo Salurkan Zakat Fitrah

ragen (Espos)–Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Ngijo, Suwatu, Tanon, Sragen menyalurkan zakat fitrah sebanyak 335 kg beras dan uang tunai senilai Rp 7,165 juta kepada fakir miskin 124 keluarga dan 11 warga fisabilillah, Rabu (1/9).

Kepala MIN Ngijo, Suwaru, Tanon, Sragen, Khumaidin dalam siaran persnya mengungkapkan, kegiatan pembagian zakat fitrah ini dilaksanakan sejak empat tahun lalu, yakni mulai tahun 2007 lalu.
 
Kegiatan ini, kata dia, sebagai rangkaian pesantren Ramadan yang digelar mulai akhir Agustus hingga awal September.

trh

Mau Irit, Gunakan Saja Motor Tenaga Surya


Mungkin sebagian besar dari kita sering mengeluhkan panasnya terik matahari yang kian menyengat akhir-akhir ini.  Namun tidak demikian halnya dengan Gino Gunawan (55), seorang pegawai di lingkungan Kantor Perindustrian Koperasi (Inkop) dan UKM Pemkab Sragen. Berkat tangan terampil dan ide cemerlang yang ia miliki, Gino yang juga petani ini berhasil merancang dan sekaligus merakit sebuah kendaraan bermotor tenaga surya.

Keberadaan panas matahari kian dilirik sebagai solusi energy alternative. Sinar matahari yang diserap solar cell, melalui piranti elektrik diubah menjadi arus DC yang selanjutnya disimpan dalam aki yang kemudian berfungsi sebagai setrum pencatu daya. Energi inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti trafic light, pemanas air, pembangkit listrik dan sebagainya.

Gino. Ayah dua orang anak ini mengaku memperoleh ide merakit motor listrik tenaga Surya saat melihat motor listrik Treko yang berseliweran di bumi Sukowati beberapa waktu lalu. Ide dasarnya adalah bagaimana mengoptimalkan motor tenaga listrik tersebut tanpa harus mengecharge battery setiap saat.  Ide tersebut lantas ia realisasikan dengan membeli dynamo penggerak motor listrik. “Cukup lama mas indentnya, untuk memesan dynamo ini saja harus menunggu waktu 6 bulan” terang Gino. Memang, Gino banyak menemui kendala masalah ketersediaan barang dikarenakan barang-barang tersebut haris dia pesan dari Jakarta dan seringkali harus indent terlebih dahulu. Untuk panel surya, Gino mempergunakan 5 lembar panel surya Altari yang masing-masing mampu menghasilkan arus listrik 5 Ampere. “waktu itu satu lembar panel surya harganya sekitar Rp. 2,5 juta, itupun saya beli di Jakarta melalui internet, sekarang harganya sudah mencapai Rp 7 juta/ lembar. Bahkan lebih” terang Gino.

Kesulita yang ia alami adalah dalam membentuk konstruksi frame yang ringan namun kokoh untuk motor listrik tenaga suryanya. Karena masih dilakukan secara manual (bahkan tradisional) bobot bersih motor tenaga surya yang ia rakit membengkak hingga hampir 160Kg. Padahal, idealnya motor listrik tersebut akan bekerja optimal jika bobot kosong kendaraan dibawah 100Kg. Belum lagi system aerodinamika yang cukup memusingkan. Gino menuturkan bahwa ia masih “puyeng” memikirkan cara mendesain bodi kendaraannya. Sebab, jika tidak ditutup, pengendara akan merasakan pantulan panas aspal jalan raya yang menyengat, akan tetapi jika ditutup body, aerodinamika motor akan sangat mengganggu laju motor tersebut. Belum lagi bobot kendaraan yang kian membengkak.

Untuk frame, Gino masih menggunakan pipa turbular yang terkenal kokoh namun memiliki bobot yang sangat berat. Saat ini ia masih berupaya mencari frame yang ringan, kokoh namun murah untuk diaplikasikan pada motor listrik tenaga surya rakitannya. “Sebenarnya ada frame yang sangat ringan namun kuat, akan tetapi harganya sangat mahal mas. Teknologi tersebut banyak diaplikasikan pada sepeda balap professional maupun body pesawat terbang. “ Dengan menggunakan baja karbon maupun titanium alloy atau alluminium alloy, memang akan didapatkan frame yang sangat ringan namun teruji kekuatannya. Akan tetapi bahan semacam ini tentu saja tidak mudah didapat. Belum lagi pengerjaanya mustahil dilakukan dengan alat las tradisional. Mesti mengenakan mesin pabrik.

Total Gino menghabiskan biaya sekitar 30 juta rupiah lebih untuk sebuah prototype motor tenaga surya tersebut. Biaya tersebut terhitiung cukup besar, sebab anggaran Gino membengkak dikarenakan trial error yang sering terjadi selama proses perakitan. Jika diproduksi dalam skala missal, biaya yang dikeluarakan tisp unitnya pasti akan jauh lebih murah. Bahkan mungkin hingga 50% terang Gino.

Gino mengakui bahwa masih banyak terdapat kelemahan disana-sini pada motor tenaga surya buatannya. Maklum, motor tersebut ia rakit seorang diri dengan teknologi sederhana dan bahkan dengan pembiayaan sendiri. Memang, prototype kendaraan tenaga surya sudah cukup banyak diberitakan. Akan tetapi kendaraan tersebut dirakit oleh institusi-institusi baik pendidikan maupun institusi lainnya baik skala nasional, bahkan kelas dunia. Akan tetapi, menilik status Gino yang hanya PNS kabupaten dan juga seorang petani, hal ini tentu saja sangat luar biasa. Hal ini membuktikan bahwa kualitas SDM di Bumi Sukowati tidaklah kalah dari daerah-daerah lain, bahkan mungkin jauh lebih unggul.

Kedepan, Gino sangat berharap ada pihak-pihak terkait yang bersedia membantunya dalam mengembangkan prototype motor tenaga surya buatannya. Bantuan yang ia harapkan tidak hanya berupa bantuan financial, akan tetapi juga teknologi atau bahkan hanya sekedar informasi mengenai peralatan yang ia butuhkan untuk meningkatkan arus listrik dan juga enyimpannya ke dalam baterai yang tahan lama. “ Saya kesulitan mencarinya mas, kalau ada siapapun yang bisa membantu, walau Cuma informasi dimana saya harus mencari saya akan sangat berterimakasih sekali” demikian Gino menutup wawancara tersebut. (Zi Bang)

Pengelola dana Wukirwati bantah dugaan penyimpangan

Sragen (Espos)--Tim pengelola dana sewu mikir sukowati (Wukirwati) membantah adanya dugaan penyimpangan dalam pengelolaan dana Wukirwati.

Kendati demikian tim pengelola Wukirwati mengaku dimintai keterangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama Kepala Dinas Sosial (Dinsos) selama dua jam di ruang Sekretaris Daerah (Sekda) Sragen.
Sedikitnya ada tiga personel KPK yang meminta keterangan terkait pengelolaan Wukirwati sejak tahun 2003 sampai sekarang dan program beras jimpitan sejak tahun 2008 hingga sekarang.

Ketua Tim Pengelola Wukirwati Sragen, Soegiyoto saat ditemui Espos di rumahnya, Selasa (31/8), mengungkapkan, Wukirwati dibentuk Bupati sejak tahun 2003 dan semula dikelola Sekda.

Sejak tahun 2005, pengelolaan dana Wukirwati dialihkan Bupati kepada tim yang terdiri atas kalangan birokrasi dan tokoh masyarakat.

“Sejak tahun 2003 hingga sekarang, dana yang terkumpul senilai Rp 1,52 miliar. Namun kami sudah menyalurkan dana Wukirwati itu senilai Rp 1,83 miliar. Nah, permasalahan ini yang kadang sering muncul pertanyaan. Kenapa bisa lebih dana yang disalurkan, karena ada jasa modal dari mitra kerja senilai 1%/bulan dari total dana yang disalurkan, sehingga nilainya sekitar Rp 330 juta,” ujarnya. (trh)

Puluhan susu kemasan berjamur

SRAGEN - Tim gabungan razia makanan dan minuman (mamin) Pemkab Sragen, menyita puluhan susu kemasan dan kurma berjamur. Razia digelar di Pasar Nglangon, Pasar Bunder, Sragen Kota, Senin (30/8) kemarin. Selain itu, tim gabungan juga memberikan peringatan keras terhadap para pedagang agar tidak lagi menjual produk yang telah rusak karena dikhawatirkan membahayakan kesehatan bagi manusia.

Seperti razia sebelumnya, razia digelar dengan melibatkan tim gabungan yang terdiri dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK), DP2D, Diperinkop dan Sarpol PP. Razia diawali dengan menyisir kios dan pedagang makanan serta minuman yang menjual produk makanan dan minuman di Pasar Bunder.

Dari puluhan kios yang diperiksa, tim banyak menemukan beragam makanan ringan dan minuman kemasan, yang sudah kedaluwarsa, seperti roti kering, dan berbagai jenis roti. Selain makanan dan minuman kedaluwarsa, tim juga mendapati 25 susu kemasan sachet dan 3 bungkus kurma yang diketahui sudah menjamur.

Selain itu, ada sekitar 25 botol minuman kopi dalam kemasan kedaluwarsa, yang nekat dipajang. Karena dinilai membahayakan kesehatan, produk-produk tersebut langsung disita dan para pedagangnya diberi peringatan secara lisan. "Untuk produk susu dalam kemasan, kami temukan ada lubangnya dan di dalamnya sudah menjamur.
Begitu pula dengan kurma dan minuman kemasan yang semuanya kami sita untuk barang bukti. Sementara itu, produk lain yang kedaluwarsa, kami ambil sampel, untuk diuji lab," ujar Kasi Promosi Kesehatan DKK Pemkab Sragen, Triyanta kepada wartawan, di sela-sela razia yang berlangsung di Pasar Bunder, Sragen Kota.

Selanjutnya, dari Pasar Bunder tim bergerak menuju ke Pasar Nglangon. Di pasar ini, tim juga menemukan beragam makanan ringan dan minuman kemasan, yang sudah habis masa pakainya. Di luar makanan dan minuman, tim juga menemukan obat-obatan bertanda khusus, yang dijual bebas di kios-kios. Padahal, berdasarkan aturan, obatobatan itu, hanya boleh dijual atas izin resmi atau resep dokter.

Persuasif
Lebih lanjut Triyanto mengatakan, dari razia yang sudah dilakukan selama dua pekan ini, temuan paling mencolok adalah makanan dan minuman kedaluwarsa. Dari berbagai wilayah kecamatan yang telah dirazia petugas, Kecamatan Masaran adalah wilayah yang paling dominan ditemukannya makanan dan minuman yang tak layak edar.

"Untuk sementara ini, kami mengupayakan pendekatan persuasif dan memberi toleransi kepada para pedagang agar mentaati aturan dan menghindari produk-produk tak layak edar," katanya. (wawasan)

Lezatnya Ayam Goreng Khas Sragen

Menyantap hidangan sambil menikmati pemandangan asri sudah barang tentu menghadirkan kenyamanan tersendiri. Bercengkerama dengan ikan-ikan di kolam, tanaman dan gemerincing air pancur kian menambah selera untuk melahap menu yang tersaji.
 


Itulah sedikit gambaran suasana kenyamanan jika menyantap sajian di Rumah Makan Roso Joyo II, Sragen. Menggabungkan konsep cita rasa dan suasana alam terbuka, rumah makan di Jalan Irian, Nglorog Sragen ini memang layak menjadi salah satu referensi wisata kuliner di Bumi Sukowati.
 
“Konsep utama kami adalah kenyamanan selain cita rasa masakan tentunya. Untuk lokasi sengaja kami desain bervariasi menyesuaikan jenis acara dan kebutuhan. Yang ingin santai ada lesehan, yang ingin romantis bisa di gazebo atau untuk keperluan formal seperti rapat atau seminar kami sediakan gedung atau aula,”papar Yohanes Paidin, pemilik RM Roso Joyo, di sela-sela kesibukannya mengurus Rumah Makannya.
 
Sebagai gambaran, Rumah Makan Roso Joyo II adalah pelebaran sayap bisnis dari RM pertama di Jl Sukowati, No 461, Sragen. Dengan luas 3.500 m2 dan berada di dekat areal persawahan, RM Roso Joyo II ini sengaja didesain modern namun tetap mengedepankan keasrian alam.

Selain acara formal dan keluarga, kenyamanan suasananya juga cocok untuk kalangan remaja. Dengan kapasitas hampir 1.000 tempat duduk, yang meliputi ruang pertemuan, aula, restoran, dan gazebo, rumah makan ini juga siap menjadi pilihan untuk acara formal seperti pernikahan dan rapat.
Tak hanya suasananya yang nyaman, menu yang disajikan pun cukup diandalkan. Ya, ayam goreng kampung adalah menu yang paling dominan sekaligus andalan utama.
Ketagihan
Meski banyak dijajakan dan hampir ada di setiap rumah makan, tapi di kalangan penikmat kuliner, cita rasa unik dan khas Sragen menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggan ayam goreng Roso Joyo.

“Kalau masakan Jogja kan terkenal Manis. Jawa Timuran terkenal asin. Nah, kami memadukan dua cita rasa itu menjadi cita rasa menu ayam goreng kami menjadi cita rasa khas Sragen,”ujar sang istri, Anna Suzzana.
Selain ayam goreng, masih ada varian menu yang tak boleh dikesampingkan. Bagi pecinta sea food, ada gurame bakar/goreng, nila bakar, dan menu berbahan ikan segar lainnya. Sedang kalangan vegetarian, bisa menyantap menu berbahan sayuran seperti cha kangkung.

Hal lain yang membuat penikmat kuliner ketagihan adalah standar harga yang sangat pas untuk ukuran kebanyakan. Untuk satu ayam utuh hanya dibanderol Rp 52.000, lalu perpotong ayam goreng/ bakar hanya Rp 12.500. Pun demikian dengan layanan katering, satu dos nasi ayam plus lalapan hanya dipatok Rp 15.000.

Daripada penasaran, tak ada salahnya Anda menuntaskan rasa penasaran dengan mengisi liburan akhir pekan dengan berekreasi sekaligus mencicipi masakan khas Sragen di rumah makan ini. (Wardoyo)

Sumber : JogloSemar

Soto Girin Sragen

Pagi itu, sekitar pukul tiga pagi, Sugimo (55) bersama istrinya Sujiah (53) nampak sudah terlihat sibuk meracik bumbu di dapurnya yang terbilang tidak begitu luas. Di dapur tersebut Gimo dan istrinya meracik dan memasak soto dengan menggunakan tungku yang berbahan bakar kayu bakar. Telah menjadi kebiasaan mereka bangun di pagi buta untuk memasak soto. Pasalnya, setiap hari mulai jam 6 pagi soto daging olahannya harus sudah siap saji karena telah ditunggu oleh banyak pelangganya di warung Soto Daging sapi miliknya. Soto Gimo Girin, begitu ia memberi nama warung sotonya itu. Embel-embel nama Girin merupakan trade mark baginya, yang menunjukkan bahwa ia salah satu pewaris Soto Girin yang pernah dikelola oleh ayahnya yang bernama Mbah Girin.

Gimo memperoleh resep meracik soto belajar dari orang tuanya sendiri mbah Girin namanya, sang empunya warung Soto Girin. Bagi warga Sragen nama Soto Girin sudah tidak asing bahkan sudah menjadi legenda dan salah satu icon wisata kuliner di Kabupaten Sragen. Mbah Girin mulai merintis membuka warung soto sejak tahun 1954 silam. Kurang lebih 32 tahun Mbah Girin mengelola warung soto miliknya, hingga tahun 1984. Sejak dulu, warung soto Girin ini tak pernah sepi dari pelanggan.

Sejak anak-anaknya masih kecil, Mbah Girin sudah mengajari anak-anaknya bagaimana cara memasak soto yang nikmat. Alhasil, semua anak-anaknya yang berjumlah empat orang, memilih jalan hidup yang sama dengan Mbah Girin yakni menjadi penjual Soto yang sukses. Salah satu anaknya bernama Gimo yang kini mempunyai warung soto sendiri yang bernama Soto Gimo Girin.

Ibarat buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, Gimo Girin muda kala itu sekitar awal tahun tujuh puluhan, punya keinginan kuat untuk mendirikan sebuah usaha sendiri layaknya usaha milik ayahandanya. Keinginannya terwujud pada tahun 1975. Meski semula hanya berdiri diemperan sebuah toko, tidak masalah baginya, yang penting warung soto yang menjadi cita-citanya telah terwujud. “Pernah usaha saya di bongkar karena emperan tokonya mau dibangun, kemudian saya beralih tempat tidak jauh dari tempat semula” kenangnya pada masa-masa sulit yang pernah ia lalui saat merintis usaha miliknya.

Pada tahun 1986, usahanya telah menampakkan hasil, sehingga ia bisa membeli sebuah rumah yang terletak cukup strategis, tidak jauh dari tempat pertama ia mendirikan usaha. Rumah sederhana yang yang beralamat di Ringin Anom RT 01 / 17 Sragen, kemudian disulap menjadi sebuah warung soto daging sapi. “Sejak menempati kios permanen tersebut usaha soto saya mulai meningkat pesat hingga sedikit demi sedikit saya bisa memperbaiki bangunannya” akunya. Bintang keberuntungan benar-benar berpihak kepadanya. Setiap hari, pelanggannya tak pernah sepi, bahkan meningkat. Dagangan soto miliknya setiap hari pasti terjual habis. “Dagangan soto saya tak pernah sisa, pasti habis setiap harinya, pada suatu waktu saya pernah menambah jumlah stok dagangan dan ternyata habis juga, namun bila stoknya kami tambah terus, tenaga kami kewalahan, ” terangnya.
Pelanggan yang datang di warung sotonya terdiri dari berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari tukang becak hingga Pejabat Departemen Pusat Jakarta. ”Banyak juga mas, pejabat dari Jakarta yang datang kesini, semula saya tidak tahu kalau dia pejabat, namun setelah dua kali, tiga kali datang akhirnya saya tahu kalau yang jajan tersebut adalah Pejabat dari Pusat. Misalnya saja pak Wiyono (Drs. Wiyono Msi, Kepala Bidang Diklat dan Kependudukan Departemen Dalam Negeri )” terangnya.

Selain orang Sragen, banyak juga pelanggannya yang berasal dari luar daerah Sragen. Banyak orang-orang Solo yang datang kesana, selain hanya sekedar mampir jajan, sebagian ada yang mengkhususkan datang hanya untuk jajan soto buatan Gimo Girin.

Meski warungnya terbilang sempit kurang lebih berukuran delapan kali enam meter, tak disangka bisa menampung lebih dari lima puluh orang. Bapak empat anak ini mengaku sering kedatangan tamu rombongan bis wisata yang berjumlah kurang lebih lima puluh sampai seratus orang, yang mampir kesini untuk jajan soto. Namun, biasanya sehari sebelumnya mereka memesan terlebih dahulu lewat telepon.

Bahkan tidak sedikit yang telah menjadi pelanggan di warungnya sejak masih berusia anak-anak. Seperti yang diungkapkan Ny. Wasis (35), seorang PNS di Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Sragen yang ditemui saat sedang menyantap soto di warung soto Gimo Girin, “ Keluarga saya hampir semuanya pelanggan warung soto sini, termasuk kakek-nenek saya, jadi sejak kecil saya sudah sering jajan disini”.

Sementara pengakuan pelanggan lainnya, Ina Nugroho (42), sejak ia pindah ke Sragen tahun 1989 silam ia langsung terpikat dengan soto masakan Gimo. Sebelumnya ia sering berpindah-pindah warung langganan. Sejak menemukan warung Gimo Girin Instruktur senam tersebut enggan menyantap soto di tempat lainnya.

Setiap harinya, warung Soto Girin mulai buka sekitar jam enam pagi. Sejak jam enam pagi itu pula pelanggan sudah mulai datang untuk sarapan soto. Tidak sampai siang, sekitar jam sepuluh atau paling siang jam sebelas, sotonya pasti telah habis. Bisa dipastikan bila datang kesini lebih dari jam sebelas, tidak akan kebagian soto sedap racikan Pak Gimo. ”Kadang jam sepuluh paling lambat jam sebelas, soto daging sapi racikan saya telah terjual habis” tegasnya. Setiap harinya ia sengaja tidak menambah jumlah porsi soto dagangannya. ”Capek mas, saya menjual sesuai kemampuan tenaga saya saja, kalau nanti menambah jumlah porsi, saya kawatir tenaga saya dan istri saya akan terforsir,”ungkapnya.

Semua bumbu yang digunakan untuk memasak soto ia kerjakan sendiri, bukan orang lain termasuk istrinya sendiri. ”Kalau yang mengerjakan orang lain nanti rasanya pasti berbeda” ungkapnya. Ia mengaku tidak ada yang berbeda dengan bumbu-bumbu soto lainnya, namun ia punya kiat khusus yakni takaran bahan-bahan yang digunakan untuk bumbu diusahakan tepat. Bumbu-bumbu yang ia gunakan pun hanya berasal dari bumbu-bumbu tradisional, jadi lebih aman dan sehat untuk dikonsumsi.
Setelah kiosnya tutup sekitar jam sebelas siang. Biasanya ia menyempatkan diri untuk istirahat sejenak. Selepas istirahat siang, tangannya seakan tak pernah lelah, kembali ia mulai meracik bumbu soto. Karena sejak awal tahun 2008 ini, Soto Gimo Girin membuka warung soto di Pusat Jajan Malam Hari (Pujamari ) yang terletak di halaman Galery Batik Sukowati. Pelanggan yang tidak bisa menikmati sedapnya soto di pagi hari, pada malam hari dapat menjumpainya di Pujamari sekitar jam lima sore hari hingga jam sembilan malam.
 
Sumber : sragenholic

Mengenal Suryanti, Pencipta Lagu - Lagu Mars

SRAGEN - Menciptakan sebuah lagu  tidaklah mudah. Apalagi menciptakan sebuah lagu  yang enak didengar. Perlu ada keserasian antara lagu dan syairnya. Terciptanya sebuah nyanyian, biasanya timbul dari hasil sebuah inspirasi yang diterima oleh sang penciptanya. Namun untuk mencipta sebuah lagu tentu tidak harus  menunggu munculnya sebuah inspirasi, tentu  saja hal ini merupakan kesulitan tersendiri.

Bagi seseorang yang bernama Sri Suryanti, menciptakan sebuah lagu tanpa menunggu munculnya inspirasi  merupakan hal yang biasa. Wanita setengah baya ini telah biasa menciptakan sebuah lagu dalam waktu yang sangat singkat yakni hanya beberapa hari saja. Pasalnya lagu-lagu yang diciptakannya biasanya merupakan pesanan dari sebuah organisasi atau instansi yang akan segera menggelar sebuah hajad, event ataupun sebuah lomba. Namun tak sedikit pula lagu-lagu yang diciptakannya karena timbul hasil dari sebuah inspirasi.

BANYAK MENCIPTAKAN LAGU-LAGU MARS
Sri Suryani, sehari-harinya berkecimpung di dunia pendidikan. Pada tahun  1972 sampai 2003, ia bertugas sebagai  guru kesenian  di SMP Negeri Purwosuman. Selepas dari SMPN Purwosuman, wanita kelahiran tahun 1955, ini ditugaskan sebagai penilik pendidikan  luar sekolah UPTD Dinas P dan K kecamatan Karangmalang sampai sekarang. Di kalangan Pemerintah Kabupaten Sragen  khususnya dilingkungan Dinas Pendikan & Kebudayaan Kab. Sragen sosok ini sudah tidak asing lagi. Ia dikenal sebagai seorang guru seni yang banyak terlibat dalam pagelaran kesenian.

Karena kepiawaiannya dalam menciptakan lagu, ia banyak mendapat pesanan menciptakan  lagu mars yang berkaitan dengan kegiatan Pemerintahan. Diantaranya adalah Mars UPPKS, Mars P2MBG, BBGRM, PTK – PNF dan Hemat air. Lagu Mars PTK – PNF ( Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Non Formal ) merupakan Mars lagu terkini yang diciptakannya. Lagu Mars ini dapat menggondol trophy Juara II Tingkat Jawa Tengah pada Jambore PTK – PNF pada Mei  2008 lalu.
KEBIASAAN SEJAK REMAJA
Saat ditemui dirumahnya, perempuan murah senyum ini terlihat sedang sibuk menuliskan not-not lagu dalam selembar kertas. Sore itu Suryanti sedang menulis sebuah lagu yang menggambarkan salah satu obyek wisata di Kabupaten Sragen. Menciptakan sebuah lagu bagi Suryani seakan menjadi bagian dari hidupnya. Setiap timbul inspirasi ia langsung menorehkan inspirasinya dalam bentuk lagu. Kebiasaan ini telah dimulainya sejak ia masih remaja sekitar empat puluhan tahun yang lalu.

Pada masa remaja dulu lagu-lagu yang diciptakannya  banyak yang bertema cinta. Namun sayang, lagu-lagu cinta yang diciptakannya dulu hanyalah menjadi koleksi pribadinya, tidak dipublikasikan dalam sebuah kaset. Kebiasaan mencipta lagu ini terus berlanjut hingga menjadi ia diangkat menjadi  PNS di lingkungan Dinas P & K bahkan sampai sekarang.

Menciptakan sebuah nyanyian merupakan bagian kecil dari keahliannya. Darah seni yang mengalir di tubuhnya membuat pengagum Ki Dalang Narto Sabdo (Alm) ini  banyak berkecimpung dibidang seni. Pada  tahun tujuh puluhan  sampai delapan puluhan ia banyak melakonkan peran utama dalam pertunjukan kethoprak maupun pagelaran wayang orang yangwaktu itu diselenggarakan oleh Departemen Penerangan. Waktu itu, ia sangat dikenal  sebagai pemeran Janoko dalam setiap pagelaran wayang orang.

Selain tampil pada pentas-pentas kesenian yang diselenggarakan oleh pemerintah, hampir tiap hari ia tak pernah lowong  mendapat undangan untuk mengisi kegiatan-kegiatan kesenian seperti  kethoprak, wayang orang maupun menyanyi pada acara hajatan yang diselenggarakan oleh masyarakat.

Menapaki usia lima puluhan, ibu empat orang anak, ini mulai mengurangi aktivitas di pentas-pentas kesenian.  Sepulang kerja, ia lebih banyak tinggal di rumah sambil menciptakan  lagu. Saat ini, Suryani  tengah menggarap sebuah lagu yang  bertemakan tentang Putri Sukowati dan nDayu Alam Asri.
PROSES MENCIPTA SEBUAH NYANYIAN
Dalam proses  menciptakan  sebuah lagu, tahap  awal yang dilakukan adalah mencipta notnya dulu. Baru kemudian syairnya. Yang paling penting diperhatikan, menurutnya adalah dinamic atau keras lembutnya sebuah lagu, karena hal ini dapat mempengaruhi emosi jiwa yang menyanyikan maupun  yang mendengarnya.

Setelah lagu dan syairnya terbentuk dengan baik dan serasi baru kemudian ia melakukan rekaman. Bila nyanyian tersebut merupakan sebuah pesanan dari seseorang atau organisasi, usai rekaman,  kaset tersebut dapat diberikan pada pemesannya.
SETIAP LOMBA PASTI MENANG
Sejak remaja hingga kini, tidak ada satupun lomba cipta lagu maupun menyanyi yang diikutinya yang tidak ia menangkan. Kalau tidak mendapat juara satu pastilah juara dua. Namun yang paling penting bagi Suryani adalah menyalurkan hobinya dibidang seni. Bagi dirinya, kakak laki-lakinya yang bernama Teguh Widodo (Alm) adalah orang yang paling berjasa dalam membentuk dirinya hingga mahir diberbagai bidang kesenian. Dari kecil hingga remaja, sang kakaklah yang melatih dan menggembleng dirinya dibidang kesenian,  sehingga menjadi serorang maestro didunia seni. 

Bothol Tawon Madu Mbah Mustari


Siapa bilang tawon hanya dapat bermanfaat sebagai penghasil madu. Ternyata dengan sedikit kreatifitas, tawon madu dapat diolah menjadi “bothok” lauk yang lezat teman santap nasi putih. Rasanya sedikit asam dan pedas berasal dari perpaduan bumbu dan parutan kelapa. Sangat enak bila disantap dengan nasi putih yang hangat dan sayur asam.  Menu makanan khas dari bahan baku tawon madu ini kini banyak digemari masyarakat.

Lauk sederhana ini menjadi menu spesial bagi banyak pelanggan rumah makan mBah Mustari yang terletak di Pungkruk, Kecamatan Sidoharjo,  Kabupaten Sragen. Menurut Imam Asngari, sang pemilik warung makan, pelanggannya banyak berasal dari kalangan pejabat. Mulai dari Sekretaris Daerah, Kepala Badan hingga pejabat dari luar kota. Imam Asngari menjelaskan, menu makanan bikinannya ini sudah melengkapi menu di rumah makannya sejak 2 tahun lalu. Sejak itu pula tiap hari bothok tawonnya laris manis di beli pelanggannya.
Bukan sekedar sebagai menu makanan, botok tawon  madu juga memiliki khasiat yang bermanfaat. Seperti dapat mengurangi rasa pegal-pegal, menguatkan stamina tubuh dan mengurangi kadar gula darah. Dan jika konsumsi secara teratur botok tawon madu ini juga menyembuhkan adanya penyempitan sel tubuh dan perbaikan penyumbatan pada sendi.

Setiap hari, rumah makannya menyajikan minimal 300 bungkus bothok tawon madu. Biasanya jam tiga sore bothok tawonnya sudah habis. Jadi bila ingin menikmatinya jangan membeli di rumah makannya lebih dari jam tiga. “Paling banter, jam 3 sore pasti sudah habis” kata Imam Asngari. Harganyapun cukup terjangkau, yakni hanya Rp. 3.000,- perbungkusnya. Bahan bakunya tak sulit, menurut Imam Asngari, ia  telah mempunyai peternak lebah binaanya sendiri. Ada sepuluh peternak lebah binaannya. Setiap dua hari sekali peternak lebah tersebut setor tawon madu ke dapur rumah makannya. Sekilo tolo biasanya dapat menghasilkan 25 bungkus botok tolo tawon.

Cara memasaknya sederhana dan relatif singkat. Tawon madu yang masih tersimpan didalam sarangnya, terlebih dahulu di panaskan dengan air selama 3 menit. Setelah hancur angkat dari air panas dan ditiriskan. Bumbu-bumbu yang terdiri bawang merah bawang putih, garam, gula, daun salam dan cabe ditumbuk halus. Kemudian dicampur dengan parutan kelapa dan masukkan tawon madu. Setelah tercampur dengan baik, bungkus dengan  daun pisang dan dikukus. Cukup sepuluh menit, bothok yang dikukus biasanya telah matang dan siap untuk dihidangkan. Sementara untuk menyajikan menu botok tolo tawon, dia sengaja membungkus daun pisang.

Saat Anda mencoba mencicipi botok tersebut, ada sedikit aroma lebah atau tawon menyengat hidung saat pelepah daun pisang pembungkus botok dibuka. Mau mencoba kelezatan bothok tawon, silahkan datang ke warung bothok mBah Mustari.

Sumber : disini  
 

Pengunjung Online

Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Berita Pulau Seribu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah