Headlines News :
Tampilkan postingan dengan label Masaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masaran. Tampilkan semua postingan

Keong Racun, dulu Hama Kini Menguntungkan

Keong beracun atau yang biasa disebut keong mas (Pomacea canaliculata) yang selama ini dikenal sebagai hama potensial tanaman padi, jika dikelola dengan baik merupakan komoditas prospektif untuk menambah penghasilan petani dan peternak. Hama yang satu ini ternyata dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan baku alternatif untuk pembuatan pakan ternak.

Selain pembuatan mudah, pakan bebek yang terbuat dari keong mas ini sangat menguntungkan bagi peternak. Pasalnya selain mudah didapat, juga dapat membuat bebek bertelur jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan hanya diberi makanan olahan dari pabrik.

Selama ini keong mas selalu menjadi momok yang cukup meresahkan petani. Hewan tersebut mempunyai sifat menyerang dan merusak batang tanaman padi milik petani. Keong Mas merupakan hawa yang paling “ditakuti” oleh para petani, karena berkembang biak sangat cepat, sehingga padi yang terserang keong mas langsung mati. Hewan ini banyak dijumpai di persawahan, lebih-lebih bila petani mulai membajak sawah.

Siput yang konon berasal dari Amerika Latin ini, menempelkan telurnya di batang padi yang mulai dewasa. Setelah menetas, siput-siput ini langsung mengkonsumsi batang padi hingga akhirnya menimbulkan kematian pada tanaman padi. Jika tidak dibuang, hama ini jelas akan melahirkan mimpi buruk bagi para petani karena panen mereka terancam gagal. Yang meresahkan petani, pembiakannya sangat cepat sehingga para petani kewalahanan membasminya.

Untuk membasmi hama ini biasanya para petani mengambilnya satu demi satu keong mas kemudian dibuang. Namun lain ceritanya bagi Sardjono, Kepala Desa Karangmalang Masaran Sragen. Bagi dia, keong mas ternyata dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak bebeknya.

Melibatkan masyarakat untuk ikut membasmi hama

Sejak beberapa bulan lalu, Sardjono memberdayakan masyarakatnya untuk berperan aktif membasmi keong mas di desanya. Untuk “merangsang” masyarakat agar mau, ia memberi imbalan Rp.500 setiap kilogram keong mas yang dikumpulkan.

Himbauannya ternyata mendapat sambutan yang baik. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun banyak yang ikut serta berburu keong mas. Setiap harinya, sebanyak 5 hingga 8 ton keong mas dapat dikumpulkan. Untuk memberi imbalan, Sardjono harus merogoh kocek Rp. 2.500.000 hingga Rp. 4.000.000 per harinya.

Manfaatkan hama untuk pakan bebek

Keong yang dikumpulkan tersebut ia manfaatkan untuk pakan ternak bebek miliknya. Caranya cukup sederhana. Keong yang diterima langsung di giling dengan mesin yang baru ia beli. Setelah digiling, keong mas yang kini berbentuk serbuk kasar, kemudian di masukkan ke dalam karung. Setelah itu, dicuci. Untuk mencucinya cukup mudah. Karung-karung yang berisi serbuk keong mas, diceburkan ke sungi yang terletak dibelakang rumahnya. Setelah di cuci barulah dikeringkan di bawah sinar matahari. Setelah kering barulah serbuk keong mas dapat dimanfaatkan untuk pakan bebek. Caranya cukup dicampur dengan bekatul.

Menurut Bapak muda ini, dengan memanfaatkan keong mas, dia dapat meng-efisiensi biaya pakan hingga 50% bila dibandingkan dengan menggunakan pakan konsentrat. “Tapi yang lebih penting, kami dapat ikut serta memberantas hama para petani,” imbuhnya.

Kandungan Gizi Keong Mas

Keong memiliki kandungan gizi sangat tinggi karena daging keong mengandung protein. Menurut Dr Ir Sulistiono, MSc, Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) (harian Pelita, Jum’at,13/4),kandungan gizi keong mas diketahui mengandung asam omega 3, 6 dan 9. Dari hasil uji proksimat, kandungan protein pada keong mas berkisar antara 16 hingga 50 persen.Selain banyak mengandung protein, hewan dari keluarga moluska ini juga kaya akan kalsium. Penggunaan keong mas untuk pakan itik terbukti mampu menaikkan hasil telur hingga 80 persen.

Mengenai ketersediaan pasok, kata dia, tidak perlu dikuatirkan karena dalam sebulan seekor keong mampu memproduksi 1.000 hingga 1.200 butir telur, tingkat mortalitasnya rendah, dan siklus hidup hanya 60 hari.


Sayangnya, belum semua daerah memanfaatkan spesies ini meski penyebaran populasinya sudah mencapai hampir seluruh wilayah Indonesia. Keong mas disebut sebagai hama unggul karena memakan segala tanaman terutama tanaman padi muda dan pembibitan.

Di beberapa daerah, keong mas diolah menjadi berbagai jenis masakan seperti sate, pepes, sambal keong, hingga kecap keong. Masyarakat juga percaya, keong mas dapat digunakan untuk mengobati penyakit lever. Namun belum ada pembuktian ilmiah mengenai khasiat ini. Keong mas juga berperan sebagai pengendali keong lain jenis Bulinus sp dan Biophalaria sp yang merupakan inang perantara parasit trematoda yang menyebabkan penyakit gatal-gatal dan schistosomiasis yang biasa menginfeksi penduduk tropis. (N.Hart)

Ubah Lahan tidak Produktif Menjadi Peternakan Bebek

Bisnis budidaya bebek (itik) kini mulai digemari masyarakat dan menjadi sebuah pilihan daripada memelihara unggas lain. Disamping mampu memberikan keuntungan besar, bebek termasuk salah satu unggas yang tahan dari serangan penyakit seperti flu burung (Avian Influenza). Di Kabupaten Sragen masyarakat mulai mengembangkan bisnis ini, karena dinilai memiliki prospek yang cukup menjanjikan. Terlebih jika dilakukan secara intensif bukan sekedar kegiatan sambilan.

Mengingat permintaan pasar baik telur maupun daging bebek semakin meningkat, banyak upaya yang dilakukan untuk memaksimalkan produksi. Menurut Kepala Desa Karangmalang, Sarjono, tani ternak itik di Dukuh Kedusan ini tergabung dalam satu kelompok yang beranggotakan 18 orang. Sampai saat ini, jumlah itik mencapai 7500 ekor yang tersebar di dua lokasi kandang. Salah satu kandang yang terletak di bantaran sungai Grompol ini dibuat sederhana, dengan dinding bambu dan atap genteng. “Kandang itik ditangani secara khusus selain agar tidak mengganggu lingkungan dan kesehatan pemukinan, juga sangat berpengaruh pada produktifitasnya,” katanya.

Beberapa waktu lalu, kelompok ternak itik ini mengadakan pertemuan dengan apartur pemerintah. Pertemuan anggota kelompok peternak itik “Ngudi Rejeki’ ini berlangsung di rumah Kepala Desa setempat. Hadir pada pertemuan ini, Muspika Kecamatan Masaran serta perwakilan dinas/instansi terkait.

Dalam sambutannya, Camat Masaran, Bambang Widyatmoko, mengatakan pertemuan ini merupakan sarana komunikasi antara masyarakat dengan pihak pemerintah. Karena selama ini masyarakat selaku peternak, meski banyak yang telah menjalankan usaha ternaknya beberapa lama namun masih sering mengeluh. Keluhan ini bervariasi mulai dari kendala modal, biaya produksi serta pengetahuan peternak yang masih kurang, sehingga pencapaian produksinya tidak optimal. Bahkan masih ada usaha-usaha peternakan itik yang ada sekarang masih didominasi peternak skala kecil yang bersifat tradisional ekstensif (diumbar).

Melalui forum ini, lanjut Camat, peternak itik bisa menyampaikan keluh kesahnya pada pihak terkait seperti Dinas Peternakan, Dinas Pertanian atauun kepada Disperinkop dan UKM. Sehingga berbagai permasalahan yang ada, bisa dipecahkan bersama-sama. Termasuk upaya-upaya penyebarluasan informasi mengenai keberadaan sentral peternakan bebek di wilayah ini.

Camat berpesan, para peternak agar cerdas menyikapi ancaman bagi ternaknya, seperti wabah penyakit, lingkungan yang bau tak sedap serta memperhatikan aspek pembuangan. Melalui upaya-upaya pengembangan terpadu ini, diharapkan para peternak itik semakin termotivasi, cepat berkembang, dan mampu meningkatkan taraf perekonomian keluarga. “Usaha butuh ketenangan, konsentrasi dan tidak kemrungsung,”kataya.

Letak Sangat Strategis
Bila dilihats ecara geografis, lokasi ternak itik tersebut sangat strategis,  karena terletak di pinggiran sungai nggrompol. Hal ini sangat menguntungkan karena lokasinya yang dekat dengan sungai sehingga setiap pagi, bebek-bebek yang jumlahnya ribuan tersebut bisa diumbar ke sungai. “Dengan begitu bebeka akan lebih sehat” terang Sarjono.

Lahan yang diguanakan untuk ternak bebek tersebut dulunya merupakan lahan yang tidak produktif. Tapi kini lahan tersebut dapat disulap menjadi sentra ternak itik di desa Karangmalang. Sebenarnya masih sangat luas sekali lahan-lahan sejenis disepanjang bantaran sungai nggrompol, tambah Sarjono. Untuk itu dirinya bercita-cita untuk mengembangkan ternak itiknya, guna mengoptimalkan lahan-lahan yang yang tidak produktif disepanjang sungai tersebut.

Lahan disepanjang sungai nggrompol dulunya merupakan daerah banjir disetiap musim hujan. Bila hujan lebat, bisa dipastikan lahan tersebut akan banjir. Namun kini dengan telah dikeruknya sungai nggrompol, kejadian banjir seperti tahu-tahun kemare bisa dipastikan tidak terjadi. Sehingga nasih banyak lahan-lahan sejenis yang bisa dimanfaatkan untuk beternak itik.

Sebuah Pemikiran yang Cemerlang
Kelompok ternak itik ini merupakan sebuah ide cemerlang dari Sarjono, Lurah Desa Karangmalang sendiri. Dulu, masyarakat sekitar masih beternak secara tradisional. Maisng masing peternak itik beternak di sekitar rumah tinggalnya. Selain baunya mengganggu masyarakat sekitar, ditinjau dari segi kesehatan sangatlah tidak sehat. Melihat pemandangan didesanya tersebut, beberapa waktu lalu, dirinya mempunyai ide untuk mengumpulkan peternak-peternak itik trsebut disatu lokasi yang sehat, aman, strategis dan agak jauh dari pemukiman penduduk. Kebetulan pada saat itu, sungai nggrompol telah dikeruk untuk mengantisipasi banjir musiman. Sehingga dirinya memilih lahan-lahan disekitar sungai nggrompol untuk disewa guna mewujudkan ide cemerlangnya tersebut.

Tak berapa lama, dirinya mengumpulkan para peternak itik untuk menyampaikan ide tersebut. Sambutan baik pun datang dari para peternak. Maka tak berapa lama, secara bersama-sama mereka mendidikan sentra peternakan itik di lokasi yang telah dipilihnya tersebut.

Kini, bila anda berkunjung ke sana, maka akan terlihat sebuah kandaang itik yang mempunyai ukuran sangat luas, sekitar 100 x 50 meteran lebih. Dirinya berharap, kelompok ternak itik ini mendapat respon dari pemerintah. Menurutnya masih banyak kesempatan untuk mengembangkan ternak itik, mengingat lahan disekitar lokasi ternak itik tersebut masih sangat luas. (Hart)

Koleksi uang kuno mendatangkan keuntungan

Banyak kegiatan positip yang bisa dijadikan hobi. Bila ditekuni akan mendatangkan kepuasan dan keuntungan. Salah satunya hobi numismatika atau hobi mengkoleksi uang kuno. Dunia numismatika tidak hanya memberikan keasyikan tersendiri bagi kolektornya, tapi juga menjanjikan keuntungan materiil yang menggiurkan. Di balik kekunoan uang-uang tersebut, ternyata menyimpan sumber penghasilan yang luar biasa. Coba cermati, meski nilai nominal pada uang kuno itu ’tak seberapa’, namun di kalangan penggila numismatika bisa terjual dengan harga jutaan rupiah.

Soal numismatik yang bisa menjadi sumber keuntungan selain untuk memenuhi kepuasan dalam hobi, dituturkan oleh Eko Agus Purnomo, numismator asal Masaran Sragen. Pemuda usia 35 tahun ini telah menekuni numismatika sejak 15 tahun lalu. Sebelumnya, filateli atau pengkoleksi perangko adalah hobi yang ditekuni sejak duduk dibangku SMP sebelum  merambah ke dunia numismatika. Mulai tertarik dengan uang-uang kuno sejak dirinya lulus SMA dan bekerja di sebuah perusahaan yang menjual barang-barang kuno di Bandung.

Ketertarikannya pada uang kuno berawal dari hobi teman kerjanya di kota Bandung, 17 tahun silam. Diceritakanya, tidak mudah waktu itu untuk mendapatkan uang-uang kuno. Ia harus berburu dari satu kota ke kota lainnya. Waktu itu disetiap kota masih sangat jarang dijumpai toko atau kolektor uang kuno. Biasanya ia mendapatkan uang-uang kuno dari seorang pedagang buku-buku kuno. Para pedagang ini biasanya mendapatkan uang kuno dari dalam buku-buku kuno yang ia jual. Biasanya orang-orang jaman dahulu, kalau menyimpan uang kuno dengan cara diselipkan dalam buku.Setelah berburu kurang lebih satu tahun, koleksinya mulai menumpuk banyak. Tidak sedikit uang yang ia keluarakan untuk membeli uang-uang kuno tersebut.

Setelah koleksinya mulai menumpuk banyak, pada tahun 1993 mulailah ia berani menggelar pameran diberbagai kota. Dari pameran inilah bapak satu anak ini mulai dikenal oleh para numismator. Tahun 1994 pemuda asli Masaran Sragen ini mulai membuka toko uang kuno di kota Solo. Sejak membuka toko, ia mulai jarang berburu uang kuno. Karena, dari tokonya ini banyak transaksi jual dn beli uang kuno, sehingga ia tak pernah kehabisan stok barang. Kecuali untuk uang-uang tertentu yang bernilai tinggi.

Menurut Koko panggilan akrabnya, menilik sejarah bangsa ini, yakni menjadi jajahan negara asing dan beberapa kali mengalami pergantian pemerintahan, membuat Indonesia menjadi tempat potensial untuk perkembangan dunia numismatika. 

’’Tinggi-rendahnya nilai uang kuno dipengaruhi beberapa faktor. Di antaranya, tingkat kelangkaan barang, kondisi fisik dan munculnya kolektor baru yang memburu seri mata uang tertentu,jelas Koko, yang memiliki koleksi uang kuno kertas ratusan ribu lembar dan puluhan ribu keping jenis koin ini.

Jadi, belum tentu uang kuno yang umurnya lebih tua pasti laku lebih mahal. Kondisi fisik yang rusak, lusuh atau cacat akan mengurangi nilainya. Itulah sebabnya, banyak orang yang terpincut memburu uang kuno jenis UNC (uncirculation) yang peredarannya bersifat bank to bank. Karena tidak beredar di masyarakat, kondisi uang kuno UNC lebih bagus.

Menurut dia, karakter investasi uang kuno mirip perpaduan main saham dan properti. Untuk itu, bermain uang kuno pun perlu trik tertentu. Yang paling penting adalah perhatikan bagaimana tingkat ketertarikan masyarakat terhadap mata uang itu. Jika banyak peminatnya, berarti potensi harganya bagus. Lalu bagaimana motif gambarnya, apakah punya nilai sejarah yang tinggi dan langka. Jangan lupa, cermati siapa penerbit uang kuno itu, pesannya.

Yang paling banyak menjadi pembeli di tokonya adalah para calon temanten. Pasalnya uang kuno ini biasanya digunakan untuk menggenapi jumlah mahar yang disesuaikan dengan tanggal lahir pengantin. “Akan sulit menyesuaikan uang mahar dengan tanggal lahir pengantin bila hanya menggunakan uang sekarang yang masih berlaku, biasanya untuk menggenapinya dengan pecahan satu rupiahan uang kuno,jelas Koko.

Selain memenuhi keasyikan hobi, uang kuno ini benar-benar mendatangkan keuntungan materiil yang lumayan. Kuncinya, tekun, teliti, dan sabar untuk terus belajar anatomi uang kuno,saran pemilik Toko “PASdi Jalan Raya Masaran Solo ini. (N.Hart)

Telor Asib “YONO”, Terkenal Sejak Tahun 1978

Seringkali orang menganggap bahwa untuk memulai suatu usaha tidaklah mudah. Diperlukan ketelatenan, keuletan, disiplin dan pantang menyerah, sehingga   sering  membuat beberapa orang ragu-ragu untuk memulai suatu usaha. Beberapa persyaratan tersebut, ternyata dapat dilakukan oleh   Yono (54), sehingga ia  berhasil dalam merintis usaha pembuatan telor asin. Di sela-sela kesibukannya sebagai sopir bis dan sopir mobil carteran, pemilik nama lengkap Wiyono Hadi ini hanya dengan dibantu istri dan keempat anaknya telah berhasil dalam  menggeluti usaha ini sejak tahun 1978.

Menurut Yono, usaha telor asin tersebut  pertama kalinya dirintis oleh  orang tua   istrinya yakni  Suwarni (50) sekitar tahun 1970 di Purwokerto. Ketika itu ia belajar cara membuat telor asin dari orang tua Suwarni.  Kemudian pada tahun 1978 sepasang suami istri ini pindah ke Sragen dan memulai usaha telor asinnya. Untuk bahan baku berupa telor bebek , ia mengambil   dari berbagai daerah di Sragen seperti Taraman, Plupuh dan  Perum Margo Asri.  Setiap kulakan telor  berkisar antara  1000-1500 butir telur yang dihargai Rp.1000/butir dari pemasok tetapnya.    

Keuntungan  yang didapat  Yono diambil dari dari perhitungan selisih harga kulakan telor dengan harga telor asin yang sudah jadi yang dijual kembali Rp.1.400/butirnya.   “ Dulu pada awal kami memulai usaha ini sekitar tahun 1970 harga grosir yang kami jual Rp 40 rupiah –Rp. 42,5 rupiah. Dan sekarang ini  kami sudah menjual Rp 1.300-1.400/butirnya”, sahut pakYono.  Untuk setiap produksi, keluarga pak Yono menghasilkan 600 butir telur asin. “Kami menghasilkan 600 butir telur asin dalam setiap angkatan yang kami setor ke berbagai langganan kami, seperti supermarket Luwes, toserba Seka, toserba Dian, pasar, dan sebagainya”,  katanya.

Tidak hanya diwilayah Sragen saja, Yono memasarkan  telor asinnya, namun sudah sampai keluar daerah seperti  ke Kartosuro Dari usaha pembuatan telor asin tersebut, Yono mampu meraup keuntungan, yang cukup  untuk membiayai kehidupan keluarganya. Keberhasilan usahanya tersebut telah mendapat apresiasi dari pemerintah, yakni  pada  tahun 2001 lalu, mendapat kesempatan untuk   dikunjungi oleh Menteri Peranan Wanita RI pada waktu itu, yaitu  Sri Rejeki yang  didampingi oleh Bupati Sragen, H. Untung Wiyono.

Telor Asin cap “Yono”, yang diambil dari  nama kepala keluarga ini ternyata sudah dicocoki oleh lidah pelanggannya. Banyak pelanggannya  yang merasakan telor asin ini  buatannya rasanya  seperti telor asin Brebes, yang memang sudah terkenal sebagai daerah penghasil telor asin.  Telor asin cap” Yono “ ini juga menerima pesanan. Jika kita membeli langsung di rumah pak Yono yang beralamat di Jl. Kalimantan no.19, RT/RW:29/09, Krapyak, Sragen ini  akan mendapat potongan  harga special. “Kami sudah punya pelanggan yang menjual telur asin “Yono” , biasanya dalam waktu tiga sampai empat hari telor asin yang kami setorkan sudah terjual habis”, katanya.  Menurut bapak empat anak ini, telor asin  buatannya mampu bertahan  tiga sampai empat minggu. “Namun jika telor bebek yang diolah menjadi asin ini retak atau berlubang,  hanya akan bertahan antara satu sampai dua minggu saja”, imbuhnya

Yono menjelaskan untuk memulai  usaha pembuatan telor asin  ini,  yang pertama kita  harus mempunyai kepastian darimana  mendapat telur bebek mentah. Kita bisa beternak bebek sendiri sebagai penghasil telurnya. Namun apabila tidak memungkinkan,  dapat mengambil dari peternak bebek yang sudah menjadi langganan, sehingga diperoleh  telor yang benar-benar berkualitas.. Berikut ini cara pembuatan telor asin yang telah dipraktekkan selama bertahun-tahun oleh keluarga pak Yono:
  1. Telor bebek yang masih mentah disortir terlebih dahulu, yang bagus diambil dan yang tidak bagus disendirikan.
  2. Telor bebek mentah dibersihkan dan dicuci  dengan di gosok / disikat hingga bersih, dan pilih telor yang betul-betul bagus.
  3. Telor bebek mentah dimasukkan ke tempat penampungan (ember besar yang telah diisi dengan campuran yang terdiri dari garam, batu bata yang dihancurkan, disaring dan air yang telah diaduk) .  Angkat telor-telor yang masih dilumuri oleh larutan campuran garam dan batu bata tadi dan masukkan ke dalam tempat penampungan yang lain.
  4. Setelah proses pengasinan selesai, bersihkan telor bebek yang larutan pengasin  dengan sabun dan air sampai bersih. Tutup tempat penampungan dengan plastik supaya terhindar dari angin dan debu. Penutup tempat penampungan tersebut ditempeli tanggal (kapan mulai menampung telor tersebut). Telur-telur mentah yang telah ditampung dalam tempat penampungan tersebut direndam dalam larutan campuran  garam, air, dan batu bata yang sudah diaduk selama kurang lebih 10-11 hari atau sesuai selera. Untuk telor dengan kadar keasinan rendah disimpan 1 minggu saja, untuk keasinan sedang disimpan selama 2 minggu dan bila ingin sampai “masir” ( kuning telor sampai keluar minyaknya ) disimpan sampai 3 minggu. .
  5. Rebus telor bebek selama kurang lebih tiga jam (sesuai dengan jumlah telur yang direbus.
  6. Disortir kembali, yang retak disingkirkan. Yang bagus dicap merk.
  7. Disetor ke pasar-pasar, toko, supermarket
Proses pembuatan telor asin ternyata cukup  mudah bukan. Mengapa kita tidak mencoba usaha ini ? (Dyah)

Peluang Usaha, Butik Pakaian Muslim

Toko online belakangan ini makin tumbuh subur di dunia maya. Aneka toko online yang banyak bertebaran di internet menjadi website favorit bagi para pengguna internet. Banyak kemudahan yang menjadikan situs-situs ini semakin diminati oleh para pelanggannya. Para netter tidak perlu datang langsung ke toko, cukup dengan mengklik, dapat dengan mudah berbelanja aneka produk hanya dari layar komputer.

Para pelaku toko online ini biasanya terinspirasi dari amazone.com. Sebuah toko online terbesar di dunia saat ini yang menghasilkan Milyaran Dollar per tahunnya. Padahal, awalnya amazone.com didirikan hanya dari sebuah garasi yang disewa Bezos, sang pemilik amazone.com ini. Hanya butuh beberapa tahun saja amazone.com bisa tumbuh besar seperti sekarang ini.

Salah satu usaha lokal di Sragen yang bernama “Graha Busana Muslim”, tak mau ketinggalan untuk mengikuti jejak amazon.com. Sang pemilik www.grahabusanamuslim.co.cc, Ny.Heny, saat ditemui di rumahnya yang sekaligus sebagai kantor, tepatnya di Masaran Kab. Sragen, mengungkapkan bahwa toko online mempunyai masa depan yang cerah.

Wanita muda ini mengatakan, dengan berbelanja secara online, pembeli tidak perlu lagi bermacet-macet di jalan dan antre di mall. Menurutnya, belanja secara online secara perlahan akan menjadi gaya hidup baru bagi masyarakat Indonesia di masa mendatang. “Belanja online akan menjadi gaya hidup dan cara belanja modern karena menghemat uang dan waktu. Pembeli tidak perlu lagi bermacet-macet di jalan dan antre di mall,” katanya.

Ia mengemukakan, www.grahabusanamuslim.co.cc yang diluncurkan awal Februari 2010 itu hadir di Indonesia dengan konsep menghadirkan aneka busana muslim yang berkelas namun dengan harga yang terjangkau. “Kami hadir dengan menggabungkan kemampuan dan praktik bisnis melalui penerapan teknologi, pelayanan, efisiensi, kualitas serta syarat pembayaran yang memudahkan bagi pembeli,” katanya.

Menurut wanita berjilbab ini, belanja online memungkinkan pembeli memilih barang dari berbagai macam merk, termasuk dari harga yang termurah hingga yang termahal. Untuk menyediakan aneka produknya, ia menggandeng berbagai produsen busana muslim ternama. Salah satunya adalah produsen busana muslim Shasmira dan Qirani yang telah terkenal karena kualitasnya. “Produk kami mulai dari yang harganya dibawah seratus ribuan hingga yang mahal, Kami memberikan pelayanan yang maksimal kepada pembeli hingga ke pelosok nusantara,” katanya.

Ketika ditanya kenapa lebih memilih bisnis di busana muslim, menurutnya bisnis busana muslim atau busana muslimah di Indonesia saat ini semakin subur, terlihat dari meningkatnya antusiasme kaum perempuan untuk memakai busana muslimah. Melihat perkembangan tren baju muslimah, ternyata kaum perempuan semakin selektif untuk memilih baju wanita yang mereka pakai, katanya.

Pada bulan pertama melaunching di dunia maya, dirinya hampir putus asa. Sebab, tak satupun netter yang mengunjungi toko onlinenya. Hingga ia menemukan resep bahwa sebuah toko online harus banyak diiklankan agar banyak dikunjungi para netter.

Belajar dari kegagalan pada bulan pertama, pada bulan selanjutnya ia rajin mengiklankan toko online ke berbagai media, termasuk di facebook. Alhasil, mulai pada bulan kedua tersebut, ia bersama suaminya berhasil menjual sedikit demi sedikit barang dagangannya.

Untuk bisnis butik busana muslim pun banyak variasi, antara lain produksi kerudung atau baju wanita, baju muslim, bisnis butik muslimah (kualitas lebih tinggi), busana muslim biasa (kualitas rendah-sedang), bisnis baju muslim anak dll. Usaha butik muslimah atau butik buslim semua ini punya market tersendiri. Jadi, tambahnya, tidak perlu kuatir akan kehabisan pembeli.

Wanita murah senyum ini membagi tips-tips yang perlu diperhatikan dalam bisnis butik muslim, antara lain adalah :
- Memilih bahan baku yang murah tapi berkualitas.
- Lokasi penjualan dengan target konsumen produk yang dijual.
- Tapi yang penting dalam pemasaran produk, harus berupaya dengan berbagai macam cara, cobalah promosi di koran, promosi di radio.

Tak puas dengan hanya mempunyai satu toko online yang menjual baju muslimah, wanita alumnus UNS Surakarta ini mulai mengembangkan sayap usahanya dibidang perlengkapan bayi (http://www.grahabusanaamuslim.co.cc). Kartu nama menjadi produk pertama percetakan onlinenya. Dan kini, wanita muda yang murah senyum ini mulai mengembangkan percetakan undangan online di www.artausaha.com. (Ryan – Humas)

Jadikan Tretek Kentongan Kesenian Andalan Sragen

Untuk menyambut Hari Jadi Sragen yang ke 264, Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga mengadakan berbagai macam latihan kesenian tradisional guna menyemarakkan event terakbar tahun ini di kabupaten Sragen. Salah satunya adalah dengan menggelar latihan thretek kentongan.

Kesenian tradisional asli dari desa batik Pilang, Masaran ini merupakan salah satu kesenian asli andalan daerah Sragen. Latihan pertama digelar di balai desa Pilang, Masaran.

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Lurah desa Pilang, Suwanto AR, S.Ag, diikuti oleh pemuda masyarakat setempat dan dilatih oleh instruktur berpengalaman dari ISI Surakarta, bapak Slamet. Kabid Kebudayaan, Dra. Huruni ani Uni mawarni, beserta staff pun juga ikut mendampingi latihan tersebut.

Latihan dimulai pada pukul 20.00 dan berakhir sampai pukul 24.00. Para pemuda dan pemudi Desa Pilang sangat bersemangat dalam latihan malam itu. Berbagai macam jebis kentongan, mulai dari ukuran yang kecil sampai dengan ukuran yang ekstra besar ditabuh bersama-sama dan menghasilkan bunyi musik yang asyik dan menarik.

Kegiatan seperti ini selayaknya tidak hanya dilakukan dalam rangka menghadapi suatu event, tetapi harus dilakukan secara rutin setiap minggu atau sebulan sekali supaya kesenian tradisional yang menjadi kebanggaan masyarakat Sragen ini tidak luntur tergerus oleh perkembangan zaman.

Mari jadikan Thretek Kentongan sebagai salah satu aset daerah dan icon Kabupaten Sragen di tingkat lokal, regional, maupun nasional. (srg/tn)


Lezatnya Rica - Rica dan Sate Keong Sawah

    SRAGEN  - Setiap mendengar nama keong sawah yang terlintas pastinya hewan yang menjijikkan dan sering menjadi musuh petani di Indonesia. Namun di tangan Suwandi (29 tahun) hama pengganggu ini disulap menjadi masakan yang lezat, dan tentunya aman untuk disantap.

       Warung Primadona milik Suwandi yang terletak di Dkh Kuyang, Desa Kliwonan, Kecamatan Masaran tersebut,  setiap harinya menyajikan rica – rica dan sate keong emas. Harganya cukup terjangkau yakni  Rp 7.000,-  per porsi untuk rica-rica keong dan sate keong Rp 1.000,- per tusuk. Tak heran dagangan Suwandi yang selalu membuat 2 kilogram keong selalu ludes terjual dalam hitungan jam, yakni hanya sampai pukul 10.00 WIB.

        “Masakan dengan bahan keong sawah banyak yang takut mencoba karena empedunya bisa membuat pusing.  Namun  saya mempunyai  tehnik tersendiri dalam mengolah bahan makan tersebut,  sehingga racun di keong hilang serta tidak berbau amis dan berlendir,” ungkap Suwandi saat ditemui  di warungnya.

       Suwandi menuturkan, rahasianya memasak keong terletak pada cara memasak yang menggunakan 3 tahap. Pertama, keong dibersihkan dan direbus agar keong mati dan mudah dilepaskan dari rumahnya, setelah itu empedu yang keras seperti batu didalam perut keong keluarkan. “Jangan sampai lupa mengeluarkannya karena empedu itulah racunnya,” ujar Suwandi.

       Kedua, Keong dipotong-potong lalu kembali direbus dengan air yang baru, bersama daun pandan, daun salam dan daun jeruk untuk menghilangkan lendir dan amis. Ketiga, setelah bumbu ditumis daging  keong dimasukan. Rica-rica keong emas siap disantap. Sementara untuk membuat Sate Keong Emas hanya ditambah tahap ditusuk lidi lalu dicampur kecap dan merica. Kedua masakan ini akan lebih nikmat ditemani teh rosela hangat. Tujuannya untuk menetralisir apabila ada yang alergi dengan zat yang terkandung didalam keong.

       Pelanggan warung Primadonna bukan hanya warga Masaran tapi juga pejabat di lingkungan Sragen. Salah satu pelanggan tetapnya adalah Manajer Desa Wisata Batik  Kliwonan, Joni Adi Aryawan. Ia mengungkapkan minimal seminggu sekali mampir makan di warung ini.   “Makan sate dan rica-rica keong mas  di warung  ini saya belum pernah sekalipun keracunan, sate keong selain kenyal  dan lezat juga diyakini bisa meningkatkan vitalitas,” kata Joni.(Wid – Humas) .

Safari Ramadhan Masaran : “ ORA OBAH ORA MAMAH “UNTUK MENINGKATKAN EKONOMI MASYARAKAT

    MASARAN  – Ramadhan telah memasuki hari ke delapan. Kali ini, Rabu (18/8) giliran Kecamatan Masaran yang disinggahi Bupati Sragen H Untung Wiyono dalam rangkaian Safari Ramadhan. Bertempat di Pondok Pesantren Darul Falah Dukuh Pilangbangu Desa Sepat Kecamatan Masaran, Bupati melakukan Shalat Ashar berjamaah bersama warga setempat.

        Dalam kesempatan itu Bupati memberikan motifasi kepada seluruh warga sepat untuk maju dan sukses. Bupati menuturkan kilas balik perjalanannya hingga sampai di kursi orang nomor satu di Bumi Sukowati.

       Mulanya H. Untung Wiyono adalah seorang pengusaha sukses di Jakarta yang berasal dari Sragen. Sewaktu akan ada Pemilukada Sragen, ia didatangi oleh seluruh anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sragen dan dibujuk untuk menjadi bupati. Awalnya ia menolak dan bersikeras hanya mau bertindak sebagai penyandang dana.

       Berkat dukungan dari berbagai pihak akhirnya ia maju sebagai bupati dan berhasil menang dalam pemilukada. Dan mulailah karirnya sebagai orang nomor satu di Sragen. Hal pertama yang dilakukan adalah memperbaiki citra dan kinerja PNS. PNS harus bisa melayani dan berlaku sebagai pelayan masyarakat. Salah satu reformasi birokrasi yang dilakukan adalah dengan membuat Kantor Pelayanan Terpadu. Kantor ini merupakan One Stop Service (OSS) untuk melayani segala macam pembuatan perijinan. Kalau dahulu pelayanan dalam pemerintahan dikenal dengan ketidakramahan petugas serta tidak kooperatif dan berbelit-belit, dengan adanya OSS hal tersebut berusaha dihapus.

       Reformasi birokrasi yang telah dilakukan selama hampir 10 tahun tersebut tidaklah sia-sia karena Sragen kini telah mewarnai nasional. Hal itu terbukti dengan diraihnya puluhan penghargaan baik tingkat nasional maupun internasional. Dan penghargaan tersebut tidak didapat dengan begitu saja, tetapi merupakan hasil kerja keras dari berbagai pihak.

       Bupati menambahkan, dengan bekerja keras, pikiran tidak akan pernah memiliki prasangka buruk terhadap orang lain. Jika dijalankan dengan ikhlas, hidup akan terasa indah dan hati terasa senang. Untuk sukses, selain kerja keras juga harus dibarengi dengan doa dan usaha agar seimbang.

       Sejak awal ia menjabat, tambahnya, Bupati menanamkan motto “ora obah ora mamah” serta ilmu kewirausahaan pada warganya. Hal ini telah merubah pola pikir dan berbuah pada perkembangan perekonomian warga Sragen. Banyak orang Sragen yang sukses sebagai wirausahawan di luar Jawa dan kembali lagi untuk membangun perekonomian Sragen. Bupati mengatakan, dulu jumlah warganya yang menjadi pedagang kurang dari satu persen kini hampir sepuluh persen.

       “Orang Sragen harus bisa menjadi Tionghoa-nya orang Jawa,” kata Bupati. Maksudnya, etnis Tionghoa dikenal sebagai orang yang ulet dalam berusaha. Mereka memiliki disiplin dan etos kerja yang tinggi, serta manajemen keuangan yang efektif. Maka dari itu, banyak didapati mereka meraih kesuksesan luar biasa, serta mapan ekonominya.

       Selain itu Bupati juga memberikan masukan terkait dengan permasalahan yang dihadapi di desa Sepat. Misalnya untuk mengatasi kurangnya ketrampilan dan kursus ketrampilan, Bupati memberikan kesempatan para warga sepat untuk kursus gratis di Badan Diklat dan Technopark. Terkait dengan kurang optimalnya pemanfaatan pekarangan, Bupati menjanjikan akan membantu pemberian bibit buah naga. Dalam kesempatan itu juga diberikan bantuan dari Kantor Kementrian Agama Kabupaten Sragen bagi santri Pondok Pesantren. Bantuan berupa Al – Quran tersebut diberikan secara simbolis oleh Bupati kepada Pegurus Ponpes.(dyn)

LOMBA PERAGAAN BUSANA BATIK DHARMA WANITA PERSATUAN KEC. MASARAN

MASARAN – Pengurus Dharma Wanita Persatuan Kec. Masaran dalam rangka memperingati HUT kemerdekaan RI Ke – 65 Tahun 2010 dan menindaklanjuti kegiatan di tingkat Kabupaten, Dharma Wanita Persatuan kec. Masaran mengadakan kegiatan Lomba Peragaan Busana Batik pada hari Sabtu, 7 Agustus 2010 di Aula Gedung PKK Kec.

Masaran Setelah Tim Juri melakukan penilaian terhadap semua peserta dengan kriteria :

1. Keserasian Pakaian dan Aksesoris .
2. Ekspresi Wajah dan Make Up .
3. Gaya dan Keluwesan .

Hasil kejuaraan LOMBA PERAGAAN BUSAN BATIK DHARMA WANITA PERSATUAN KECAMATAN MASARAN MEMPERINGATI HUT KEMERDEKAAN RI KE 65 TAHUN 2010 sebagai berikut :

JUARA I : Ny. Beni Suparwati
JUARA II : Ny. Dani Dwi Puspitasari
JUARA III : Ny. Anik Warsini

JUARA HARAPAN I : Ny. Agustina Nur H
JUARA HARAPAN II : Ny. Rini Purwantari
JUARA HARAPAN III : Ny. Sukesi
JUARA ISTIMEWA : Ny. Wulan

Demikian salah satu kegiatan yang dilaksanakan di Kecamatan Masaran, dalam menyambut HUT RI ke- 65 Tahun 2010. (pde).
 

Pengunjung Online

Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Berita Pulau Seribu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah