Headlines News :
Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan

Mengenal Suryanti, Pencipta Lagu - Lagu Mars

SRAGEN - Menciptakan sebuah lagu  tidaklah mudah. Apalagi menciptakan sebuah lagu  yang enak didengar. Perlu ada keserasian antara lagu dan syairnya. Terciptanya sebuah nyanyian, biasanya timbul dari hasil sebuah inspirasi yang diterima oleh sang penciptanya. Namun untuk mencipta sebuah lagu tentu tidak harus  menunggu munculnya sebuah inspirasi, tentu  saja hal ini merupakan kesulitan tersendiri.

Bagi seseorang yang bernama Sri Suryanti, menciptakan sebuah lagu tanpa menunggu munculnya inspirasi  merupakan hal yang biasa. Wanita setengah baya ini telah biasa menciptakan sebuah lagu dalam waktu yang sangat singkat yakni hanya beberapa hari saja. Pasalnya lagu-lagu yang diciptakannya biasanya merupakan pesanan dari sebuah organisasi atau instansi yang akan segera menggelar sebuah hajad, event ataupun sebuah lomba. Namun tak sedikit pula lagu-lagu yang diciptakannya karena timbul hasil dari sebuah inspirasi.

BANYAK MENCIPTAKAN LAGU-LAGU MARS
Sri Suryani, sehari-harinya berkecimpung di dunia pendidikan. Pada tahun  1972 sampai 2003, ia bertugas sebagai  guru kesenian  di SMP Negeri Purwosuman. Selepas dari SMPN Purwosuman, wanita kelahiran tahun 1955, ini ditugaskan sebagai penilik pendidikan  luar sekolah UPTD Dinas P dan K kecamatan Karangmalang sampai sekarang. Di kalangan Pemerintah Kabupaten Sragen  khususnya dilingkungan Dinas Pendikan & Kebudayaan Kab. Sragen sosok ini sudah tidak asing lagi. Ia dikenal sebagai seorang guru seni yang banyak terlibat dalam pagelaran kesenian.

Karena kepiawaiannya dalam menciptakan lagu, ia banyak mendapat pesanan menciptakan  lagu mars yang berkaitan dengan kegiatan Pemerintahan. Diantaranya adalah Mars UPPKS, Mars P2MBG, BBGRM, PTK – PNF dan Hemat air. Lagu Mars PTK – PNF ( Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Non Formal ) merupakan Mars lagu terkini yang diciptakannya. Lagu Mars ini dapat menggondol trophy Juara II Tingkat Jawa Tengah pada Jambore PTK – PNF pada Mei  2008 lalu.
KEBIASAAN SEJAK REMAJA
Saat ditemui dirumahnya, perempuan murah senyum ini terlihat sedang sibuk menuliskan not-not lagu dalam selembar kertas. Sore itu Suryanti sedang menulis sebuah lagu yang menggambarkan salah satu obyek wisata di Kabupaten Sragen. Menciptakan sebuah lagu bagi Suryani seakan menjadi bagian dari hidupnya. Setiap timbul inspirasi ia langsung menorehkan inspirasinya dalam bentuk lagu. Kebiasaan ini telah dimulainya sejak ia masih remaja sekitar empat puluhan tahun yang lalu.

Pada masa remaja dulu lagu-lagu yang diciptakannya  banyak yang bertema cinta. Namun sayang, lagu-lagu cinta yang diciptakannya dulu hanyalah menjadi koleksi pribadinya, tidak dipublikasikan dalam sebuah kaset. Kebiasaan mencipta lagu ini terus berlanjut hingga menjadi ia diangkat menjadi  PNS di lingkungan Dinas P & K bahkan sampai sekarang.

Menciptakan sebuah nyanyian merupakan bagian kecil dari keahliannya. Darah seni yang mengalir di tubuhnya membuat pengagum Ki Dalang Narto Sabdo (Alm) ini  banyak berkecimpung dibidang seni. Pada  tahun tujuh puluhan  sampai delapan puluhan ia banyak melakonkan peran utama dalam pertunjukan kethoprak maupun pagelaran wayang orang yangwaktu itu diselenggarakan oleh Departemen Penerangan. Waktu itu, ia sangat dikenal  sebagai pemeran Janoko dalam setiap pagelaran wayang orang.

Selain tampil pada pentas-pentas kesenian yang diselenggarakan oleh pemerintah, hampir tiap hari ia tak pernah lowong  mendapat undangan untuk mengisi kegiatan-kegiatan kesenian seperti  kethoprak, wayang orang maupun menyanyi pada acara hajatan yang diselenggarakan oleh masyarakat.

Menapaki usia lima puluhan, ibu empat orang anak, ini mulai mengurangi aktivitas di pentas-pentas kesenian.  Sepulang kerja, ia lebih banyak tinggal di rumah sambil menciptakan  lagu. Saat ini, Suryani  tengah menggarap sebuah lagu yang  bertemakan tentang Putri Sukowati dan nDayu Alam Asri.
PROSES MENCIPTA SEBUAH NYANYIAN
Dalam proses  menciptakan  sebuah lagu, tahap  awal yang dilakukan adalah mencipta notnya dulu. Baru kemudian syairnya. Yang paling penting diperhatikan, menurutnya adalah dinamic atau keras lembutnya sebuah lagu, karena hal ini dapat mempengaruhi emosi jiwa yang menyanyikan maupun  yang mendengarnya.

Setelah lagu dan syairnya terbentuk dengan baik dan serasi baru kemudian ia melakukan rekaman. Bila nyanyian tersebut merupakan sebuah pesanan dari seseorang atau organisasi, usai rekaman,  kaset tersebut dapat diberikan pada pemesannya.
SETIAP LOMBA PASTI MENANG
Sejak remaja hingga kini, tidak ada satupun lomba cipta lagu maupun menyanyi yang diikutinya yang tidak ia menangkan. Kalau tidak mendapat juara satu pastilah juara dua. Namun yang paling penting bagi Suryani adalah menyalurkan hobinya dibidang seni. Bagi dirinya, kakak laki-lakinya yang bernama Teguh Widodo (Alm) adalah orang yang paling berjasa dalam membentuk dirinya hingga mahir diberbagai bidang kesenian. Dari kecil hingga remaja, sang kakaklah yang melatih dan menggembleng dirinya dibidang kesenian,  sehingga menjadi serorang maestro didunia seni. 

MORISTA, Si Anggun Yang Lagi Naik Daun


Di kalangan warga Kabupaten Sragen dan sekitarnya, siapa yang tak kenal dengan penyanyi yang satu ini. Morista, begitu orang mengenalnya. Seorang penyanyi asli Sragen serba bisa, yang mahir menyanyikan berbagai jenis lagu. Morista sering tampil diberbagai acara seperti hajatan/orang punya kerja, panggung hiburan terbuka,  peringatan hari-hari besar, serta acara-acara lain baik yang diselenggarakan pemerintah maupun swasta.

Ditemui dirumahnya  di Dedegan, Kelurahan Pelemgadung Kecamatan Karangmalang Sragen, ibu satu anak ini menceritakan bahwa bakatnya  dibidang seni suara memang sudah dimilikinya sejak  masih kecil. Sewaktu masih duduk di bangku SD, wanita bertubuh langsing ini sangat menyenangi lagu-lagu dangdut. Menginjak dewasa sewaktu duduk dibangku SMP, kesenangannya dalam mengolah suara disalurkan dengan mengikuti berbagai lomba menyanyi.

Lepas dari bangku SMP, suara emasnya mulai dilirik oleh  group campur sari Barokah asal Banaran, Sambungmacan. Nah sejak itulah karirnya mulai melejit bak roket yang sedang membelah angkasa. Lagu pertama yang ia nyanyikan sewaktu resmi menjadi penyanyi campur sari  adalah lagu yang berjudul “Kangen” karya  Manthos. 

Belajar Secara Otodidak
Dalam olah seni suara penyanyi asli Sragen kelahiran  28 tahun silam ini mengaku belajar secara otodidak. Dia tidak pernah belajar secara khusus kepada seorang guru. Bakat yang dimilikinya  sejak lahir telah menghantarkannya menjadi seorang penyanyi yang terkenal seperti saat ini.  

Meski demikian ia mempunyai tokoh idola seorang penyanyi yang mengispirasikan dan memotivasinya hingga menjadi seorang penyanyi. Tokoh idolanya tersebut tidak lain adalah Waljinah dan Hetty Koes Endang. “Dari kedua penyanyi inilah saya belajar menyanyi meski tidak secara langsung,” katanya. 

Berbagai Jenis Lagu
Meski sewaktu kecil dulu hanya lagu dangdut yang ia sukai, namun ketika terjun di dunia olah suara dirinya dihadapkan pada kenyataan bahwa pengemarnya tidak hanya dari kalangan penyuka lagu dangdut saja.
Alhasil ia pun harus belajar berbagai jenis lagu. Dari situlah terbukti bahwa bakatnya menyanyi tidak hanya terbatas pada lagu dangdut. Bahkan untuk mempelajari berbagai jenis lagu dirinya tidak menemui kesulitan. Menurut Morista, berbagai jenis lagu yang ia bawakan cengkoknya tak terlalu jauh dari lagu-lagu dangdut, misalnya lagu pop yang didangdutkan, lagu campursari, keroncong dan langgam jawa. “Cengkoknya tak terlalu jauh dari lagu dangdut, hampir mirip-mirip, yang paling penting saya tetap menggunakan suara tenggorokan” jelasnya.

Menurut Moris, sewaktu manggung dirinya harus dapat memenuhi permintaan berbagai lagu dari para penontonnya. Yang paling banyak adalah penonton kawula muda. “Biasanya para kawula muda lebih banyak meminta untuk dinyanyikan lagu-lagu pop yang didangdutkan” ceritanya. 

Harus Hafal Banyak Lagu
Morista mengakui selama ini, ia  merasa tidak kesulitan dalam memenuhi permintaan lagu dari para penontonya. Modalnya adalah  memang harus hafal berbagai jenis lagu. “Bila diminta menyanyikan sebuah lagu dan saya tidak hafal kan malu, jadi saya harus menghafalkan banyak lagu, terutama lagu-lagu yang lagi in ” jelasnya. Untuk itu, ia tidak pernah ketinggalan  membeli CD lagu-lagu terbaru, untuk menghafalkan lagu-lagu terbaru yang banyak digemari masyarakat.

Popularitas Morista sebagai penyanyi serba bisa  ternyata  tidak hanya dikenal  di wilayah Sragen dan sekitarnya saja. Undangan untuk menyanyi banyak juga datang  dari luar pulau Jawa. Yang paling sering adalah undangan dari masyarakat yang tinggal di Balikpapan dan Samarinda. Orang di luar Pulau Jawa yang mengundang Morista biasanya  adalah orang-orang yang berasal dari Jawa yang sudah lama menetap disana.
Bagi Morista job manggung  tidak saja datang dari masyarakt umum yang punya hajad. Namun sering kali I diundang untuk menyanyi di acara-acara resmi yang digelar oleh pemerintah Kabupaten Sragen. Bahkan sering pula diundang dalam acara resmi yang dihadiri oleh Pejabat tinggi Negara, seperti Menteri atau bahkan Presiden. 

Banjir Order
Pada bulan-bulan tertentu seringkali ia kebanjiran order yang menyebabkan banyak undangan menyanyi yang bersamaan. Biasanya pada bulan-bulan yang dipercaya masyarakat sebagai bulan baik, ia sering kebanjiran order. Dalam satu hari seringkali penyanyi bertubuh mungil ini  harus manggung sebanyak empat kali di tempat yang berbeda Dengan padatnya jadual menyanyi tersebut, apakah tidak merepotkan ?  “Tidak, habis sudah terbiasa, bahkan  kami tidak mempunyai asisten khusus, semuanya kami bawa sendiri, seperti pakaian alat-alat kosmetik dan lain sebagianya, puji syukur selama ini berjalan lancar” katanya.

Pengalaman mengesankan bagi Moris adalah  sewaktu mendapat undangan di sebuah desa di  pelosok wilayah Kabupaten Boyolali. Waktu itu perjalanannya sangat jauh, hujan dan gelap. Di tengah jalan yang sepi kedua ban mobilnya gembos, Padahal acara segera dimulai. Untuk menepati waktu, terpaksa  ia harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kali ditengah hujan dan jalanan yang sangat becek, jauh pula. “ Kejadian itu  tak pernah  saya  lupakan “ kenangnya. “ Sedang yang paling memuaskan ketika manggung adalah ketika  dapat memenuhi semua permintaan lagu dari penonton” tambahnya. 

Minum Air Putih
Ada satu tips sehingga Morista memiliki  banyak penggemar. “ Resepnya adalah , jangan kecewakan mereka, tepati  jadwal menyanyi sesuai undangan, jangan sampai terlambat” akunya. Menurut Moris ia selalu menepati setiap undangan menyanyi serta berusaha datang lebih awal dari waktu yang telah disepakati, sehingga selama ini belum pernah mendapat complain dari masyarakat atau penggemarnya yang kecewa, karena terlambat atau tidak tepat waktu.

Terkait kiat agar selalu tampil prima, Moris mengaku tidak punya resep khusus.  “ Saya tak menggantungkan pada suatu ramuan khusus untuk menjaga kualitas suara dan penampilan, hanya banyak minum air putih, itu resep saya” jelasnya. Bila  kondisi badan kurang fit, ia hanya mengkonsumsi kencur dicampur garam dan jeruk nispis saja.

Lantas bagaimana bila pas kondisinya tidak sehat atau sakit flu namun ada jadwal  menyanyi yang harus ditepati.  “Pernah juga, sewaktu saya sakit flu dan harus manggung, ketika itu  saya tawarkan kembali kepada pengundangnya bahwa saat itu  saya terserang  flu apakah mau bila suaranya tidak seperti biasanya, ternyata mereka juga tidak mempersoalkan dan saya tetap menyanyi,” jelasnya. 

Telorkan 12 Album
Meskipun jadwal manggungnya sangat padat, Moris masih menyempatkan diri untuk membuat album. Selama berkarir sebagai penyanyi, ia  telah menghasilkan 12 album lagu-lagu, baik lagu-lagu  Campursari maupun lagu-lagu jenis lainnya. Album yang paling laris menurutnya adalah sebuah album lagu yang direkam di Studio Musik “Guna Nada Suara Semarang.

Terkait dengan upaya pelestarian lagu-lagu jawa, Moris menyampaikan pesan kepada para generasi muda agar selalu  ikut nguri-uri budaya jawa. “ Seni budaya adalah peninggalan leluhur kita yang adi luhung, karena itu merupakan kewajiban bagi kita semua, khusunya kalangan generasi muda, untuk melestarikannya, jangan sampai tergeser oleh  budaya asing “  pesannya. (N. Hart)

Bagong Sang Penabuh Kendang, Pernah Memecahkan Rekor Muri

Ki Lurah Bagong Sugiyanto demikian gelar yang diberikan keraton Surakarta kepada Bagong sang penabuh kendang asal Sragen. Lahir dengan nama Sugiyanto, ayahnya seniman senior Sastro Suparto promotor grup karawitan Mardi Laras, adalah yang memperkenalkan dunia seni dan yang pertama kali menjulukinya Bagong. 

Kepiawaian Bagong menabuh kendang selama 49 tahun juga telah diakui bukan hanya di level lokal saja.  Ia berhasil memecahkan rekor dari Musium Rekor Indonesia (Muri). Yakni sebagai penabuh kendang terlama nonstop tanpa henti 17 jam 17 menit 17 detik pada hari jadi Kota Solo ke 259. Kendang dimainkan dengan kolaborasi musik modern diiringi tari.

Prestasi Bagong, bukan berhenti sampai itu saja. Nama Bagong di dunia seni mancanegara cukup diperhitungkan. Setelah beberapa kali didaulat  mengikuti pentas bersama Duta kesenian Indonesia di berbagai belahan dunia, diantaranya negara London, Perancis dan Yunani. Tiket untuk menonton kepiawaiannya menabuh selalu ludes terjual dibeli oleh para penikmat seni di negara –negara tersebut.

Terjun di Dunia Seni
 “Awal ketertarikan menjadi penabuh kendang karena sejak kecil saya selalu ikut Bapak saat pentas. Saya selalu dipangku pak Darmo Mendol penabuh kendang hingga ketiduran. Witing Tresno Jalaran Seko Kulino, karena tiap hari bergelut dengan kendang, timbul rasa cinta,” kenang Bagong.

Ilmu yang didapat secara otodidak telah mengantarkan Bagong menjuarai setiap perlombaan porseni saat duduk di bangku sekolah, baik tingkat kabupaten dan provinsi. Merasa memiliki kemampuan di berbagai bidang seni diantaranya karawitan, tari dan mendalang. Maka Bagong memutuskan melanjutkan studi Akademi Seni Karawitan Indonesia yang kini berubah menjadi Institut Seni Indonesia Surakarta.

Selepas lulus sarjana muda, Pria kelahiran 23 Oktober 1960 ini dilirik kampus tempatnya mengenyam pendidikan yang melihat potensi di dirinya, langsung menariknya menjadi tenaga pengajar di ISI Surakarta. Di ISI Bagong memiliki banyak mahasiswa, bukan hanya mahasiswa lokal tapi banyak juga mahasiswa asing.

 “Murid saya meskipun orang asing tapi lebih serius untuk mempelajari budaya Jawa. Ada yang dari Jepang Perancis, London dan Belanda karena rata-rata ditugaskan oleh negaranya agar sekembalinya bis a mengajar di Negara asalnya. Kalau orang Indonesia asal bisa saja sudah puas, tidak mau meningkatkan kemampuan,” katanya.

Untuk mengapresiasikan karyanya ia memilih untuk tergabung dalam grup karawitan Gandang Sukowati. Namanya mencuat ketika menjuarai lomba seni tingkat nasional yang diselenggarakan  Departemen Penerangan pada tahun 1987.

Pucuk dicinta ulam tiba,  setelah itu tawaran bergabung dengan Duta Kesenian Indonesia untuk menghibur warga negara Indonesia di berbagai belahan dunia pun datang.

“Pengalaman paling mengesankan ketika pentas di Perancis, kendang saya tak boleh dibawa pulang oleh penggemar dari sana. Saya berikan karena dia berminat tinggi mempelajari menabuh kendang,” ungkapnya.

Aktivitas rutin Bagong saat ini adalah  mengiringi Bupati Sragen Untung Wiyono mendalang di berbagai tempat yang membuat namanya terus berkibar di jagat seni. Ia juga terus aktif di Dewan kesenian Daerah Sragen (DKDS).

Darah Seni Mengalir ke Anak-anak
Seniman serba bisa ini bertekad untuk terus melestarikan budaya Jawa,  terbukti dua dari empat anaknya mengalir kuat darah seni. Yakni Pandu Gandang Sasongko dalang cilik yang menyabet juara satu dalang bocah tingkat karesidenan Surakarta, dan juara 2 tingkat Provinsi. Sementara Dwi Endarti putri pertamanya yang masih berkuliah di ISI Surakarta memilih menjadi penari profesional.

Ia berpesan kepada generasi muda jangan sampai budaya asli Jawa tergerus jaman, jangan sampai terkalahkan dengan budaya asing. Ia juga menghimbau kepada seniman lain untuk menjaga keaslian gending Jawa dengan tidak melanggar pakem yang ada, seperti dengan seenaknya menggabungkan gending Jawa dengan musik dangdut. (Rin – Humas)

Kesenian Kentongan Guno Tengoro

ternyata memang sebuah daerah yang seolah tak kan habis potensi seni dan pariwisatanya. Banyak sekali potensi seni yang ternyata masih tersembunyi dan menunggu untuk disingkap dan dikembangkan. Contohnya potensi seni yang satu ini, yaitu kesenian kentongan Guno Tengoro dari Sragen, tepatnya di daerah Desa Wisata Kliwonan. Seperti apa jenis kesenian satu ini, berikut walah sertakan Press Release serta beberapa foto yang walah dapat dari sahabat walah, Bp. Johny Adhi Aryawan, Penanggung jawab Pengembangan Desa Wisata Batik Pilang-Kliwonan, Masaran-Sragen.

GUNO TENGORO,  Menebus Rindu Masa Lalu dengan Musik Kentongan

Suara tetabuhan kentongan terdengar dari Rumah Mulyanto Senggung (45) di Dukuh Jantran, Desa Pilang, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen. Di rumah bergaya Joglo khas desa itu tampak  sejumlah pemuda sedang memukuli tujuh kentongan kayu berukuran besar dan delapan kentongan bambu yang lebih kecil.

Di halaman rumput depan rumah Senggung, dua pasang muda mudi belia menari mengikuti irama kentongan yang bertalu. Gerakannya mirip lenggak lenggok tayub namun penarinya mengenakan pakaian ala petani. Para gadis menggendong tenggok –keranjang bambu—berisi padi dan gabah, sementara jejakanya mengenakan iket dan berpakaian serba hitam serta memanggul cangkul. Sedangkan Senggung, bertugas melantunkan langgam jawa yang sesekali ditingkahi alunan seruling bambu. 

Itulah Guno Tengoro, kelompok musik kentongan tuwo yang dimotori oleh kelompok tani Gemah Ripah Loh Jinawi, asal dukuh Jantran Desa Pilang. Mereka sedang melakukan latihan rutin. Kelompok tani pimpinan Mbah Marijo (60) ini memang tengah berjuang membangkitkan kembali kesenian rakyat khas agraris. ‘’Para petani di desa kami sebenarnya memiliki banyak kesenian rakyat yang unik. Kami ingin nguri-uri agar tidak punah. Salah satunya musik kentongan,’’ kata Marijo.

Disebut musik kentongan tuwa lantaran perangkat kentongan yang digunakan telah berumur puluhan tahun. Ukurannya pun istimewa. ‘’Kentongan kebanggaan kami yang tertua dan terbesar berumur 200 tahun dan difungsikan sebagai bas,’’ kata Senggung.  Benar saja, suara menggelegar terdengar saat kentongan dengan berat nyaris sekwintal dan tinggi lebih dari 2 meter itu ditalu dengan sebatang kayu.

Sebagai sebuah grup musik, umur Guno Tengoro memang masih belia lantaran baru saja dibentuk bulan Oktober silam. Namun, warga Desa Pilang sudah lama mengenal seni tabuh kentongan. Di masa lalu, tetabuhan –klothekan dalam bahasa setempat-- kentongan dilakukan saat hajatan panen raya dan sedekah bumi, yang kemudian ditutup dengan gelar wayang kulit. 

Guno Tengoro dibentuk dengan semangat melakukan konservasi atas ragam kesenian lokal khas masyarakat agraris. Tak heran, jika dalam pertunjukannya mereka ingin menceritakan siklus perjalanan padi. Guno Tengoro ingin mengingatkan khalayak luas tentang perjuangan kaum tani di Indonesia dan menggugah rasa hormat terhadap tanaman padi. Langgam jawa yang dilantunkan pun berkisah tentang masa-masa suilit pangan di era kolonial (Langgam Caping Gunung), suasana pesta panen di lumbung desa (Langgam Lumbung Desa), ditumbuk kaum ibu dan disajikan untuk makan keluarga (Langgam Lesung Jumengglung), dan kisah padi yang mampu memenuhi kecukupan pakan dan kesejahteraan masyarakat (Langgam Jangan Koro).

Lagu-lagu tersebut, menurut Senggung, diharapkan menjadi pengingat untuk generasi sekarang, agar lebih menghargai proses tersedianya pangan di meja makan. ‘’Padi adalah simbol kemakmuran dan kesejahteraan, namun dia tidak begitu saja mudah dicapai. Harus ada pengorbanan dan perjuangan,’’ tutur Senggung.

Tak cuma itu, Guno Tengoro juga membawa misi edukasi historis dengan mengajak bernostalgi tentang peran kentongan di jamannya. Jauh sebelum teknologi informasi berkembang pesat seperti saat ini, kentongan memiliki peran penting sebagai alat berkomunikasi dan penyampai isyarat yang mumpuni.

Maka, di tengah-tengah pertunjukan, Guno Tengoro selalu memperagakan jenis-jenis bunyi kentongan yang mengabarkan tentang suatu peristiwa. Kabar tentang banjir, maling kepergok, hewan ternak hilang, berita kematian, kebakaran, hingga kondisi aman  dapat disampaikan dengan isyarat bunyi ketukan tertentu.  Fungsinya mirip bahasa sandi dari alat Morse di kapal laut.

Bahkan, ini yang tidak diketahui banyak orang, bunyi kentongan dapat digunakan sebagai isyarat oleh kepala desa/ lurah untuk memanggil perangkat desa maupun warganya. Karakter kentongan yang fungsional itulah menjadi alasan bagi penamaan grup Guno Tengoro. Artinya berguna (Guno) sebagai penanda peristiwa (tengoro/tengara)

Johny Adhi Aryawan, dari Kantor Pariwisata, Investasi, dan Promosi Kabupaten Sragen menyebut seni musik kentongan ala Guno Tengoro sebagai media refleksi kaum tani untuk memahami hubungan unik antara manusia, alam, dan Allah SWT. ‘’Nilai filosofis dari seni musik kentongan menuntut adanya pemahaman atas keseimbangan relasi tiga unsur tersebut. Inilah kunci agar Tuhan tidak murka, alam tidak membawa bencana, dan hubungan silaturahim antar warga tetap terjaga mesra,’’ katanya. 

Johny mengaku bangga dengan kreativitas dan inisiatif kaum tani di Dukuh Jantran, yang masuk dalam kawasan Desa Wisata Batik Pilang-Kliwonan. ‘’Kesenian Kentongan Tuwo ini dapat memperkaya ragam atraksi wisata di Desa Wisata Batik,’’ ujar penanggung jawab pengembangan Desa Wisata Batik khas Sragen itu. ‘’Kesenian rakyat ini, bila diberi kesempatan dan ruang ekspresi yang luas, pasti akan dapat bertahan lestari dan terus berkembang,’’sambungnya lagi. 

Sebagai bentuk dukungan nyata, Kantor Pariwisata, Investasi, dan Promosi Kabupaten Sragen telah memfasilitasi Guno Tengoro tampil dalam Cultural Event World Herritage Cities-Solo International Ethnic Music di Istana Mangkunegaran Solo, 28 Okteober 2008. ‘’Pemkab juga akan terus melakukan pendampingan dan pembinaan agar kualitas karya dan penampilannya terus berkembang,’’ katanya.

Jadikan Tretek Kentongan Kesenian Andalan Sragen

Untuk menyambut Hari Jadi Sragen yang ke 264, Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga mengadakan berbagai macam latihan kesenian tradisional guna menyemarakkan event terakbar tahun ini di kabupaten Sragen. Salah satunya adalah dengan menggelar latihan thretek kentongan.

Kesenian tradisional asli dari desa batik Pilang, Masaran ini merupakan salah satu kesenian asli andalan daerah Sragen. Latihan pertama digelar di balai desa Pilang, Masaran.

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Lurah desa Pilang, Suwanto AR, S.Ag, diikuti oleh pemuda masyarakat setempat dan dilatih oleh instruktur berpengalaman dari ISI Surakarta, bapak Slamet. Kabid Kebudayaan, Dra. Huruni ani Uni mawarni, beserta staff pun juga ikut mendampingi latihan tersebut.

Latihan dimulai pada pukul 20.00 dan berakhir sampai pukul 24.00. Para pemuda dan pemudi Desa Pilang sangat bersemangat dalam latihan malam itu. Berbagai macam jebis kentongan, mulai dari ukuran yang kecil sampai dengan ukuran yang ekstra besar ditabuh bersama-sama dan menghasilkan bunyi musik yang asyik dan menarik.

Kegiatan seperti ini selayaknya tidak hanya dilakukan dalam rangka menghadapi suatu event, tetapi harus dilakukan secara rutin setiap minggu atau sebulan sekali supaya kesenian tradisional yang menjadi kebanggaan masyarakat Sragen ini tidak luntur tergerus oleh perkembangan zaman.

Mari jadikan Thretek Kentongan sebagai salah satu aset daerah dan icon Kabupaten Sragen di tingkat lokal, regional, maupun nasional. (srg/tn)


Alun - Alun Sasono Langen Putro, Pusat Hiburan Murah Meriah Warga Sragen

Alun-alun Sasono Langen Putro nampaknya menjadi sarana hiburan yang murah dan meriah bagi masyarakat di kota Sragen dan sekitarnya. Hampir setiap malam, banyak warga yang mendatangi alaun-alun untuk berbelanja, mencari liburan atau sekedar jalan-jalan. Terlebih bila malam minggu atau malam hari libur, bisa dipastikan selepas Maghrib, ribuan masyarakat baik laki-laki perempuan, tua muda, dewasa anak-anak dari berbagai strata masyarakat berduyun-duyun memadati alun-alun yang terletak didepan komplek Pemda Sragen tersebut.

Apa yang menjadi daya tarik Alun-alun Sasono Langen Putro sehingga mampu menarik masyarakat untuk mendatanginya. Tentunya karena berbagai fasilitas dapat ditemukan ditempat tersebut, selain letaknya yang sangat strategis dijantung kota Sragen. Bagi warga yang hendak berbelanja, di seputar alun-alun banyak terdapat pedagang aneka kebutuhan sehari-hari seperti baju, kaos, jaket, sepatu-sandal, topi, aneka acecoris dsb. Para pedagang kaki lima tersebut menjajakan dagangannya disepanjang trotoar yang mengelilingi alun-aluan Sasono Langen Putro. Sementara bagi masyarakat yang hendak berekreasi, terutama warga yang memiliki putra-putri kecil, di komplek alun-alun tersedia berbagai sarana hiburan yang murah. Seperti mobil-mobilan, komidi putar mini ( odong-odong), mandi bola, permainan ketangkasan, kereta kuda / bendi, becak mini, mandi bola dan aneka permainan anak lainnya.
Selesai belanja dan rekreasi, bagi pengunjung yang lapar dan haus dapat berwisata kuliner disekitar alun-alun. Aneka jajanan dapat ditemukan dengan mudah di sekitar alun-alun, seperti bakso, soto, mie ayam, sate ayam, sate kambing, sea food, pecel, nasi goring dsb. Para pedagang makanan dan minuman tersebut berjejer di sepanjang kios renteng disebelah selatan alun-alun, yang memang telah disediakan untuk pedagang makanan dan minuman. Selain itu alun-alun Sragen juga sudah dilengkapi fasilitas hotspot gratis untuk berselancar di dunia maya, tak heran bila di sekitar alun-alun kita melihat anak-anak muda berinternet dengan laptop atau hp yang dilengkapi wifi sambil wedangan di hik atau sambil nglesot di depan komplek kantor Pemda Sragen. Termasuk admin dari blog sragenHolic juga suka nglesot nih.. hehehe...

Pada malam-malam tertentu di Alun-alun Sasono Langen Putro juga sering digelar panggung hiburan terbuka yang dapat disaksikan secara gratis. Panggung hiburan yang sering digelar dialun-alun adalah orkes melayu / dangdut yang memang banyak digemari sebagaian besar masyarakat. Tak jarang beberapa grup band  papan atas di Indonesia hadir di Sragen untuk menjadi bintang tamu di acara yang di adakan di alun-alun Sragen.
Sementara setiap Minggu pagi, alun-alun Sasono Langen Putro menjadi tempat untuk berolah raga bagi masyarakat Sragen. Jenis olah raga yang biasa dilakukan warga adalah joging atau jalan sehat mengelilingi alun-alun, sepeda sehat, sepakbola kecil, senam jantung sehat serta senam aerobic yang telah disediakan instruktur. Untuk kenyamanan warga yang sedang berolah raga serta mengurangi polusi asap kendaraaan, jalan raya Sukowati yang melintas disebelah utara alun-alun ditutup bagi kendaraan umum mulai jam 6.00 sampai 08.00 WIB. Dengan demikian selain berolah raga masyarakat dapat menghirup udara segar yang bebas dari polusi asap kendaraan bermotor.

sumber : sragenHolic 

Tayub Sragen, Kesenian Rakyat yang Terus Menggeliat

Irama musik mengalun dengan suara merdu. Suara gong, dipadu kendang dengan irama rancak saling menjalin, memacu semangat seorang penari Tayub yang bergoyang tanpa lelah. Tampak mimiknya yang ekspresif dengan geraknya yang gemulai, mereka berjoget mengikuti irama tembang-tembang Jawa populer. Kadang tampil sedikit atraktif, yang sangat menggoda perhatian para tamu. Kesenian ini memang sangat elok untuk ditonton. Seakan mata tak lelah tertuju pada para penari. Kesenian tayub memang sudah tidak asing, terlebih bagi warga di daerah Sragen dan sekitarnya. Tayub adalah seni pertunjukan yang dianggap sebagai kesenian rakyat yang muncul  pertama kali pada jaman Kerajaan Singosari. Pertunjukan tayub saat ini biasa dilaksanakan warga untuk memeriahkan acara sunatan dan pernikahan.
Tayub pada mulanya merupakan ungkapan kegembiraan untuk menyambut kedatangan tamu dan merupakan bagian dari pesta rakyat. Kesenian ini berupa pertunjukan yang berbentuk tari berpasangan antara tledhek atau joged dengan penari lelaki sebagai penayub. Penari Tayub biasanya mengawali pentas dengan membawakan Tari Gambir Anom, sebuah tarian klasik dengan gaya lemah lembut. Setelah itu, mereka menarikan irama-irama yang sedikit rancak. Yang unik dari tarian ini adalah ikut sertanya para penonton atau tamu untuk menari bersama dengan penari Tayub. Tamu yang dipandang terhormat biasanya akan didaulat ikut menari dengan ditandai dikalungkannya sebuah sampur.

Tentang istilah tayub sendiri ada beberapa pendapat. RT. Suparno Hadipura, S.Pd salah seorang pemerhati kesenian Tayub di Kecamatan Jenar Sragen, menyebutkan “Tayub” berasal dari kata ”Toto lan Guyub” (ditata biar kompak) tatanan sing guyub, yang maknanya tingkah dan gerak harus kompak lahir batin. Kompak antara penari, waranggana dengan penari pria dan penabuh gamelan. Suparno menyebut tayub merupakan salah satu kesenian yang adiluhung. Kesenian Tayub,  mengandung filosofi atau pitutur yang tinggi, dalam bahasa Jawa kesenian Tayub mengandung makna ”sapa kang duwe gegayuhan lamun bisa nyingkirake ing panggoda utowo pepalang bakal bisa kasembadan ing sedya”. Arti dalam Bahasa Indonesia, Siapa yang mempunyai cita-cita, harus bisa tahan terhadap segala godaan. Godaan disini dilambangkan dengan penari utama yang disebut Tledek dan penari pengiring yang berada dibelakang tledek yang disebut, Panglareh. Sementara simbol yang mengajak kepada kebaikan di perankan oleh Pangarih. Pangarih merupakan penari pengiring yang berada di belakang Panglaras atau orang yang medapatkan sampur. Penari Tledek dan Panglaras akan menari berhadap-hadapan.  Tledek dan Panglareh akan menggoda Panlaras. Sementara, Pangarih berperan untuk mengajak Panglaras agar tidak terpengaruh godaan dan mengajak kepada kebaikan.

Tayub mulai dikenal sejak jaman Kerajaan Singosari. Pertama kali digelar pada waktu Jumenengan Prabu Tunggul Ametung. Kemudian Tayub berkembang ke Kerajaan Kediri dan Mojopait. Pada Jaman Kerajaan Demak, kesenian Tayub jarang dipentaskan. Pada waktu Jaman Kerajaan Demak,  kesenian Tayub hanya dapat dijumpai di daerah pedesaan-pedesan yang jauh dari pusat kota kerajaan. Seiring berjalannya waktu, sejak berdirinya kerajaan Pajang dan Mataram, kesenian ini mulai digali kembali. Malahan pada waktu itu Tayub dijadikan Tarian Beksan di Keraton yang digelar hanya pada waktu acara-acara khusus. Namun disayangkan, penjajah Belanda memasukkan unsur negatif yang dikenal dengan 3C, Cium, Ciu dan Colek. ”Dalam tarian tersebut dimasukkan minuman keras, tujuannya agar mengacaukan rasa persatuan. Dengan mabuk, orang kemudian bisa gampang tersinggung, bertengkar, dan sebagainya. Sejak saat itulah penilaian terhadap tayub menjadi negatif,” katanya.

Tayub yang telah terkena pengaruh negatif dari penjajah belanda terus terpelihara hingga pemerintahan dipegang oleh Sunan Pakubuwono III. Sewaktu pemerintahan dipegang oleh Sunan Pakubuwono ke IV, beliau tidak berkenan dengan adanya pengaruh negatif tersebut. Akhirnya Tayub ditetapkan sebagai tari Pasrawungan  di masyarakat. Selanjutnya kesenian tayub mengalami perkembangan  di daerah  Sragen, Wonogiri dan Purwodadi. Di daerah Sragen sendiri, kesenian Tayub banyak berkembang di Kecamatan Jenar, Gesi, Sukodono, Mondokan dan Ngrampal. Citra kesenian tayub pada waktu itu, diperburuk ulah para penari pria atau penonton. Dulu, para penari ini biasa memberi sawer dengan cara memasukkannya ke kemben atau kain penutup dada. Dengan demikian muncul kesan bahwa penayub itu ”murahan”. Tetapi, di era sekarang hal semacam itu sudah amat jarang terjadi.

Kesan miring para  penari tayub, dahulu  memang sangat terasa. Namun seiring dengan perkembangan jaman,  kebiasaan yang tinggalan penjajah tersebut kian lama  kian menipis. ”Bahkan sekarang ini kebiasaan negatif 3C pada tayub tidak pernah ada,” ungkap Suparno. Pakaian yang dikenakan para penari pun seiring perjalanan  waktu, juga mengalami pergeseran. Kalau dulu pakaian yang dikenakan penari, biasanya hanya mengenakan kemben sebatas dada. Saat ini tampak lebih sopan. Pakaian yang dikenakan tidak ubahnya seperti pakaian wanita adat Jawa kebanyakan.

Image  negatif yang melekat pada para penari tayub ini ditepis  oleh para penari tayub. Menurut Juniati (27), salah seorang penari Tayub asal Jenar, dilihat dari pakaiannya saja penari tayub jauh lebih sopan dibandingkan penyanyi dangdut atau campur sari. Pakaian penari tayub sekarang sudah jauh berbeda dengan penari tayub dijaman dulu. Sementara para penyanyi dangdut ataupun penyanyi campursari yang  sering kali tampil  di televisi, kadang masih mengenakan pakaian yang seksi. Para penari Tayubpun juga tidak rela bila penari  dikonotasikan negatif. ”Tayub sekarang sudah berbeda dengan tayub jaman penjajah dulu, sekarang sudah tak ada kebiasaan-kebiasaan yang negatif seperti pada jaman dulu,” tegas Juniati.

Meski berkembang dalam lingkungan musik modern, popularitas Tayub tidak kian redup. Kesenian ini masih banyak dijumpai pada acara-acara hajatan di beberapa desa di wilayah  Kabupaten Sragen. Tantangan  yang kini dihadapi tidak ringan. Perkembangan musik-musik modern dikawatirkan  akan dapat menenggelamkankan kesenian Tayub, bila tidak diuri-uri sedini mungkin. Namun, menurut Suparno, di Kabupaten Sragen ada  seniman-seniwati yang masih masih peduli terhadap kesenian ini. ” Saya  sendiri dan beberapa rekan seprofesi telah beberapa kali menciptakan syair-syair  gendhing pengiring tarian tayub, tujuannya adalah agar kasenian ini tetap lestari” terang Suparno. Salah satu upaya untuk melestarikan kesenian tayub, pada acara-acara resmi di kantor kecamatan, tak jarang kesenian tayub tersebut di pentaskan.

Regenerasi penari Tayub di Kabupaten Sragen sendiri telah berjalan dengan cukup  baik. Hal ini terbukti dengan banyaknya  penari  yang mayoritas berusia  muda antara 20 hingga 30 tahunan. Biasanya mereka memiliki paras yang cantik dan berbadan bagus. ”Penari yang usianya telah menginjak paroh baya, biasanya mewariskan kesenian ini pada anak ataupun kerabatnya, jadi saya kira tidak perlu dikawatirkan bila regenerasi kesenian ini akan mati” jelasnya. Meskipun kesenian ini tidak bisa dijadikan tumpuan hidup, ternyata perkembangan kesenian ini tidak mati. ”Karena biasanya Tayub dipentaskan pada malam hari, sehingga pada siang hari para group kesenian ini bisa mencari penghasilan lain, biasanya mereka adalah petani, tukang atau wirausawan yang mempunyai usaha kecil dan menengah lainnya” terang Suparno.

sumber : sragenholic 
 

Pengunjung Online

Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Daerah
Copyright © 2011. Berita Pulau Seribu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Lintas Daerah