Headlines News :
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Segarnya, Yogurt ala Siswi SMP di Pulau Seribu

Menikmati es yogurt saat cuaca terik membuat rasa panas dan haus terlepas semua. Tak hanya itu, kandungan nutrisi dalam yogurt sangat baik untuk kesehatan. Dengan mengkonsumsi yoghurt 2-3 porsi sehari, dapat mengurangi tekanan darah tinggi. Selain itu berdasarkan penelitian, yogurt dapat mengatasi berbagai masalah pencernaan.
Karena kaya manfaat, sejumlah siswi SMPN 133 Jakarta di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, membuat es yogurt strawberry. Berbeda dengan yogurt kebanyakan yang biasa disajikan dalam bentuk cair, para siswi tersebut membuat yogurt beku yang dikemas seperti es lilin.
"Tujuan pembuatan es yoghurt ini sebagai salah satu produk jajanan sehat anak-anak," ujar Ayu S, guru pembimbing dalam pembuatan es yogurt, Rabu (10/10).
Menurutnya, proses pembuatan es yoghurt strawberry tidak terlalu sulit. Dengan bahan dan alat sederhana siapapun dapat membuat es yogurt strawberry. "Saya pun saat membimbing anak-anak untuk membuatnya tidak ada kesulitan, karena prosesnya gampang, ke depan kita mau coba bahan yang khas pulau seperti sukun dan ceremai" jelasnya.
Dian (14), Siswi Kelas VIII SMPN 133 Jakarta mengaku, dari pengalaman itu membuat dirinya ketagihan. "Ini pengalaman baru buat saya, jadi ingin mencoba selalu," kata Dian yang memamerkan yogurt buatannya saat Penilaian Lomba Sekolah Sehat di sekolahnya.
Cara membuat es yoghurt strawberry, menurut Dian, bahannya hanya susu yang di fermentasi. Untuk bahan strawberry, bisa menggunakan buahnya yang sebelumnya di blender halus terlebih dahulu. "Kalau semua bahannya sudah ada, kita tinggal campurin secara merata, terus dimasukin ke plastik yang buat es lilin. Terakhir masukin dalem kulkas sampe keras," kata Dian dengan logat pulaunya.
Sumber : beritapulauseribu.com

Lezatnya Ayam Goreng Khas Sragen

Menyantap hidangan sambil menikmati pemandangan asri sudah barang tentu menghadirkan kenyamanan tersendiri. Bercengkerama dengan ikan-ikan di kolam, tanaman dan gemerincing air pancur kian menambah selera untuk melahap menu yang tersaji.
 


Itulah sedikit gambaran suasana kenyamanan jika menyantap sajian di Rumah Makan Roso Joyo II, Sragen. Menggabungkan konsep cita rasa dan suasana alam terbuka, rumah makan di Jalan Irian, Nglorog Sragen ini memang layak menjadi salah satu referensi wisata kuliner di Bumi Sukowati.
 
“Konsep utama kami adalah kenyamanan selain cita rasa masakan tentunya. Untuk lokasi sengaja kami desain bervariasi menyesuaikan jenis acara dan kebutuhan. Yang ingin santai ada lesehan, yang ingin romantis bisa di gazebo atau untuk keperluan formal seperti rapat atau seminar kami sediakan gedung atau aula,”papar Yohanes Paidin, pemilik RM Roso Joyo, di sela-sela kesibukannya mengurus Rumah Makannya.
 
Sebagai gambaran, Rumah Makan Roso Joyo II adalah pelebaran sayap bisnis dari RM pertama di Jl Sukowati, No 461, Sragen. Dengan luas 3.500 m2 dan berada di dekat areal persawahan, RM Roso Joyo II ini sengaja didesain modern namun tetap mengedepankan keasrian alam.

Selain acara formal dan keluarga, kenyamanan suasananya juga cocok untuk kalangan remaja. Dengan kapasitas hampir 1.000 tempat duduk, yang meliputi ruang pertemuan, aula, restoran, dan gazebo, rumah makan ini juga siap menjadi pilihan untuk acara formal seperti pernikahan dan rapat.
Tak hanya suasananya yang nyaman, menu yang disajikan pun cukup diandalkan. Ya, ayam goreng kampung adalah menu yang paling dominan sekaligus andalan utama.
Ketagihan
Meski banyak dijajakan dan hampir ada di setiap rumah makan, tapi di kalangan penikmat kuliner, cita rasa unik dan khas Sragen menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggan ayam goreng Roso Joyo.

“Kalau masakan Jogja kan terkenal Manis. Jawa Timuran terkenal asin. Nah, kami memadukan dua cita rasa itu menjadi cita rasa menu ayam goreng kami menjadi cita rasa khas Sragen,”ujar sang istri, Anna Suzzana.
Selain ayam goreng, masih ada varian menu yang tak boleh dikesampingkan. Bagi pecinta sea food, ada gurame bakar/goreng, nila bakar, dan menu berbahan ikan segar lainnya. Sedang kalangan vegetarian, bisa menyantap menu berbahan sayuran seperti cha kangkung.

Hal lain yang membuat penikmat kuliner ketagihan adalah standar harga yang sangat pas untuk ukuran kebanyakan. Untuk satu ayam utuh hanya dibanderol Rp 52.000, lalu perpotong ayam goreng/ bakar hanya Rp 12.500. Pun demikian dengan layanan katering, satu dos nasi ayam plus lalapan hanya dipatok Rp 15.000.

Daripada penasaran, tak ada salahnya Anda menuntaskan rasa penasaran dengan mengisi liburan akhir pekan dengan berekreasi sekaligus mencicipi masakan khas Sragen di rumah makan ini. (Wardoyo)

Sumber : JogloSemar

Soto Girin Sragen

Pagi itu, sekitar pukul tiga pagi, Sugimo (55) bersama istrinya Sujiah (53) nampak sudah terlihat sibuk meracik bumbu di dapurnya yang terbilang tidak begitu luas. Di dapur tersebut Gimo dan istrinya meracik dan memasak soto dengan menggunakan tungku yang berbahan bakar kayu bakar. Telah menjadi kebiasaan mereka bangun di pagi buta untuk memasak soto. Pasalnya, setiap hari mulai jam 6 pagi soto daging olahannya harus sudah siap saji karena telah ditunggu oleh banyak pelangganya di warung Soto Daging sapi miliknya. Soto Gimo Girin, begitu ia memberi nama warung sotonya itu. Embel-embel nama Girin merupakan trade mark baginya, yang menunjukkan bahwa ia salah satu pewaris Soto Girin yang pernah dikelola oleh ayahnya yang bernama Mbah Girin.

Gimo memperoleh resep meracik soto belajar dari orang tuanya sendiri mbah Girin namanya, sang empunya warung Soto Girin. Bagi warga Sragen nama Soto Girin sudah tidak asing bahkan sudah menjadi legenda dan salah satu icon wisata kuliner di Kabupaten Sragen. Mbah Girin mulai merintis membuka warung soto sejak tahun 1954 silam. Kurang lebih 32 tahun Mbah Girin mengelola warung soto miliknya, hingga tahun 1984. Sejak dulu, warung soto Girin ini tak pernah sepi dari pelanggan.

Sejak anak-anaknya masih kecil, Mbah Girin sudah mengajari anak-anaknya bagaimana cara memasak soto yang nikmat. Alhasil, semua anak-anaknya yang berjumlah empat orang, memilih jalan hidup yang sama dengan Mbah Girin yakni menjadi penjual Soto yang sukses. Salah satu anaknya bernama Gimo yang kini mempunyai warung soto sendiri yang bernama Soto Gimo Girin.

Ibarat buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, Gimo Girin muda kala itu sekitar awal tahun tujuh puluhan, punya keinginan kuat untuk mendirikan sebuah usaha sendiri layaknya usaha milik ayahandanya. Keinginannya terwujud pada tahun 1975. Meski semula hanya berdiri diemperan sebuah toko, tidak masalah baginya, yang penting warung soto yang menjadi cita-citanya telah terwujud. “Pernah usaha saya di bongkar karena emperan tokonya mau dibangun, kemudian saya beralih tempat tidak jauh dari tempat semula” kenangnya pada masa-masa sulit yang pernah ia lalui saat merintis usaha miliknya.

Pada tahun 1986, usahanya telah menampakkan hasil, sehingga ia bisa membeli sebuah rumah yang terletak cukup strategis, tidak jauh dari tempat pertama ia mendirikan usaha. Rumah sederhana yang yang beralamat di Ringin Anom RT 01 / 17 Sragen, kemudian disulap menjadi sebuah warung soto daging sapi. “Sejak menempati kios permanen tersebut usaha soto saya mulai meningkat pesat hingga sedikit demi sedikit saya bisa memperbaiki bangunannya” akunya. Bintang keberuntungan benar-benar berpihak kepadanya. Setiap hari, pelanggannya tak pernah sepi, bahkan meningkat. Dagangan soto miliknya setiap hari pasti terjual habis. “Dagangan soto saya tak pernah sisa, pasti habis setiap harinya, pada suatu waktu saya pernah menambah jumlah stok dagangan dan ternyata habis juga, namun bila stoknya kami tambah terus, tenaga kami kewalahan, ” terangnya.
Pelanggan yang datang di warung sotonya terdiri dari berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari tukang becak hingga Pejabat Departemen Pusat Jakarta. ”Banyak juga mas, pejabat dari Jakarta yang datang kesini, semula saya tidak tahu kalau dia pejabat, namun setelah dua kali, tiga kali datang akhirnya saya tahu kalau yang jajan tersebut adalah Pejabat dari Pusat. Misalnya saja pak Wiyono (Drs. Wiyono Msi, Kepala Bidang Diklat dan Kependudukan Departemen Dalam Negeri )” terangnya.

Selain orang Sragen, banyak juga pelanggannya yang berasal dari luar daerah Sragen. Banyak orang-orang Solo yang datang kesana, selain hanya sekedar mampir jajan, sebagian ada yang mengkhususkan datang hanya untuk jajan soto buatan Gimo Girin.

Meski warungnya terbilang sempit kurang lebih berukuran delapan kali enam meter, tak disangka bisa menampung lebih dari lima puluh orang. Bapak empat anak ini mengaku sering kedatangan tamu rombongan bis wisata yang berjumlah kurang lebih lima puluh sampai seratus orang, yang mampir kesini untuk jajan soto. Namun, biasanya sehari sebelumnya mereka memesan terlebih dahulu lewat telepon.

Bahkan tidak sedikit yang telah menjadi pelanggan di warungnya sejak masih berusia anak-anak. Seperti yang diungkapkan Ny. Wasis (35), seorang PNS di Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Sragen yang ditemui saat sedang menyantap soto di warung soto Gimo Girin, “ Keluarga saya hampir semuanya pelanggan warung soto sini, termasuk kakek-nenek saya, jadi sejak kecil saya sudah sering jajan disini”.

Sementara pengakuan pelanggan lainnya, Ina Nugroho (42), sejak ia pindah ke Sragen tahun 1989 silam ia langsung terpikat dengan soto masakan Gimo. Sebelumnya ia sering berpindah-pindah warung langganan. Sejak menemukan warung Gimo Girin Instruktur senam tersebut enggan menyantap soto di tempat lainnya.

Setiap harinya, warung Soto Girin mulai buka sekitar jam enam pagi. Sejak jam enam pagi itu pula pelanggan sudah mulai datang untuk sarapan soto. Tidak sampai siang, sekitar jam sepuluh atau paling siang jam sebelas, sotonya pasti telah habis. Bisa dipastikan bila datang kesini lebih dari jam sebelas, tidak akan kebagian soto sedap racikan Pak Gimo. ”Kadang jam sepuluh paling lambat jam sebelas, soto daging sapi racikan saya telah terjual habis” tegasnya. Setiap harinya ia sengaja tidak menambah jumlah porsi soto dagangannya. ”Capek mas, saya menjual sesuai kemampuan tenaga saya saja, kalau nanti menambah jumlah porsi, saya kawatir tenaga saya dan istri saya akan terforsir,”ungkapnya.

Semua bumbu yang digunakan untuk memasak soto ia kerjakan sendiri, bukan orang lain termasuk istrinya sendiri. ”Kalau yang mengerjakan orang lain nanti rasanya pasti berbeda” ungkapnya. Ia mengaku tidak ada yang berbeda dengan bumbu-bumbu soto lainnya, namun ia punya kiat khusus yakni takaran bahan-bahan yang digunakan untuk bumbu diusahakan tepat. Bumbu-bumbu yang ia gunakan pun hanya berasal dari bumbu-bumbu tradisional, jadi lebih aman dan sehat untuk dikonsumsi.
Setelah kiosnya tutup sekitar jam sebelas siang. Biasanya ia menyempatkan diri untuk istirahat sejenak. Selepas istirahat siang, tangannya seakan tak pernah lelah, kembali ia mulai meracik bumbu soto. Karena sejak awal tahun 2008 ini, Soto Gimo Girin membuka warung soto di Pusat Jajan Malam Hari (Pujamari ) yang terletak di halaman Galery Batik Sukowati. Pelanggan yang tidak bisa menikmati sedapnya soto di pagi hari, pada malam hari dapat menjumpainya di Pujamari sekitar jam lima sore hari hingga jam sembilan malam.
 
Sumber : sragenholic

Bothol Tawon Madu Mbah Mustari


Siapa bilang tawon hanya dapat bermanfaat sebagai penghasil madu. Ternyata dengan sedikit kreatifitas, tawon madu dapat diolah menjadi “bothok” lauk yang lezat teman santap nasi putih. Rasanya sedikit asam dan pedas berasal dari perpaduan bumbu dan parutan kelapa. Sangat enak bila disantap dengan nasi putih yang hangat dan sayur asam.  Menu makanan khas dari bahan baku tawon madu ini kini banyak digemari masyarakat.

Lauk sederhana ini menjadi menu spesial bagi banyak pelanggan rumah makan mBah Mustari yang terletak di Pungkruk, Kecamatan Sidoharjo,  Kabupaten Sragen. Menurut Imam Asngari, sang pemilik warung makan, pelanggannya banyak berasal dari kalangan pejabat. Mulai dari Sekretaris Daerah, Kepala Badan hingga pejabat dari luar kota. Imam Asngari menjelaskan, menu makanan bikinannya ini sudah melengkapi menu di rumah makannya sejak 2 tahun lalu. Sejak itu pula tiap hari bothok tawonnya laris manis di beli pelanggannya.
Bukan sekedar sebagai menu makanan, botok tawon  madu juga memiliki khasiat yang bermanfaat. Seperti dapat mengurangi rasa pegal-pegal, menguatkan stamina tubuh dan mengurangi kadar gula darah. Dan jika konsumsi secara teratur botok tawon madu ini juga menyembuhkan adanya penyempitan sel tubuh dan perbaikan penyumbatan pada sendi.

Setiap hari, rumah makannya menyajikan minimal 300 bungkus bothok tawon madu. Biasanya jam tiga sore bothok tawonnya sudah habis. Jadi bila ingin menikmatinya jangan membeli di rumah makannya lebih dari jam tiga. “Paling banter, jam 3 sore pasti sudah habis” kata Imam Asngari. Harganyapun cukup terjangkau, yakni hanya Rp. 3.000,- perbungkusnya. Bahan bakunya tak sulit, menurut Imam Asngari, ia  telah mempunyai peternak lebah binaanya sendiri. Ada sepuluh peternak lebah binaannya. Setiap dua hari sekali peternak lebah tersebut setor tawon madu ke dapur rumah makannya. Sekilo tolo biasanya dapat menghasilkan 25 bungkus botok tolo tawon.

Cara memasaknya sederhana dan relatif singkat. Tawon madu yang masih tersimpan didalam sarangnya, terlebih dahulu di panaskan dengan air selama 3 menit. Setelah hancur angkat dari air panas dan ditiriskan. Bumbu-bumbu yang terdiri bawang merah bawang putih, garam, gula, daun salam dan cabe ditumbuk halus. Kemudian dicampur dengan parutan kelapa dan masukkan tawon madu. Setelah tercampur dengan baik, bungkus dengan  daun pisang dan dikukus. Cukup sepuluh menit, bothok yang dikukus biasanya telah matang dan siap untuk dihidangkan. Sementara untuk menyajikan menu botok tolo tawon, dia sengaja membungkus daun pisang.

Saat Anda mencoba mencicipi botok tersebut, ada sedikit aroma lebah atau tawon menyengat hidung saat pelepah daun pisang pembungkus botok dibuka. Mau mencoba kelezatan bothok tawon, silahkan datang ke warung bothok mBah Mustari.

Sumber : disini  

Sate Kuda Penambah Stamina

“Sate Kuda” kedengarannya memang belum begitu lazim. Tapi masakan yang satu ini memang lumayan banyak yang mengonsumsinya. Bahkan keberadaannya kerapkali dikaitkan dengan mitos-mitos makanan penambah stamina. Tak mengherankan bila keberadaannya selalu diburu oleh banyak orang.

Kuda merupakan lambang kekuatan. Jangan heran jika gambar kuda sering diabadikan sebagai logo obat kuat. Bahkan, ada juga mitos yang menceritakan kehebatan Patih Gajah Mada berasal dari kegemarannya menyantap daging kuda saban hari.

Salah satu penjaja sate kuda di Kota Sragen adalah Warung Makan Sate Kuda Mbak Yuni yang berada di Kios Renteng sebelah selatan alun-alun.. Warung sederhana yang dikelola oleh Mbak Yuni ini, tiap harinya selalu menyediakan berporsi-porsi sate kuda dan aneka masakan dari binatang kuda.

Menurut Yuni, para pembeli sate kuda ini merupakan konsumen khusus. Tidak semua orang suka dengan sate kuda. Selain jenis makanan seperti ini belum familier, kebanyakan yang mencari masakan ini adalah orang-orang yang percaya pada khasiat khasiat daging kuda. Selebihnya, adalah orang-orang yang penasaran dan orang-orang yang memang telah biasa mengonsumsinya.

’’Daging kuda itu memiliki banyak khasiat, salah satunya adalah untuk menambah stamina dan gairah. Di luar itu, bisa juga untuk membantu mengatasi risiko asam urat, rematik, kencing manis, asma sampai gatal eksim. Karena kuda termasuk binatang yang suka bergerak, kolesterolnya pun menjadi sangat rendah,’’urai Yuni mengenai khasiat dari masakan yang diolahnya.

Dari sisi bentuk, masakan sate kuda memang tak jauh berbeda dengan sate-sate lainnya. Bentuk sajiannya juga sama, yakni dicelupkan dengan larutan kecap yang telah dilengkapi dengan berbagai macam lalapan. Yang sedikit berbeda barangkali hanya masalah rasa. Daging kuda memiliki rasa agak manis dibanding daging-daging lainnya.

Untuk mendapatkan daging kuda, Yuni mengaku tidak bisa memerolehnya di Sragen. Setiap tiga hari sekali dia harus pergi ke Desa Segarayasa Pleret Bantul Yogyakarta, karena di sanalah daging-daging kuda terbaik tersedia. Dari segi penjualan, perharinya Yuni bisa menghabiskan lima kg daging kuda.

Daging kuda untuk sate tidak bisa sembarangan. Harus daging has dalam. Bagian tersebut, menurut Yuni, adalah bagian terempuk dari keseluruhan daging kuda. “Kalau daging sapi, biasanya ada di bagian lulur dalam,” ujarnya.

Selain sate daging kuda, Yuni juga menyuguhkan sate zakar kuda. Namun, untuk mendapatkannya, pembeli harus memesan terlebih dulu. Satu zakar kuda bisa menjadi beberapa tusuk sate. “Cukup mahal harganya karena harga zakar mentahan mencapai Rp 70.000,” ujarnya. Proses memasaknya juga lebih sulit karena bisa menghabiskan dua liter minyak tanah agar daging lebih empuk.

Tapi perlu dicatat, di balik beragam khasiat sate kuda ini ternyata kadang ada juga efek sampingnya yaitu bisa menyebabkan darah tinggi. Meskipun bisa saja efek ini tidak terjadi pada semua orang. (N.Hart)

Garasi Café rasa Bintang Lima Harga kawan Lama


Terletak di lokasi strategis yakni di Jalan RA Kartini atau tepatnya di perempatan Teguhan Sragen membuat garasi café semakin hari semakin bertambah pelanggannya. Bukan hanya kawula muda yang senang kongkow-kongkow di warung makan ini, namun juga para karyawan atau pegawai kantoran  memilih rumah makan ini menjadi tujuan tempat makan siang disela-sela kesibukannya. 

Rumah makan yang baru dibuka 4 bulan lalu ini setiap harinya mulai buka pukul 11.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB, bahkan apabila weekend buka hingga larut malam karena biasanya tempat ini menjadi ajang kumpul-kumpul. maka tutupnya pun harus menunggu para pembeli selesai nongkrong. 

Chaerani pemilik Garasi Café mengungkapkan konsep rumah makannya adalah nyaman dengan full music, para pengunjung dissediakan  fasilitas karaoke gratis. Menu  andalan  rumah makan yang didesain berwarna-warni ini adalah ayam goreng garasi, nasi goreng special garasi, Steak Udang, udang goreng tepung, pisang owol dan tahu pyor. Jenis  masakan tersebut  dijamin tidak  dijumpai ditempat lain. 

Sementara untuk minuman andalan adalah aneka olahan kopi seperti lazimnya kedai kopi yang ada di kota besar diracik dengan menggunakan coffe maker menjadikan rasa dan aroma lebih nikmat. Menu yang disediakan diantaranya ice capuccino, mochaccino, coffee latte shake, strawberry coffee dan banana frostie. Sementara untuk minuman hangatnya tersedia Tijuana coffee, vanilla latte, Frapuccini, Mint Coffeemix dan simple Irish Coffee. 

Aneka Juice juga tersedia dengan harga terjangkau Rp 3.000- Rp 5.000 pergelasnya langsung bisa menyeruput segarnya juice dengan buah asli. Tersedia juice cocktail, juice anggur, juice pear, juice sawo, juice strawberry dan variasi juice lainnya. Apabila menginginkan rasa lain dari yang lain, cobalah special juice seperti Guava carrot Juice, carrot Orange Juice, Guava Straw Juice, Pink Lady Punch, Milk Shake Grape dan Blueberry Shake. 

“Keunggulan tempat ini adalah rasa bintang lama dengan harga kawan lama. Jadi jangan heran kalau harga minuman paling mahal adalah Rp 5.000, sedangkan untuk menu makanan maksimal Rp 8.000 seporsi,” promo Chaerani. 

Kelebihan lain dari Garasi café adalah menerima pesanan dalam kota tanpa tambahan ongkos kirim. Cukup dengan minimal order Rp 10 ribu, makanan bisa langsung disantap tanpa repot keluar kantor ataupun keluar rumah. “Biasanya para karyawan yang ingin makan siang tapi sedang sibuk dan tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, memilih pesan via telepon dan langsung kami antar dalam waktu secepatnya,” jelas nenek satu cucu yang masih kelihatan muda ini. 

Chaerani menerangkan asal mula nama Garasi Café karena sebelum berlokasi di tempat ini, rumah makannya berlokasi di garasi kediamannya di kampong  Taman Asri. Namun karena lokasi difungsikan untuk usaha lain, maka rumah makan ini akhirnya pindah ke Teguhan. Tentunya lokasi baru ini tampilan desain interiornya lebih cerah dan menarik. 

Resep turun temurun dan hobi masak Chaerani lah sehingga terbersit ide untuk membuat rumah makan ini, apalagi konsep rumah makan semacam ini masih jarang di Kota Sragen. 

“Modal awal sekitar  Rp 20 Juta, namun dengan tingginya animo masyarakat Sragen untuk jajan ditempat ini membuat omset perhari mencapai ratusan ribu bisa sudah bisa untuk menutup modal,” terangnya. 

Anda tertarik mencoba, silahkan datang saja, kalau sibuk ya cukup telepon saja pesanan  akan diantar langsung ketempat anda!

Nasi Sambel Tumpang Sorsi, Sederhana Penuh Sensasi

Mungkin Anda sudah tak asing lagi dengan masakan ya satu ini, Sambel Tumpang. Disajikan dengan nasi yang masih hangat, masakan ini akan semakin memanjakan lidah Anda. Memang, masakan ini bisa jumpai di banyak tempat khususnya di daerah Solo, khususnya daerah Sragen. Namun, tak semua warung makan siap saji bisa menyajikan masakan ini menjadi begitu nikmat.

Warung Makan Sorsi, mungkin ini sudah tak asing lagi bagi warga Sragen. Dinamakan Sorsi, karena warung ini berada di ngisor wit trembesi yang artinya di bawah pohon trembesi. Warung ini hanya buka pada sore sampai dini hari, yaitu jam 17.00 sampai jam 03.00 pagi. Warung ini hampir tak pernah sepi dari pengunjung. Walaupun tempatnya sederhana, warung inilah yang menyediakan nasi sambel tumpang yang banyak disenangi oleh masyarakat Sragen. Cita rasanya yang khas dan penuh sensasi menjadikan setiap pengunjung untuk selalu kembali menikmatinya. Disajikan dengan pincukan, menambah nuansa kesederhanaan dan menjadikan pembeda dengan warung makan yang lain. Saat lebaran Warung Makan Sorsi ini bahkan menjadi jujugan para pemudik yang ingin merasakan kuliner khas Sragen.

Bagi Anda yang belum pernah mencicipi, mungkin masakan ini perlu dicoba. Tidak susah menemukan warung makan ini, yaitu berada di sebelah barat Pasar Bunder Sragen, dekat dengan deretan kios penjual helm. Penjualnya yang ramah akan siap menyambut Anda dengan senyum khasnya. Bila Anda kurang suka dengan masakan sego tumpang, warung ini juga menyediakan menu lain seperti nasi pecel, soto khas Sragen dan lain-lain. Selamat mencoba....
Sumber : sragenholic 

Loyo, minum saja Kaleyo Rasa Lezat, Omzet Melesat

Susu nikmat ini menjadi alternatif yang banyak dicari sebagai pengganti susu sapi. Selain rasanya yang gurih dan biayanya lebih murah, susu kaleyo memiliki kadar protein yang sangat tinggi. Di tangan Jumbadi (69), susu kaleyo tersebut tidak hanya bisa dikonsumsi sebagai minuman sehari-hari, tetapi juga dapat untuk mencegah dan mengobati beberapa macam penyakit.

Menurut beberapa pelanggan, berbagai penyakit yang dideritanya dapat sembuh dengan mengkonsumsinya secara rutin setiap hari. Penyakit-penyakit yang dapat disembuhkan diantarannya adalah magh akut, ambein, flek-flek di dahi, pencegah kanker prostat dan pencegah penyumbatan arteri.

Susu Kaleyo tidak hanya baik untuk orang dewasa saja. Susu ini juga sangat cocok untuk asupan anak-anak usia 2 hingga 5 tahun. Dibandingkan dengan tepung gandum, tepung kedelai mengandung 15 kali lebih banyak kalsium, 7 kali fosfor, 10 kali zat besi, 10 kali vitamin B, 9 kali Vitamin B2, 5 kali niasin dan 5 kali mineral.

Apa sebenarnya susu kaleyo ini? susu ini terdiri dari kedelai, kacang hijau dan bekatul. Sengaja ditambahkan bekatul karena menurut kakek 5 cucu ini, bekatul ternyata memiliki kandungan zat-zat yang dapat bermafaat bagi tubuh manusia.

Bekatul yang ini jangan disamakan dengan bekatul biasa. Namun telah melewati beberapa proses pengolahan sehingga aman dan bermanfaat bagi tubuh. Dan yang penting bebas dari bahan-bahan kimia.

Bekatul mempunyai kandungan vitamin B15 yang sanggup mengoptimalkan kerja aneka organ tubuh dan dapat menguatkan jantung. Vitamin B15 memang belum dikenal masyarakat. Padahal, senyawa yang juga disebut pangamic acid ini memiliki banyak khasiat. Struktur kimia vitamin B15 adalah Glucono-dimethy-lamino-acetic-acid, ditemukan oleh Dr. Krebs Junior, ahli biokimia dari San Francisco, Amerika Serikat, pada tahun 1952.

Pensiunan PNS ini mulai memproduksi susu kedelai sekitar tujuh tahun lalu. Terilhami dari membaca buku karangan Gravv, SVD tentang manfaat susu kedelai, ia mulai memberanikan diri untuk mencoba memproduksinya. Dari semula hanya sekedar coba-coba, sejak tahun 2003 menjadikannya sebagai bisnis sampingan yang menguntungkan.

Bahan mudah di dapat, pembuatan mudah
Bahan pembuat susu kedelai itu, menurut Jumbadi, sangat mudah didapat, yakni kedelai, kacang hijau, bekatul dan gula. Namun dalam memilih bahan-bahan yang digunakan, ia tak sembarangan. Hanya bahan-bahan yang berkualitas bagus yang digunakannya. Menurutnya bahan yang bagus akan mengahasilkan khasiat yang bagus pula.

Proses pembuatannya sangat sedehana, kedelai dan kacang hijau di jemur terlebih dahulu hingga kering, kurang lebih 3 kali penjemuran. Setelah kering betul ketiga bahan kemudian dicampur dengan perbandingan bekatul 10 %, kedelai 45 % dan kacang hijau 45%. Setelah itu masing-masing bahan tadi di goreng tanpa minyak atau di sangrai. Disinilah rahasia dari susu kaleyo ini. Kualitas sangrai yang bagus diketahui dari aroma. Ia telah mempunyai seorang pekerja yang ahli dibidang ini. Pada proses sangrai tidak boleh terlalu matang. Bila terlalu matang rasanya akan tidak enak. Proses selanjutnya adalah penggilingan. Setelah digiling memakai mesin penggiling hingga lembut, kemudian di saring, maka jadilah sereal yang siap dikemas.

Di tempat tinggalnya yang beralamat di Desa Tenggak Rt 2 Kecamatan Sidoharjo Kabupaten Sragen, setiap minggunya tak kurang 300 bungkus ia produksi, atau setara dengan 75 kg. Untuk memproduksi sebanyak itu, dibutuhkan 7,5 kg bekatul, 30 kedelai dan 37,5 kacang hijau. Satu kilogram kacang hijau ia beli dengan harga Rp. 9.000,- sedangkan kedelai kualitas bagus Rp. 10.000 sementara bekatul ia beli dengan harga Rp.2.000 / kg-nya. Ongkos produksinya relatif sangat murah yakni sebesar Rp. 100.000 untuk setiap 300 bungkus. Sedangkan harga jualnya per bungkus ia bandrol Rp. 15.000. Dalam setiap bulan ia mampu menjual 1200 bungkus. Setelah dikurangi ongkos produksi dan gaji pekerjanya ia mendapat penghasilan bersih sebesar Rp. 2.750.000,-. Sebuah penghasilan tambahan yang lumayang bagi seorang pensiunan PNS.

Ia mengaku tidak mendapat kesulitan dalam memasarkan produknya. Awalnya ia memang menawarkan sendiri ke beberapa rekannya, dan sering mengikuti pameran. Tapi sekarang ia tinggal menerima pesanan yang datang dari berbagai kota besar di Jawa  antara lain Solo, Yogyakarta, Jakarta, Semarang bahkan dari luar pulau Jawa.

Jumbadi tidak menawarkan janji tetapi bukti. Ia menuturkan pelanggannya yang membuktikan khasiat dari susu Kaleyo ini. Menurut Jumbadi salah satu pelanggannya adalah Mantan Menteri Koperasi Siswono Yudo Husodo. Selain itu masih banyak pelanggannya dari berbagai kota yang merasakan khasiat dari susu Kaleyo ini.

Untuk mengkonsumsinya, sereal bekatul tinggal dicampur dengan air hangat boleh ditambah gula. Maka akan menjadi minuman yang lezat dan berkhasiat. ”Tidak pahit, rasanya nikmat sekali, sangat baik diminum 2 kali dalam sehari” tutur lelaki yang berambut putih ini. (N.Hart)

Telor Asib “YONO”, Terkenal Sejak Tahun 1978

Seringkali orang menganggap bahwa untuk memulai suatu usaha tidaklah mudah. Diperlukan ketelatenan, keuletan, disiplin dan pantang menyerah, sehingga   sering  membuat beberapa orang ragu-ragu untuk memulai suatu usaha. Beberapa persyaratan tersebut, ternyata dapat dilakukan oleh   Yono (54), sehingga ia  berhasil dalam merintis usaha pembuatan telor asin. Di sela-sela kesibukannya sebagai sopir bis dan sopir mobil carteran, pemilik nama lengkap Wiyono Hadi ini hanya dengan dibantu istri dan keempat anaknya telah berhasil dalam  menggeluti usaha ini sejak tahun 1978.

Menurut Yono, usaha telor asin tersebut  pertama kalinya dirintis oleh  orang tua   istrinya yakni  Suwarni (50) sekitar tahun 1970 di Purwokerto. Ketika itu ia belajar cara membuat telor asin dari orang tua Suwarni.  Kemudian pada tahun 1978 sepasang suami istri ini pindah ke Sragen dan memulai usaha telor asinnya. Untuk bahan baku berupa telor bebek , ia mengambil   dari berbagai daerah di Sragen seperti Taraman, Plupuh dan  Perum Margo Asri.  Setiap kulakan telor  berkisar antara  1000-1500 butir telur yang dihargai Rp.1000/butir dari pemasok tetapnya.    

Keuntungan  yang didapat  Yono diambil dari dari perhitungan selisih harga kulakan telor dengan harga telor asin yang sudah jadi yang dijual kembali Rp.1.400/butirnya.   “ Dulu pada awal kami memulai usaha ini sekitar tahun 1970 harga grosir yang kami jual Rp 40 rupiah –Rp. 42,5 rupiah. Dan sekarang ini  kami sudah menjual Rp 1.300-1.400/butirnya”, sahut pakYono.  Untuk setiap produksi, keluarga pak Yono menghasilkan 600 butir telur asin. “Kami menghasilkan 600 butir telur asin dalam setiap angkatan yang kami setor ke berbagai langganan kami, seperti supermarket Luwes, toserba Seka, toserba Dian, pasar, dan sebagainya”,  katanya.

Tidak hanya diwilayah Sragen saja, Yono memasarkan  telor asinnya, namun sudah sampai keluar daerah seperti  ke Kartosuro Dari usaha pembuatan telor asin tersebut, Yono mampu meraup keuntungan, yang cukup  untuk membiayai kehidupan keluarganya. Keberhasilan usahanya tersebut telah mendapat apresiasi dari pemerintah, yakni  pada  tahun 2001 lalu, mendapat kesempatan untuk   dikunjungi oleh Menteri Peranan Wanita RI pada waktu itu, yaitu  Sri Rejeki yang  didampingi oleh Bupati Sragen, H. Untung Wiyono.

Telor Asin cap “Yono”, yang diambil dari  nama kepala keluarga ini ternyata sudah dicocoki oleh lidah pelanggannya. Banyak pelanggannya  yang merasakan telor asin ini  buatannya rasanya  seperti telor asin Brebes, yang memang sudah terkenal sebagai daerah penghasil telor asin.  Telor asin cap” Yono “ ini juga menerima pesanan. Jika kita membeli langsung di rumah pak Yono yang beralamat di Jl. Kalimantan no.19, RT/RW:29/09, Krapyak, Sragen ini  akan mendapat potongan  harga special. “Kami sudah punya pelanggan yang menjual telur asin “Yono” , biasanya dalam waktu tiga sampai empat hari telor asin yang kami setorkan sudah terjual habis”, katanya.  Menurut bapak empat anak ini, telor asin  buatannya mampu bertahan  tiga sampai empat minggu. “Namun jika telor bebek yang diolah menjadi asin ini retak atau berlubang,  hanya akan bertahan antara satu sampai dua minggu saja”, imbuhnya

Yono menjelaskan untuk memulai  usaha pembuatan telor asin  ini,  yang pertama kita  harus mempunyai kepastian darimana  mendapat telur bebek mentah. Kita bisa beternak bebek sendiri sebagai penghasil telurnya. Namun apabila tidak memungkinkan,  dapat mengambil dari peternak bebek yang sudah menjadi langganan, sehingga diperoleh  telor yang benar-benar berkualitas.. Berikut ini cara pembuatan telor asin yang telah dipraktekkan selama bertahun-tahun oleh keluarga pak Yono:
  1. Telor bebek yang masih mentah disortir terlebih dahulu, yang bagus diambil dan yang tidak bagus disendirikan.
  2. Telor bebek mentah dibersihkan dan dicuci  dengan di gosok / disikat hingga bersih, dan pilih telor yang betul-betul bagus.
  3. Telor bebek mentah dimasukkan ke tempat penampungan (ember besar yang telah diisi dengan campuran yang terdiri dari garam, batu bata yang dihancurkan, disaring dan air yang telah diaduk) .  Angkat telor-telor yang masih dilumuri oleh larutan campuran garam dan batu bata tadi dan masukkan ke dalam tempat penampungan yang lain.
  4. Setelah proses pengasinan selesai, bersihkan telor bebek yang larutan pengasin  dengan sabun dan air sampai bersih. Tutup tempat penampungan dengan plastik supaya terhindar dari angin dan debu. Penutup tempat penampungan tersebut ditempeli tanggal (kapan mulai menampung telor tersebut). Telur-telur mentah yang telah ditampung dalam tempat penampungan tersebut direndam dalam larutan campuran  garam, air, dan batu bata yang sudah diaduk selama kurang lebih 10-11 hari atau sesuai selera. Untuk telor dengan kadar keasinan rendah disimpan 1 minggu saja, untuk keasinan sedang disimpan selama 2 minggu dan bila ingin sampai “masir” ( kuning telor sampai keluar minyaknya ) disimpan sampai 3 minggu. .
  5. Rebus telor bebek selama kurang lebih tiga jam (sesuai dengan jumlah telur yang direbus.
  6. Disortir kembali, yang retak disingkirkan. Yang bagus dicap merk.
  7. Disetor ke pasar-pasar, toko, supermarket
Proses pembuatan telor asin ternyata cukup  mudah bukan. Mengapa kita tidak mencoba usaha ini ? (Dyah)

Bothok Mercon Jembatan Gawan, Pedasnya Bikin Ketagihan

Lidah orang Sragen identik dengan rasa manis, sehingga banyak kuliner khas di Sragen yang menawarkan makanan dengan rasa manis. Namun berbeda bila kita berwisata kuliner di tempat satu ini yang justru menjual rasa sangat pedas dan terasa panas di lidah, begitu yang pertama kali terasa saat menyantap Bothok Mercon. Rasa pedas yang amat sangat ini merupakan ciri khas bothok yang satu ini. Bagi pecinta masakan-masakan bercita rasa pedas, botok ikan patin ini dijamin akan membuat ketagihan. Saat menyantap bothok mercon, akan terasa lebih nikmat bila ditemani dengan teh manis yang panas. Kebanyakan penikmat bothok mercon akan menghabiskan 2 hingga 3 gelas minuman untuk mengimbangi rasa pedas yang serasa melekat lidah.

Bothok Mercon ini dapat dijumpai di daerah Sragen. Tepatnya di sebuah warung kecil di dusun Tenggak, Desa Nglombo, Kecamatan Sidoharjo. Bila Anda pemudik dari Jakarta yang ke Sragen melewati jalur alternatif Salatiga - Karangggede - Gemolong - Sragen maka setelah 20 meter melewati Jembatan Gawan perhatikan  kiri jalan, Anda akan menjumpai warung bercat kuning oranye dengan tulisan Bothok Mercon terpampang dengan jelas. Telah 30 tahun lebih warung kecil yang berdiri di dekat jembatan Nggawan ini setia dengan menu tunggalnya yakni Bothok Mercon. Namun baru sekitar 3 tahunan ini warung milik Wiro Admojo dan Tumiyem mulai ramai dikunjungi pelanggan. Menurut pengakuannya, sejak diberi nama Warung Bothok Mercon sekitar tiga tahun lalu, warungnya mulai ramai didatangi pelanggan dari berbagai daerah. Semula pelanggannya hanya berasal dari penduduk sekitar. “Sejak diberi nama Mercon, banyak yang penasaran dan ingin mencoba mencicipinya” Terang Wiro. Dari plat nomor kendaraan yang digunakan oleh pelanggannya, terlihat banyak yang berasal dari luar daerah Sragen. Larisnya pelanggan yang mampir ke warungnya karena letak warungnya yang strategis. “Banyak juga pejabat dari Semarang yang mampir ke warung kami” terang Wiro sambil melayani pelanggan.

Nama “Mercon” untuk warungnya, menurut Bapak berusia 66 tahun ini merupakan pemberian dari Wakil Bupati Sragen, Agus Factur Rahman. “Kala itu beliau sering berkunjung ke warung saya ini, kemudian beliau memberikan nama Mercon, sesuai dengan citarasa pedas botok ikan patin menu tunggal kami” terang Wiro.

Untuk memberikan citarasa yang sangat pedas, untuk empat kilo gram ikan patin dibumbui lombok sebesar 1 kilogram. Dalam satu hari ia membutuhkan kurang lebih 4 kilogram lombok, karena setiap harinya ia menghabiskan minimal 16 kilogram ikan patin untuk diolah menjadi bothok. Setiap kilogram ikan patin dapat diolah menjadi 9 bungkus. Sehingga dalam satu hari rata-rata ia dapat menyajikan 144 bungkus. Sejak berdiri hingga sekarang, setiap harinya bothok merconnya selalu habis.

Menikmati Tongseng di Sate Sragen Pak Noto


Rabu 20 Januari 2010, Saya, Hery dan Hapsari makan malam di Sate Sragen Pak Noto. Kami bertiga berangkat dari Wisma Mutiara menggunakan mobil Hapsari, sekalian menjemput Bima yang tinggal di wisma lain. Sate Sragen Pak Noto merupakan langganan saya dan Bima kalau makan malam, biasanya seminggu sekali kami makan di situ untuk mengobati kerinduan dengan tongseng rasa Jawa.

Warung sate ini dimiliki oleh Pak Noto, dia asli Sragen dan sudah berjualan sejak tahun 1995. Awalnya  dia berjualan gorengan dengan dipikul berkeliling, kemudian meningkat menetap di satu tempat dan akhirnya berkembang menjadi warung sate. Menurut saya dan Bima, rasa tongseng di warung ini yang paling mendekati tongseng di Jogja atau Solo. Menu yang tersedia di warung ini antara lain gule, tongseng dan sate seperti umumnya di warung yang lain, namun ada menu istimewa yang jarang kami temuai di warung lain yaitu garang asem.


Seperti umumnya di warung sate, pesanan akan dibuat setelah kita memesan makanan sesuai dengan keinginan kita. Pak Noto sendiri yang akan memasak tongseng setelah kita memesan. Kebetulan malam ini kami semua ingin.makan tongseng, jadilah kami pesan 4 porsi tongseng, satu untuk kami masing-masing.

Tongseng dimasak di dalam wajan besar yang diletakkan di atas keren [tungku] berbahan bakar arang kayu. Selama memasak, Pak Noto mengipasi tungku agar tetap arangnya tetap membara. Penggunaan tungku dengan arang ini yang mungkin salah satu menyebabkan tongseng pak Noto enak, tentu saja disamping bumbu-bumbu yang diracik untuk bahan tongseng.


Setelah tongseng matang kemudian dihidangkan dalam piring. Seporsi tongseng dihidangkan bersama dengan sepiring nasi. Dari kekentalan kuahnya dan irisan daging serta bau uapnya sudah terbayang kelezatannya.
Setelah semua pesanan tongseng tersaji di meja, kami pun segera menikmati makanan kami masing-masing. Saya makan nasi tongseng ditemani dengan tempe goreng.
Menurut saya, tongseng Pak Noto ini enak, kuahnya agak kental dengan bumbu yang terasa pas di lidah, potongan dagingnya besar-besar dan empuk. Cocok lah untuk menjadi pengobat kangen dengan tongseng Jogja. Menurut teman-teman yang lain rasanya juga nyamleng.
Setelah selesai makan, kami membayar. Untuk berempat kami menghabiskan Rp. 84.000,000, harga yang affordable untuk di Duri dan citarasa nyamleng tongseng. Ditambah lagi suasana warung yang nyaman, sesekali ada kicau burung perkutut dan pemilik warungnya yang ramah.

Daftar Harga:
1. Tongseng : Rp. 16.000,00
2. Teh panas: Rp. 2.000,00
3. Tempe goreng: Rp. 1.000,00

Sumber / Pengirim : http://kulineronline.net/2010/01/21/menikmati-tongseng-di-sate-sragen/

Lezatnya Rica - Rica dan Sate Keong Sawah

    SRAGEN  - Setiap mendengar nama keong sawah yang terlintas pastinya hewan yang menjijikkan dan sering menjadi musuh petani di Indonesia. Namun di tangan Suwandi (29 tahun) hama pengganggu ini disulap menjadi masakan yang lezat, dan tentunya aman untuk disantap.

       Warung Primadona milik Suwandi yang terletak di Dkh Kuyang, Desa Kliwonan, Kecamatan Masaran tersebut,  setiap harinya menyajikan rica – rica dan sate keong emas. Harganya cukup terjangkau yakni  Rp 7.000,-  per porsi untuk rica-rica keong dan sate keong Rp 1.000,- per tusuk. Tak heran dagangan Suwandi yang selalu membuat 2 kilogram keong selalu ludes terjual dalam hitungan jam, yakni hanya sampai pukul 10.00 WIB.

        “Masakan dengan bahan keong sawah banyak yang takut mencoba karena empedunya bisa membuat pusing.  Namun  saya mempunyai  tehnik tersendiri dalam mengolah bahan makan tersebut,  sehingga racun di keong hilang serta tidak berbau amis dan berlendir,” ungkap Suwandi saat ditemui  di warungnya.

       Suwandi menuturkan, rahasianya memasak keong terletak pada cara memasak yang menggunakan 3 tahap. Pertama, keong dibersihkan dan direbus agar keong mati dan mudah dilepaskan dari rumahnya, setelah itu empedu yang keras seperti batu didalam perut keong keluarkan. “Jangan sampai lupa mengeluarkannya karena empedu itulah racunnya,” ujar Suwandi.

       Kedua, Keong dipotong-potong lalu kembali direbus dengan air yang baru, bersama daun pandan, daun salam dan daun jeruk untuk menghilangkan lendir dan amis. Ketiga, setelah bumbu ditumis daging  keong dimasukan. Rica-rica keong emas siap disantap. Sementara untuk membuat Sate Keong Emas hanya ditambah tahap ditusuk lidi lalu dicampur kecap dan merica. Kedua masakan ini akan lebih nikmat ditemani teh rosela hangat. Tujuannya untuk menetralisir apabila ada yang alergi dengan zat yang terkandung didalam keong.

       Pelanggan warung Primadonna bukan hanya warga Masaran tapi juga pejabat di lingkungan Sragen. Salah satu pelanggan tetapnya adalah Manajer Desa Wisata Batik  Kliwonan, Joni Adi Aryawan. Ia mengungkapkan minimal seminggu sekali mampir makan di warung ini.   “Makan sate dan rica-rica keong mas  di warung  ini saya belum pernah sekalipun keracunan, sate keong selain kenyal  dan lezat juga diyakini bisa meningkatkan vitalitas,” kata Joni.(Wid – Humas) .

Oleh - Oleh Khas Sragen Nan Gurih dan Lezat

SRAGEN - Salah satu makanan khas dari Kabupaten Sragen adalah tempe kripik. Jajanan yang mempunyai citasara gurih dan renyah tersebut dapat dikonsumsi baik sebagai lauk maupun camilan. Di Kabupaten Sragen sendiri terdapat puluhan home industri yang memproduksi tempe kripik yang tersebar diberbagai Kecamatan.

Salah satu home industri tempe kripik di Sragen yang cukup populer adalah tempe Kripik “ Mahkota “ yang beralamat kampung Teguh Jajar, Kelurahan Sragen Wetan, Sragen. Menurut pemilik tempe kripik mahkota Prawoto, usaha pembuatan tempe kripik yang kini digelutinya telah dirintis sejak tahun 2003.

Meskipun baru berjalan empat tahun, namun usahanya menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Semula Usaha tempe kripik hanya dikerjakan sendiri bersam istri dan anggota keluarga lainnya. Namun karena produksinya semakin berkembang, ia merekrut seorang karyawan untuk membantu usaha tersebut.

Menurut Prawoto dalam sehari ia rata-rata mampu memproduksi tempe kripik ukuran besar sebanyak 180 bungkus, dimana satu bungkus berisi sepuluh biji. Sedang untuk ukuran kecil rata-rata mampu menggoreng lima sampai enam kg. Namun bila ada pesanan produksinya lebih dari jumlah tersebut. Menurut Prawoto, tempe kripik mahkota diproduksi dalam dua ukuran, yaitu ukuran besar dan kecil. Untuk ukuran kecil dijual secara kiloan, yaitu Rp. 16.000,- perkilogram. Sedang untuk ukuran besar dijual perbungkus Rp. 3.000,- berisi 10 buah. Mengenai pemasaran, menurut Prawoto hasil produksinya telah dipasarkan diberbagai wilayah kecamatan di Kabupaten Sragen, serta beberapa daerah di sekitar Sragen. Tempe kripik mahkota juga sangat pas sebagai oleh-oleh bagi para tamu atau pelancong yang berkunjung ke Kab. Sragen. “ Banyak tamu dari luar kota yang membeli tempe kripik saya sebagai oleh-oleh keluarga atau kerabat di rumah “ terangnya.

Menurut Bapak dua anak tersebut, tempe kripik hasil olahannya memiliki cita rasa yang khas yaitu empuk, gurih dan renyah. Hal itu karena pemakaian bahan baku (tempe dan tepung) pilihan serta tidak memakai bahan pengawet. “ Untuk menggoreng saya memakai minyak kualitas bagus, sehingga rasanya dijamin enak “ jelasnya. (hart-humas):

Soto Daging Gimo Girin, Banyak Pejabat Jadi Pelanggannya

SRAGEN – Pagi itu, sekitar pukul tiga pagi, Sugimo (55) bersama istrinya Sujiah (53) nampak sudah terlihat sibuk meracik bumbu di dapurnya yang terbilang tidak begitu luas. Di dapur tersebut Gimo dan istrinya meracik dan memasak soto dengan menggunakan tungku yang berbahan bakar kayu bakar. Telah menjadi kebiasaan mereka bangun di pagi buta untuk memasak soto. Pasalnya, setiap hari mulai jam 6 pagi soto daging olahannya harus sudah siap saji karena telah ditunggu oleh banyak pelangganya di warung Soto Daging sapi miliknya. Soto Gimo Girin, begitu ia memberi nama warung sotonya itu. Embel-embel nama Girin merupakan trade mark baginya, yang menunjukkan bahwa ia salah satu pewaris Soto Girin yang pernah dikelola oleh ayahnya yang bernama Mbah Girin.

WARISAN ORANG TUANYA

Gimo memperoleh resep meracik soto belajar dari orang tuanya sendiri mbah Girin namanya, sang empunya warung Soto Girin. Bagi warga Sragen nama Soto Girin sudah tidak asing bahkan sudah menjadi legenda dan salah satu icon wisata kuliner di Kabupaten Sragen. Mbah Girin mulai merintis membuka warung soto sejak tahun 1954 silam. Kurang lebih 32 tahun Mbah Girin mengelola warung soto miliknya, hingga tahun 1984. Sejak dulu, warung soto Girin ini tak pernah sepi dari pelanggan.

Sejak anak-anaknya masih kecil, Mbah Girin sudah mengajari anak-anaknya bagaimana cara memasak soto yang nikmat. Alhasil, semua anak-anaknya yang berjumlah empat orang, memilih jalan hidup yang sama dengan Mbah Girin yakni menjadi penjual Soto yang sukses. Salah satu anaknya bernama Gimo yang kini mempunyai warung soto sendiri yang bernama Soto Gimo Girin.

Ibarat buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, Gimo Girin muda kala itu sekitar awal tahun tujuh puluhan, punya keinginan kuat untuk mendirikan sebuah usaha sendiri layaknya usaha milik ayahandanya. Keinginannya terwujud pada tahun 1975. Meski semula hanya berdiri diemperan sebuah toko, tidak masalah baginya, yang penting warung soto yang menjadi cita-citanya telah terwujud. “Pernah usaha saya di bongkar karena emperan tokonya mau dibangun, kemudian saya beralih tempat tidak jauh dari tempat semula” kenangnya pada masa-masa sulit yang pernah ia lalui saat merintis usaha miliknya.

Pada tahun 1986, usahanya telah menampakkan hasil, sehingga ia bisa membeli sebuah rumah yang terletak cukup strategis, tidak jauh dari tempat pertama ia mendirikan usaha. Rumah sederhana yang yang beralamat di Ringin Anom RT 01 / 17 Sragen, kemudian disulap menjadi sebuah warung soto daging sapi. “Sejak menempati kios permanen tersebut usaha soto saya mulai meningkat pesat hingga sedikit demi sedikit saya bisa memperbaiki bangunannya” akunya. Bintang keberuntungan benar-benar berpihak kepadanya. Setiap hari, pelanggannya tak pernah sepi, bahkan meningkat. Dagangan soto miliknya setiap hari pasti terjual habis. “Dagangan soto saya tak pernah sisa, pasti habis setiap harinya, pada suatu waktu saya pernah menambah jumlah stok dagangan dan ternyata habis juga, namun bila stoknya kami tambah terus, tenaga kami kewalahan, ” terangnya.


BANYAK PELANGAN DARI KALANGAN PEJABAT

Pelanggan yang datang di warung sotonya terdiri dari berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari tukang becak hingga Pejabat Departemen Pusat Jakarta. ”Banyak juga mas, pejabat dari Jakarta yang datang kesini, semula saya tidak tahu kalau dia pejabat, namun setelah dua kali, tiga kali datang akhirnya saya tahu kalau yang jajan tersebut adalah Pejabat dari Pusat. Misalnya saja pak Wiyono (Drs. Wiyono Msi, Kepala Bidang Diklat dan Kependudukan Departemen Dalam Negeri )” terangnya.

Selain orang Sragen, banyak juga pelanggannya yang berasal dari luar daerah Sragen. Banyak orang-orang Solo yang datang kesana, selain hanya sekedar mampir jajan, sebagian ada yang mengkhususkan datang hanya untuk jajan soto buatan Gimo Girin.

Meski warungnya terbilang sempit kurang lebih berukuran delapan kali enam meter, tak disangka bisa menampung lebih dari lima puluh orang. Bapak empat anak ini mengaku sering kedatangan tamu rombongan bis wisata yang berjumlah kurang lebih lima puluh sampai seratus orang, yang mampir kesini untuk jajan soto. Namun, biasanya sehari sebelumnya mereka memesan terlebih dahulu lewat telepon.

Bahkan tidak sedikit yang telah menjadi pelanggan di warungnya sejak masih berusia anak-anak. Seperti yang diungkapkan Ny. Wasis (35), seorang PNS di Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Sragen yang ditemui saat sedang menyantap soto di warung soto Gimo Girin, “ Keluarga saya hampir semuanya pelanggan warung soto sini, termasuk kakek-nenek saya, jadi sejak kecil saya sudah sering jajan disini”.

Sementara pengakuan pelanggan lainnya, Ina Nugroho (42), sejak ia pindah ke Sragen tahun 1989 silam ia langsung terpikat dengan soto masakan Gimo. Sebelumnya ia sering berpindah-pindah warung langganan. Sejak menemukan warung Gimo Girin Instruktur senam tersebut enggan menyantap soto di tempat lainnya.

CEPAT HABIS

Setiap harinya, warung Soto Girin mulai buka sekitar jam enam pagi. Sejak jam enam pagi itu pula pelanggan sudah mulai datang untuk sarapan soto. Tidak sampai siang, sekitar jam sepuluh atau paling siang jam sebelas, sotonya pasti telah habis. Bisa dipastikan bila datang kesini lebih dari jam sebelas, tidak akan kebagian soto sedap racikan Pak Gimo. ”Kadang jam sepuluh paling lambat jam sebelas, soto daging sapi racikan saya telah terjual habis” tegasnya. Setiap harinya ia sengaja tidak menambah jumlah porsi soto dagangannya. ”Capek mas, saya menjual sesuai kemampuan tenaga saya saja, kalau nanti menambah jumlah porsi, saya kawatir tenaga saya dan istri saya akan terforsir,”ungkapnya.

MENJAGA CITA RASA

Semua bumbu yang digunakan untuk memasak soto ia kerjakan sendiri, bukan orang lain termasuk istrinya sendiri. ”Kalau yang mengerjakan orang lain nanti rasanya pasti berbeda” ungkapnya. Ia mengaku tidak ada yang berbeda dengan bumbu-bumbu soto lainnya, namun ia punya kiat khusus yakni takaran bahan-bahan yang digunakan untuk bumbu diusahakan tepat. Bumbu-bumbu yang ia gunakan pun hanya berasal dari bumbu-bumbu tradisional, jadi lebih aman dan sehat untuk dikonsumsi.

BUKA MALAM HARI

Setelah kiosnya tutup sekitar jam sebelas siang. Biasanya ia menyempatkan diri untuk istirahat sejenak. Selepas istirahat siang, tangannya seakan tak pernah lelah, kembali ia mulai meracik bumbu soto. Karena sejak awal tahun 2008 ini, Soto Gimo Girin membuka warung soto di Pusat Jajan Malam Hari (Pujamari ) yang terletak di halaman Galery Batik Sukowati. Pelanggan yang tidak bisa menikmati sedapnya soto di pagi hari, pada malam hari dapat menjumpainya di Pujamari sekitar jam lima sore hari hingga jam sembilan malam. (Hart / Mey)

Pusat Jajan Rakyat Sukowati (PJRS) : KELEZATAN YANG LAHIR DARI PERUT BUMI SUKOWATI

SRAGEN - Selama bulan Ramadhan ini, masyarakat Sragen dan sekitarnya dapat menikmati berbagai jajanan sehat dengan harga terjangkau. Di sepanjang jalan dipayungi rindangnya pepohonan, berdiri 25 kios yang menyajikan aneka kuliner khas Sragen.

Nuansa tradisional tampak dari bangunan kios berukuran 3 x 3 meter, yang berdiri sederhana dengan rangka bambu beratapkan rapak ( atap yang terbuat dari daun tebu). Terletak di sebelah timur Kantor Sekretariat Daerah Sragen, gelaran wisata kuliner bertajuk Pusat Jajan Rakyat Sukowati (PJRS) ini menempati lokasi yang sangat strategis. Tempatnya mudah diakses. Hanya tinggal menyeberang jalan ke utara, dari pusat rekreasi keluarga Alun-alun Sasana Langen Putra. Rimbunnya pohon angsana di sepanjang lokasi, menambah suasana tenang, di tengah semaraknya kegiatan warga Sragen di sore hari.

Senin kemarin, (1/9) PJRS ini diresmikan oleh Bupati Sragen H Untung Wiyono. Rencananya, lokasi wisata kuliner baru ini akan buka mulai pukul 16.00 sore hingga selesai. Di tempat itu, tersedia berbagai jajanan murah dan sehat, seperti Kolak Lidah Buaya, Sari Kedelai aneka rasa, Es Buah, serta berbagai kudapan yang menyegarkan untuk berbuka puasa. Selain itu juga ada kios-kios yang menyajikan makanan sehat, dan makanan khas Sragen lainnya.
Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Ir Djoko Purwanto, MM yang ditemui di lokasi mengatakan, kekayaan kuliner khas Sragen seolah tak ada habisnya. Kreatifitas masyarakat menciptakan aneka hidangan yang menggugah selera itu kini diwadahi dalam satu lokasi pusat jajan, yang terjangkau oleh berbagai lapisan masyarakat. Tak hanya murah dan sehat, Djoko mengatakan berbagai hidangan di sini bebas dari bahan pengawet, pewarna, dan penyedap rasa.

Kelezatan berbagai hidangan ini berasal dari kejelian para pedangang mengolah berbagai produk lokal yang lahir dari perut Bumi Sukowati. Untuk awalnya, PJRS akan buka selama bulan ramadhan, guna melayani masyarakat yang akan berbuka puasa. Namun tidak tertutup kemungkinan, kata Djoko, jika animo masyarakat bagus, pusat jajan ini akan buka seterusnya. Seiring dengan hal itu, berbagai perbaikan akan dilaksanakan. Djoko menambahkan, penerangan jalan dan sistem drainase, menjadi catatan tersendiri yang harus segera ditangani. Apalagi, wisata kuliner ini akan buka di malam hari. Penerangan jalan menjadi syarat mutlak demi mendukung kenyamanan masyarakat yang datang ke tempat itu. Ia berharap, keberadaan PJRS menciptakan harmoni yang selaras antara pemenuhan kebutuhan kuliner masyarakat dan kesejahteraan pedagang kecil yang tergabung di dalamnya. (peppy)

Mbah Rajak, Rasanya Enak dan Khas Dilidah

SRAGEN - Sragen, selain kaya akan prestasi ternyata juga kaya akan makanan tradisional. Salah satunya adalah makanan khas yang diproduksi oleh Mbah Sumo Diharjo yang lebih akrab dipanggil Mbah Rajak. Sudah 40 tahun mbah Rajak berjualan aneka macam makanan tradisional, antara lain: Jenang, trasikan, wajik, jadah, dan aneka lauk pauk.

Karena banyaknya pembeli, selain berjualan di pasar Bunder, mbah Rajak juga melayani pembeli yang langsung datang dirumah. Banyak sekali pembeli yang sudah menjadi langganannya karena itu setiap hari warung mbah Rajak di pasar tidak pernah sepi oleh pembeli. Mulai pagi sampai sore makanannya selalu diserbu pembeli dan jarang sekali makanan tersebut sampai sisa. Bahkan tidak jarang pembeli yang datang berasal dari luar daerah dan menjadikan makanan khas Sragen buatan mbah Rajak ini sebagai oleh-oleh.

Dari hasil penjualan dagangannya setiap harinya mbah Rajak mendapat penghasilan sekitar Rp. 4 juta. Jenang buatannya dijual Rp 20.000 per kilo, sedangkan trasikan dan wajik dijualnya Rp 25.000 per kotaknya. Selain di jual kiloan, racikan makanan tersebut juga dapat dibeli sesuai dengan harga yang diinginkan.

Mbah Rajak mengawali usahanya sebagai pedagang jenang sekitar tahun 1968. “ Dahulu saya hanya seorang pedagang jenang keliling di daerah Sragen, karena belum memiliki tempat tinggal menetap.” Ceritanya. “ Saya sempat dua kali menyewa sebuah rumah tinggal untuk mengembangkan usaha, “ tambahnya. Karena usahanya makin berkembang akhirnya mbah Rajak mampu memiliki rumah sendiri di Jl. Kampar No. 7 Cantel Wetan, Kelurahan Sragen Tengah. Tidak hanya itu saja, sekarang mbah Rajak sudah memiliki tiga rumah yang tinggali ketiga anaknya.

Ditambahkan sejak suaminya meninggal, mbah Rajak menjadi tulang punggung keluarga, dan dengan kerja keras serta pantang menyerah akhirnya ia mampu menyekolahkan anaknya sampai kejenjang perguruan tinggi bahkan sekarang anaknya sudah lulus menjadi sarjana hukum.

Tentunya dari semuanya itu diperlukan suatu usaha yang gigih, dan keuletan dalam mengembangkan usahanya. Berawal dari usaha yang dikelolanya sendiri, sekarang mbah Rajak sudah memiliki 10 orang pekerja. Setiap hari usaha pembuatan jajanan mbah Rajak mampu menghabiskan bahan baku berupa beras ketan sebanyak 40 kg.

Sekalipun mbah Rajak sudah memiliki tujuh cucu dan tujuh buyut, ini tidak menyurutkan semangatnya dalam bekerja. Dan sekarang makanan yang diproduksi mbah Rajak sudah menjadi makanan khas Sragen yang banyak diminati semua kalangan masyarakat karena selain rasanya enak dan lezat , juga khas dilidah, harganya juga terjangkau.

Nah, bagi anda yang tertarik dengan jajanan mbah rajak, silahkan datang kerumahnya di Jl. Kampar No. 7, RT 03 RW XI Cantel Wetan, Sragen Tengah, atau di pasar Bunder pintu sebelah utara. (Yoh-Jat/Humas)
 

Pengunjung Online

Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Berita Pulau Seribu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah